Singkatan dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia. Sebuah organisasi mahasiswa yang berfaliasi kepada perjuangan NU. Berdirinya PMII merupakan amanat dari Konperensi Besar IPNU di Kaliurang, Jogjakarta pada 14-17 Maret 1960.
Konbes kala itu menetapkan untuk membentuk sebuah organisasi mahasiswa yang lepas dari IPNU, baik secara struktural organisasi maupun administratif. Dibentuknya panitia sponsor pendiri organisasi mahasiswa tersebut dengan tugas melaksanakan musyawarah mahasiswa nahdliyin se-Indonesia, dengan limit waktu satu bulan setelah keputusan itu. Dipilihlah 13 orang untuk menjadi perintis berdirinya organisasi baru tersebut. Diantaranya : Chalid Mawardi, Said Budairy, M. Sobich Ubaid, M. Makmun Syukri, Hilman, Ismail Makky, Moensif Nachrowi, Nuril Huda Suaidy, Laily Mansur, Abd Wahab Jailani, Hizbullah Huda, Chalid Narbuko dan Ahmad Husain.
Setelah melaksanakan musyawarah mahasiswa nahdliyin se-Indoneaia di Gedung Madrasah Mualimin NU Wonokromo (sekarang TPPNU Khadijah) Surabaya, serta berbagai persiapan yang dinilai penting selama 14-16 April 1960, maka pada tanggal 17 April 1960, PMII dideklarasikan. Proses deklarasi dilakukan di Balai Pemuda dalam sebuah resepsi yang mendapatkan perhatian besar massa mahasiswa, organisasi ekstra dan intra kampus, serta dihadiri oleh wakil-wakil golongan politik.
Musyawarah juga memutuskan pembentukan tiga orang formatur, yaitu Mahbub Djunaidi sebagai Ketua Umum, Chalid Mawardi sebagai Ketua Satu, dan Said Budairy sebagai Sekretaris Umum.
Sejak kelahirannya, PMII bernaung dibawah payung Partai NU. Posisinya tidak jauh beda dengan Banom dan Lembaga lain yang sudah ada sebelumnya sebagai organisasi pengkaderan. Namun sejak 14 Juli 1972 sikap itu berubah. Melalui Musyawarah Besar II di Murnajati, Lawang, Malang, PMII secara struktural telah berpisah dengan NU. Sikap independen itu terus berlangsung hingga sekarang.
Meski secara struktural PMII telah berpisah dengan NU, namun secara emosional hubungan itu tetap tak terpisahkan. Antara keduanya masih memiliki benang merah pemahaman ideologi, yaitu Ahlussunnah Waljamaah.
Lambang PMII diciptakan oleh Said Budairy dan Mars dibuat oleh Mahbub Djunaidi.
surveivor.blogspot.com
Minggu, 16 April 2017
Sejarah PMII
Singkatan dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia. Sebuah organisasi mahasiswa yang berfaliasi kepada perjuangan NU. Berdirinya PMII merupakan amanat dari Konperensi Besar IPNU di Kaliurang, Jogjakarta pada 14-17 Maret 1960.
Konbes kala itu menetapkan untuk membentuk sebuah organisasi mahasiswa yang lepas dari IPNU, baik secara struktural organisasi maupun administratif. Dibentuknya panitia sponsor pendiri organisasi mahasiswa tersebut dengan tugas melaksanakan musyawarah mahasiswa nahdliyin se-Indonesia, dengan limit waktu satu bulan setelah keputusan itu. Dipilihlah 13 orang untuk menjadi perintis berdirinya organisasi baru tersebut. Diantaranya : Chalid Mawardi, Said Budairy, M. Sobich Ubaid, M. Makmun Syukri, Hilman, Ismail Makky, Moensif Nachrowi, Nuril Huda Suaidy, Laily Mansur, Abd Wahab Jailani, Hizbullah Huda, Chalid Narbuko dan Ahmad Husain.
Setelah melaksanakan musyawarah mahasiswa nahdliyin se-Indoneaia di Gedung Madrasah Mualimin NU Wonokromo (sekarang TPPNU Khadijah) Surabaya, serta berbagai persiapan yang dinilai penting selama 14-16 April 1960, maka pada tanggal 17 April 1960, PMII dideklarasikan. Proses deklarasi dilakukan di Balai Pemuda dalam sebuah resepsi yang mendapatkan perhatian besar massa mahasiswa, organisasi ekstra dan intra kampus, serta dihadiri oleh wakil-wakil golongan politik.
Musyawarah juga memutuskan pembentukan tiga orang formatur, yaitu Mahbub Djunaidi sebagai Ketua Umum, Chalid Mawardi sebagai Ketua Satu, dan Said Budairy sebagai Sekretaris Umum.
Sejak kelahirannya, PMII bernaung dibawah payung Partai NU. Posisinya tidak jauh beda dengan Banom dan Lembaga lain yang sudah ada sebelumnya sebagai organisasi pengkaderan. Namun sejak 14 Juli 1972 sikap itu berubah. Melalui Musyawarah Besar II di Murnajati, Lawang, Malang, PMII secara struktural telah berpisah dengan NU. Sikap independen itu terus berlangsung hingga sekarang.
Meski secara struktural PMII telah berpisah dengan NU, namun secara emosional hubungan itu tetap tak terpisahkan. Antara keduanya masih memiliki benang merah pemahaman ideologi, yaitu Ahlussunnah Waljamaah.
Lambang PMII diciptakan oleh Said Budairy dan Mars dibuat oleh Mahbub Djunaidi.
surveivor.blogspot.com
Senin, 10 April 2017
Kiai Mas Alwi, Pendiri Nahdlatul Ulama yang Terlupa
Saat merebak isu “Pembaharuan Islam”(Renaissance), Kiai Mas Mansur, adik sepupu Kiai Mas Alwi, mempelajarinya langsung pada Muhammad Abduh, rektor Universitas al-Azhar, Mesir. Maklum, Kiai Mas Mansur berasal dari keluarga yang mampu secara material, sehingga dapat mencari ilmu hingga ke Aleksandria (Mesir) sana.
Kiai Mas Alwi yang bukan dari keluarga kaya pun, bertanya-tanya tentang apa yang sejatinya dicari Kiai Mas Mansur hingga ke negeri Mesir. Padahal Renaissance (pembaharuan) itu berasal dari Eropa. Maka ia pun berusaha mengetahui apa sebenarnya Renaissance itu ke Eropa, melalui Belanda dan Prancis-dengan menggabungkan diri dalam pelayaran.
Pada masa itu, orang yang bekerja di pelayaran mendapat stigma buruk di masyarakat dan memalukan bagi keluarga. Sebab pada umumnya pekerja pelayaran selalu melakukan perjudian, zina, mabuk, dan tindak asusila lainnya. Sejak saat itulah keluarga Kiai Mas Alwi mengeluarkannya dari silsilah keluarga dan ‘diusir’ dari rumah.
Setelah Kiai Mas Alwi berhasil mendapat jawaban dari kegelisahannya, ia pun kembali ke Hindia Belanda.
Setiba di tanah air, ia langsung dikucilkan oleh para sahabat, rekan sejawat, dan para tetangga. Tak patah arang, Kiai Mas Alwi membuka warung kecil di Jalan Sasak, dekat wilayah Ampel, demi memenuhi hajat hidupnya. Mengetahui ia telah pulang dari perantauan, Kiai Ridlwan pun datang menyambang.
“Kenapa sampean datang ke sini, Kang? Nanti sampean dicuci pakai debu sama para kiai lain, sebab warung saya ini sudah dianggap najis mughalladzah?”
Kiai Ridlwan malah balik bertanya.
“Dik Mas Alwi, sebenarnya apa yang sampean lakukan sampai pergi berlayar ke Eropa?”
“Begini, Kang Ridlwan. Saya ingin memahami apa sih sebenarnya Renaissance itu? Lah, Dik Mansur mendatangi Mesir untuk mempelajari Renaissance itu salah, sebab tempatnya ada di Eropa. Coba sampean lihat nanti kalau Dik Mansur datang, dia pasti akan berkata begini, begini dan begini...” (maksudnya adalah kembali ke al-Quran-Hadits, tidak bermadzhab, tuduhan bid’ah dan sebagainya)
“Renaisans di Mesir itu sudah tidak murni lagi, Kang Ridlwan, sudah dibawa makelar. Lha orang-orang itu mau melakukan pembaharuan apa dalam tubuh Islam? Agama Islam sudah sempurna. Tidak ada lagi yang harus diperbaharui. Al-Quran dengan jelas menyatakan":
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِيناً
“… Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni`mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu…” (QS. al-Maidah [5]: 3)
Inti dari perjalanan Kiai Mas Alwi ke Eropa adalah, Renaisans yang ada dalam dunia Islam adalah upaya pecah belah yang dihembuskan dunia Barat, khususnya Belanda dan Prancis. Kiai Ridlwan kembali bertanya.
"Dari mana sampean tahu?"
“Karena saya berhasil masuk ke banyak perpustakaan di Belanda."
“Bagaimana caranya sampean bisa masuk?”
“Dengan menikahi perempuan Belanda yang sudah saya Islam-kan. Dialah yang mengantar saya ke banyak perpustakaan. Untungnya saya tidak punya anak dengannya."
Setelah Kiai Mas Alwi membabarkan perjalanannya ke Eropa secara panjang lebar, maka Kiai Ridlwan berkata: “Begini, Dik Alwi, saya ingin menjadi pembeli terakhir di warung ini."
“Ya jelas terakhir, Kang Ridlwan, karena ini sudah malam."
“Bukan begitu. Sampean harus kembali lagi ke Nahdlatul Wathon. Sebab sudah tidak ada yang membantu saya sekarang. Kiai Wahab lebih aktif di Taswirul Afkar. Sampean harus membantu saya."
Keesokan pagi, sebelum Kiai Ridlwan sampai di Nahdlatul Wathon, ternyata Kiai Mas Alwi sudah tiba lebih dulu. Kiai Ridlwan yang masih kaget pun berkata:
“Kok sudah ada di sini?”
“Ya, Kang Ridlwan, tadi malam ternyata warung saya laku dibeli orang. Uangnya bisa kita gunakan untuk sekolah ini."
Kedua kiai muda tersebut kemudian kembali membesarkan nama sekolah Nahdlatul Wathon.
Makam Kiai Mas Alwi
Sampai saat ini, belum ditemukan pula data tentang kapan Kiai Mas Alwi wafat, yang jelas, makam beliau terletak di pemakaman umum Rangkah, yang sudah lama tak terawat--bahkan pernah berada dalam dapur pemukiman liar yang ada di tanah pekuburan umum.
KH Asep Saefuddin, Ketua PCNU Surabaya, pernah mengerahkan Banser guna menertibkan rumahrumah yang merambah ke makam Kiai Mas Alwi. Maka sejak saat itu, makam beliau mulai dibangun dan diberi pagar. Kini, setiap perhelatan Harlah NU, Pengurus Cabang NU Surabaya kerap mengajak MWC dan Ranting se-Surabaya untuk ziarah ke makam para Muassis, khususnya wilayah Surabaya.
Pertanyaan kita, mengapa beliau dikebumikan di pemakaman umum? Tak ada jawaban pasti. Kemungkinan terbesar, karena beliau telah dikeluarkan dari silsilah keluarganya.
Sebagian kecil Nahdliyin yang mengetahui fakta ini sempat mengusulkan agar makam beliau dipindah ke kawasan Ampel. Berita ini telah diterima oleh PCNU Surabaya dan akan ditindaklanjuti. Tetapi bila prosesnya menemukan jalan buntu, maka PCNU akan berencana memindah makam beliau ke kawasan makam Jl. Tembok, diletakkan di sebelah makam sahabatnya, Kiai Ridlwan Abdullah.
Di area makam tersebut telah dikebumikan pula beberapa tokoh NU, di antaranya adalah; KH Abdullah Ubaid dan KH Thohir Bakri (dua tokoh pendiri Ansor), Kiai Abdurrahim (salah seorang pendiri Jamqur atau Jam'iyah Qurra’ wa l-Huffadz), Kiai Hasan Ali (Kepala logistik Hizbullah), Kiai Amin, Kiai Wahab Turham, Kiai Anas Thohir, Kiai Hamid Rusdi, Kiai Hasanan Nur, dan beberapa kiai lain.
Sosok besar yang nyaris terpendam dalam kuburan sejarah ini, telah menanggung risiko serius dengan dikeluarkan dari daftar keluarga sekaligus hak warisnya. Namun ia tetap melanjutkan tekadnya meneliti akar persoalan umat Islam saat itu hingga sampai ke Benua Biru. Sudah sepantasnya Muslim Indonesia harus menyertakan nama Kiai Mas Alwi saat nama para Muassis NU lain disebut.
Semoga Allah mengganjar perjuangan Kiai Mas Alwi dan para Muassis NU sebagai amal jariyah mereka. Semoga Allah mengangkat derajat mereka dan memberi keberkahan kepada para pejuang NU saat ini, sebagaimana Allah telah melimpahkan keberkahan kepada mereka semua. Semoga juga Pemerintah saat ini tergerak menahbis Kiai Mas Alwi sebagai pahlawan bangsa Indonesia--setelah Kiai As'ad Syamsul Arifin--dari kalangan Nahdlatul Ulama. Amin ya Rabb l-'Alamin. Al-Fatihah...
http://www.nu.or.id/post/read/75944/kiai-mas-alwi-pendiri-nahdlatul-ulama-yang-terlupa
Kamis, 06 April 2017
H-2 Istighosah Kubro, GOR steril dari PKL
Minggu, 02 April 2017
RESMI DILANTIK, MWC NU SIDOARJO USUNG TEROBOSAN PRIORITAS
Selasa, 28 Maret 2017
Perkuat Kader PAC GP Ansor Sidoarjo Gelar DKD
SURVEIVOR.COM, Sidoarjo - Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda Ansor kecamatan Sidoarjo menggelar Diklat Kepemimpinan Dasar (DKD) untuk Ansor dan Banser sekaligus Pelantikan Ranting se-kecamatan Sidoarjo di Gedung Majelis Wilayah Cabang (MWC) NU Pacet-Mojokerto.
Dengan mengusung tema “kerja cerdas untuk umat”, Di luar materi ke-Ansoran, DKD yang berlangsung dari Minggu 26 Maret s/d 27 Maret tersebut menghadirkan narasumber mumpuni, di antaranya Rais Syuriah NU Sidoarjo yang mengajak kader untuk memahami sejarah aswaja sebagai wujud jawaban atas tantangan zaman.
Disamping itu menurut Ketua Panitia DKD Nasrun Affandi, kegiatan tersebut merupakan awal kebangkitan GP Ansor Kecamatan Sidoarjo, dan Kabupaten Sidoarjo umunya.
Dalam isi sambutan Yusak Arifin Ketua PAC GP Ansor Sidoarjo Kota “Kegiatan ini adalah bukti keseriusan kita untuk menggerakan pemuda Nahdatul Ulama serta mewujudkan cita cita perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia,”
"Dengan diadakannya DKD, peserta jangan berhenti sampai disini. Perjuangan dalam mejaga tradisi dan amaliyah NU harus diawali dari tingkat yang terkecil yakni Ranting/setingkat Desa," imbuh Yusak.
Peserta DKD diharapkan mampu mengaplikasikan tradisi Aswaja NU diwilayahnya masing-masing berupa kegiatan Majelis, Dzikir, Shalawat (MDS) Rijalul Ansor. “Termasuk pengambilan sertifikat DKD, peserta harus mampu menghidupkan Majelis, Dzikir, Shalawat (MDS) Rijalul Ansor di rantingnya masing-masing,” ujar Faishol Latif, wakil ketua PC GP. Ansor Sidoarjo bidang pengkaderan, sebagaimana siaran pers nusidoarjo.org pada Senin (27/03).
Hal ini dituturkan Ketua PC GP. Ansor Kabupaten Sidoarjo H. Rizza Ali Faizin, ini merupakan cikal bakal penjaga dan pengawal NKRI, sebagaimana aksi radikalisme yang terjadi di Gedangan – Sidoarjo. Oleh karena itu para kader diharuskan lebih jeli dalam membaca dan menyaring informasi sosial media.
“GP Ansor merupakan gerakan yang menjunjung tinggi akhlakul karimah dalam mengejawantahkan setiap pergerakannya, “pungkas Mantan Sekretaris Ansor Sidoarjo.
Kegiatan yang berlangsung selama dua hari ini berisikan materi tentang ke-aswaja-an, ke-ansoran, serta caraka malam yang memberikan gemblengan terhadap peserta yang diharapkan dapat memberikan mental dalam mengawal NKRI dan menjaga tradisi nahdliyin.
Pembukaan kegiatan tersebut dihadiri Khoirul Anam selaku ketua Satkorcab Ansor Sidoarjo, dan Sanusi Koramil TNI sebagai narasumber kebangsaan. Sementara penutupan diakhiri dengan Pelantikan dan Pembaiatan yang diikuti sebanyak 56 peserta dengan harapan akan muncul generasi baru penerus perjuangan Nahdlatul Ulama.


Cak Imin Seruhkan Bershalawat
Selasa, 21 Maret 2017
Guru honorer wajib mendapat SK Daerah
Kamis, 09 Maret 2017
Jadwal pencairan TPP dan Triwulan I,II,III dan IV tahun 2017
Selasa, 28 Februari 2017
BELAJAR DARI LEMBU PETENG [Tokoh Lokal Yang Terlupakan]
Disebutkan, konon Lembu Peteng adalah anak hilang dari pasangan Raja Brawijaya dan nyai Wandan Kuning. Kenapa anak hilang? Gini ceritanya.
Konon, Raja Brawijaya pernah mengalami sakit yang cukup berat, tidak sembuh sembuh dalam waktu yang cukup lama. Berbagai upaya dilakukan, hingga akhirnya mendatangkan para thabib (orang pinter) dari berbagai daerah kekuasannya. Hasilnya, para thabib merekomendasikan untuk bisa sembuh dari penyakitnya, sang Raja harus kawin dengan Wandan Kuning.
Rekomendasi para thabib, bagi raja Brawijaya cukup berat dilakukan, mengingat nama Wandan Kuning adalah perempuan yang dikenal bukan turunan bangsawan, sekaligus wajahnya tidak berparas cantik. Tapi, keinginan sembuhnya, tetap mendorong Brawijaya untuk menikahi Wandan Kuning. Saatnya dalam waktu yang ditentukan akhirnya Brawijaya betul-betul menikahi Wandan Kuning, meskipun dengan sangat berat.
Setelah dapat tiga hari, sungguh terjadi keajiban luar biasa, ternyata penyakit Brawijaya berangsur angsur pulih. Dalam waktu yang tidak begitu lama, badan Brawijaya sembuh total dari penyakit yang disandangnya sebagaimana sedia kala. Bukan itu saja, dalam waktu yang tidak lama pula akan lahir si jabang bayi dari perut Istri sebab Wandan Kuning, istri Brawijaya, juga dalam kondisi hamil tua.
Perjuangan Anak Hilang
Seiring perjalanan waktu, Wandan Kuning akhirnya melahirkan anak laki-laki yang berparas ganteng dari pernikahannya dengan Raja Brawijaya, yang diberi nama Raden Bunden Kejawen.
Kehadiran anak, mestinya menjadi kebahagiaan keluarga. Tapi, bagi Brawijaya kehadiran putranya menjadi bencana sebab ia merasa malu, apalagi di lingkungan kerajaannya sebab Raden Bunden, putranya sendiri lahir dari perkawinan Brawijaya dengan perempuan yang dikenal Hina dan jelek.
Dari pada harus merasa malu diharapan rakyat dan tentaranya. Serta tanpa berpikir panjang lebar, Brawijaya terus membawa istrinya, Wandan Kuning, berikut anaknya Raden Bunden keluar dari area kekuasaannya menuju sebuah desa di wilayah madura, yang dikenal dengan nama Karang Jembu. Di desa ini, keduanya dititipkan kepada salah seorang petani yang miskin. Bersama petani ini, raden Bunden dan ibunya hidup, yang dalam kesehariannya sebagai petani hingga ia muda, tetap kehidupannya memprihatinkan; miskin dan terjebak dalam polah tingkah hidup yang buruk. Dari sini, kelak Raden Bunden dikenal di lingkungannya dengan sebutan "Lembu Peteng"/kerbau hitam, sebuah nama yang menjadimsimbol prilakunya.
Perasaan malu mulai muncul dari Lembu Peteng atas kondisi yang dialami. Bagaimana tida malu, ia putra raja yang dikenal memiliki kekuasaan yang luas, tapi hidupnya dalam kesengsaraan. Sungguh malu, itu yang tertanam dalam lubuk hati terdalam Lembu Peteng hingga akhirnya ia memilih keluar berkelana dari desa Karang Jembu dan menuju area pegunungan, yang mashur dikenal dengan sebutan gunung Kadiyeng.
Di gunung Kadiyeng, Lembu Peteng meratapi nasibnya, sekaligus melakukan olah batin (riyadhah), sambil menyiksa dirinya dengan sedikit makan dan mengurangi tidur; dengan harapan ia memperoleh kekuasaan yang mampu mengendalikan pulau Jawa, sebagaimana kekuasaan ayahnya, Brawijaya.
Sungguh langkah bertapa model Lembu Peteng menarik, hingga dalam waktu yang tidak lama, ia mendengar "suara asing/suara tanpa fisik", yang mengatakan agar Lembu Peteng keluar dari pertapaannya menuju sebuah desa tertentu, untuk mencari seorang guru. Jika bertemu, kata suara tadi, berilah pelayan kepada sang Guru dengan total, ikhlas dan ikutilah segala perintahnya.
Singkat cerita, Lembu Peteng keluar dari pertapaannya. Ia melewati pegunungan, naik dan turun perbukitan. Menelusuri sawah dengan keluar masuk kampung-kampung lain. Pastinya, semua dilakukan dalam kondisi Lembu Peteng mengurangi ke enaan makan, minum dan tidur seadanya. Ia berharap kelak memiliki kedudukan yang mulia dan dimuliakan oleh masyarakatnya.
Setelah berjalan menelusuri pedesaan cukup lama, Lembu Peteng akhirnya bertemu dengan Ki Tarub. Ia pun mengenalkan dirinya. Tapi, nampaknya Ki Tarub memiliki mata batin yang luar biasa, ia mengetahui sebenarnya Lembu Peteng itu siapa?, setelah melihat paras wajahnya. Tanpa berpikir panjang, Lembu Peteng akhirnya berkata: aku menyerahkan jiwaku untuk menjadi santri dan berkhitmah total kepada panjenengan Ki Tarub, dengan harapan kelak aku memperoleh keberkahan hidup.
Keinginan Lembu Peteng disambut gembira oleh Ki Tarub, apalagi Ki Tarub tahu betul bahwa Lembu Peteng adalah putra Brawijaya yang hilang, dari istri Wandang kuning. Lantas, keduanya terjadi dialog sebagai berikut:
Ki TARUB: wahai anakku, jika anda berkhidmah padaku, maka kerjakanlah dengan benar dan sungguh sungguh. Dan jangan lupa, niat riyadhah batin dan tirakat untuk memperoleh impianmu menjadi raja dan penguasa.
LEMBU PETENG: aku akan mendengarkan dan taat terhadap perintah panjenengan Ki Tarub sebab inilah yang menjadi keinginanku. Dan, sungguh penerimaan panjenengan sebagai murid/santri adalah puncak dari kebahagiaanku agar kelak aku mendapat kehidupan yang berkah atas doa penjenengan setiap saat.
Setelah itu, Lembu Peteng berkhitmah betul kepada Ki Tarub dengan penuh ketulusan, tanpa merasa dirinya adalah anak orang besar. Totalitas berkhitmah ini dalam perjalanannya, Lembu Peteng _selaku murid_ mendapat bimbingan spiritual langsung dari Ki Tarub selaku mursyidnya. Kematangan batinnya dari hari ke hari semakin tumbuh dan matang, bahkan menariknya selalu mendapat pantauan langsung dari Ki Tarub.
Kerja keras, totalitas belajar dan ketulusan khitmah Lembu Peteng kepada Ki Tarub tidak sia sia, hingga akhirnya impiannya terkabulkan sebab dalam perjanan waktu Lembu Peteng dikenal sebagai Panglima yang memegang teritorial Wilayah Madura. Bukan itu saja, dengan ketulusannya khitmah pada Gurunya Ki Tarub, Lembu Peteng menikah dengan Nawang Sih, yang merupakan putri Ki Tarub.
Oleh karenanya, Lembu Peteng adalah pelajaran bagi kita semua. Untuk menjadi hebat, tidak boleh menggunakan jalan pintas agar menuai keberkahan. Lembu Peteng menjadi panglima, tidak mengandalkan trah orang tuanya, Raja Brawijaya. Ia berproses secara tuntas, sambil totalitas mendekat sang Pemilik kekuasaan sejati, yaitu Allah Swt.
Menata batin dan belajar soal hakekat memberikan pelayanan kepada yang lain adalah salah satu potret pelajaran hidup dari Lembu Peteng. Bahwa itu semua, bila dilakukan dengan tulus, tidak sembrono apalagi merebut kekuasaan dunia dengan mengorbankan rakyat, akan mengantarkan kepemimpinan itu betul betul maslahah.
Sekali lagi, Lembu Peteng menjadi panglima dilalui dengan kerja keras dan tirakat batin, bukan jalan pintas. Karenanya, jangan berpikir jalan pintas, yang banyak mengorbankan pihak lain, dipandang sebagai jalan terbaik sebab keberkahan Lembu Peteng muncul dari totalitas proses, bukan berpikir total pada hasil. Semoga Banyak model Lembu Peteng di Negeri ini, khususnya dalam kepemimpinan bangsa. Dan akhirnya, Lembu Peteng [kerbau hitam] menjadi Lembu Pote [kerbau putih]. Diakhir cerita, Mbah Fadhol mengutip syair:
بقدر الكد تكسب المعالى# فمن طلب العلى سهر الليالى.
Tidak ada kedudukan terhormat diperoleh, tanpa kerja keras.
Jika, menginginkannya, kurangi tidur malam.
.......................
[Diulas dari Kitab Ahlal Musamarah fi Hikayah Al-Auliya' Al-Asyrah/Manisnya Bekadang : Hikayat Wali Sepuluh, karya Mbah Fadhol Bangilan Tuban, santri Hadlratusysyaikh Hasyim Asy'ari Jombang], al_Fatihah, untuk beliau berdua.
https://goo.gl/images/blBJ5X
......................
Desa Karang Jembu dan Gunung Kadiyeng. Kalau memang ada di wilayah Madura, sebenarnya berada di kecamatan mana? Tolong yang tahu beri komentar, trima kasih
Rabu, 15 Februari 2017
Instal AMIDuOS di Windows
Minggu, 16 Oktober 2016
Kisah Doa/Syair Abu Nawas: Al I’tiraaf teks Arab, Latin, dan Terjemah

Abu Nawas adalah pujangga Arab dan merupakan salah satu penyair terbesar sastra Arab klasik. Penyair ulung sekaligus tokoh sufi ini mempunyai nama lengkap Abu Ali Al Hasan bin Hani Al Hakami dan hidup pada zaman Khalifah Harun Al-Rasyid di Baghdad (806-814 M). Oleh masyarakat luas Abu Nawas dikenal terutama karena kecerdasan dan kecerdikan dalam melontarkan kata-kata, sehingga banyak lahir anekdot jenaka yang sarat dengan hikmah.
إِلهِي لََسْتُ لِلْفِرْدَوْسِ أَهْلاَ# وَلاَ أَقوى عَلَى النّارِ الجَحِيم
Ilaahii lastu lil firdausi ahlaan wa laa aqwaa ‘alaa naaril jahiimi
Wahai Tuhanku ! Aku bukanlah ahli surga, tapi aku tidak kuat dalam neraka Jahim
فهَبْ لِي تَوْبَةً وَاغْفِرْ ذنوبِي # فَإنّكَ غَافِرُ الذنْبِ العَظِيْم
Fa hablii taubatan waghfir zunuubii fa innaka ghaafirudzdzambil ‘azhiimi
Maka berilah aku taubat (ampunan) dan ampunilah dosaku, sesungguhnya engkau Maha Pengampun dosa yang besar
ذنوبِي مِثلُ أَعْدَادٍ الرّمَالِ # فَهَبْ لِي تَوْبَةً يَاذَاالجَلاَل
Dzunuubii mitslu a’daadir rimaali fa hablii taubatan yaa dzaaljalaali
Dosaku bagaikan bilangan pasir, maka berilah aku taubat wahai Tuhanku yang memiliki keagungan
وَعُمْرِي نَاقِصٌ فِي كُلِّ يَوْمٍ # وَذنْبِي زَائِدٌ كَيفَ احْتِمَالِي
Wa ‘umrii naaqishun fii kulli yaumi wa dzambii zaa-idun kaifah timaali
Umurku ini setiap hari berkurang, sedang dosaku selalu bertambah, bagaimana aku menanggungnya
َإلهي عَبْدُكَ العَاصِي أَتَاكَ # مُقِرًّا بِالذنوبِ وَقَدْ دَعَاك
Ilaahii ‘abdukal ‘aashii ataaka muqirran bidzdzunuubi wa qad da’aaka
Wahai, Tuhanku ! Hamba Mu yang berbuat dosa telah datang kepada Mu dengan mengakui segala dosa, dan telah memohon kepada Mu
َفَإِنْ تَغْفِرْ فَأنْتَ لِذاك أَهْلٌ # فَإنْ تَطْرُدْ فَمَنْ نَرْجُو سِوَاك
Fa in taghfir fa anta lidzaaka ahlun wa in tathrud faman narjuu siwaaka
Maka jika engkau mengampuni, maka Engkaulah yang berhak mengampuni,
Jika Engkau menolak, kepada siapakah lagi aku mengharap selain kepada Engkau?
Ilahi lastu lil firdausi ahla
Wala aqwa ‘alan naril jahimi
Fahabli taubatan wagfir dzunubi
Fainnaka ghafiru dzambil ‘adhimi
Wahai Tuhanku aku bukanlah ahli surga firdaus
Namun aku takkan kuat menahan panasnya api neraka
Maka terimalah tobatku dan limpahkanlah ampunan atas dosaku
Karena sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dosa-dosa besar
LIRIK syair di atas sangatlah populer, utamanya di kalangan penyanyi dan penikmat lagu-lagu nasyid. I’tiraf atau pengakuan adalah judul yang diberikan kepada syair di atas. Mayoritas tim nasyid melantunkan dan menggubah lirik itu sedemikian rupa dalam album rekamannya, seperti Raihan, Mupla, dan banyak lagi.
Itulah syair yang dikenal sebagai warisan penyair superpopuler Irak, Abu Nawas. Meskipun ada juga pendapat, bahwa syair itu bukanlah gubahan Abu Nawas, tapi karya seorang sahabat Rasulullah Saw, Abdullah bin Rawahah.
Menurut sebuah riwayat, Abdullah bin Rawahah saat ingin menjumpai sahabatnya, Abdurrahman bin Auf. Setiba di rumah Abdurrahman, istri Abdurrahman membuka pintu dan betisnya terlihat karena hembusan angin yang mengingkap busananya.
Kejadian itu membuat Abdullah bin Rawahan jatuh pingsan karena merasa kaget dan berdosa. Setelah sadar, ia mengasingkan diri di sebuah perbukitan. Selama tiga hari, ia baru ditemukan oleh Rasulullah dan para sahabatnya, ketika terdengan syair Al-I’tiraf dari Abdullah bin Rawahah.
Sumber lainnya menyebutkan syair tersebut dari seorang Sahabat yang bertaubat, dikisahkan ketika berangkat berjihad fiisabilillah, istrinya ditinggalkan dalam kondisi hamil, karena lama kepergiannya hingga bertahun-tahun saat Sahabat ini pulang ia menjumpai istrinya bersama dengan seorang pemuda yang tiada ia kenali. Padahal senjata perang masih ia bawa, sehingga lantas pemuda yang tiada ia kenali itu dibunuhnya. Istrinya kemudian menceritakan kejadian sebenarnya bahwa yang ia bunuh adalah puteranya sendiri, sehingga timbullah penyesalan mendalam, lantas Sahabat tersebut mengasingkan diri dalam goa, siang malam ia meratapi kesalahannya hingga terlahirlah syair ini. Sumber lain menyebutkan, syair itu adalah karya Syekh Al-Sya’roni.
Terlepas dari mana yang benar, yang jelas Abu Nawas (sering pula disebut Abu Nuwas) adalah legenda, bernama asli Abu Hani Muhammad bin Hakam. Sastrawan dan penyair humoris ini diyakini hidup masa pemerintahan Khilafah Abbasiyah (786-890 M), era pemerintahan Sultan Harun Al-Rasyid Al-Abassi, dan meninggal di Bagdhad tahun 810 M. Ia dilahirkan di kota Al-Ahwaz, Persia, dan dibesarkan di Kota Basrah, Irak.
Nama Abu Nawas berarti “Bapak Si Rambut Ikat”, merujuk pada dua ikatan rambut panjangnya yang sampai sebahu. Semasa kecil, Abu Nawas “dijual” oleh ibunya kepada seorang penjaga toko dari Yaman, Sa’ad al-Yashira.
Semasa remaja, ia bekerja di sebuah toko di Basrah, Irak. Saat itulah, ketampanan dan kecerdasannya menarik perhatian seorang penyair berambut pirang, Waliban Ibnu Al-Hubab. Abu Nawas muda pun dibeli dan dimerdekakannya. Al-Hubab mengajari Abu Nawas ilmu ketuhanan (teologi), bahasa Arab, dan puisi. Abu Nawas lalu belajar juga kepada Khalaf Al-Ahmar.
Popularitas Abu Nawas menanjak karena kejenakaan syair-syair yang diciptakannya, sebuah gaya puisi yang bertentangan dengan tradisi syair di gurun pasir saat itu, ditambah dengan perilakunya yang suka mabuk (minum khamr) dan sejumlah syairnya yang mengeritik Al-Quran yang mengharamkan khamr.
Demikianlah, sebelum mendapatkan hidayah dan bertobat, Abu Nawas dikenal sebagai penyair kontroversial. Bahkan buku-buku sejarah menyebut Abu Nawas sebagai sastrawan cabul dan kotor.
Dalam keadaan mabuk karena meminum khamr, sambil ‘mengigau’ atau berbucara tak karuan, ia sering menggubah puisi yang membangga-banggakan minuman keras (puisi khumrayat). Ia sering keluar masuk penjara karena puisi-puisinya itu.
Karena karya-karya dan perilakunya yang tidak bermoral, sebagian ulama saat itu berpendapat, Abu Nawas adalah fasik (pelaku maksiat) bahkan kafir. Simak saja sebuah bait syairnya:
“Aku menyukai apa-apa yang Al-Quran larang
Dan aku menjauhkan diri dari apa-apa yang dibolehkannya”
Tidak hanya itu, Abu Nawas juga disebut-sebut sebagai gay, homoseksual, hal yang terasa asing di telinga kita. Tapi sebuah bait syarinya mengatakan demikian, misalnya: “Demi seorang pria muda, aku rela tinggalkan wanita”.
Namun demikian, Abu Nawas pernah kawin dengan salahsatu wanita yang masih familinya, tapi keesokan harinya perempuan itu diceraikannya karena ia tidak mencintainya. Abu Nawas juga diceritakan pernah mencintai seorang perempuan, bernama Jinan. Sayang, cintanya tak sampai.
TIDAK MAU JADI LALAT
Kehidupan Abu Nawas berubah total menjadi Islami, menurut suatu riwayat, setelah suatu malam, pada bulan Ramadhan (diyakini sebagai Malam Qodar), dalam keadaan “teler” ia didatangi seseorang tak dikenal. Orang itu berkata: “Ya Abu Hani! Idza lam takun milhan tuslih, fala takun zubabatan tufsid”. Artinya, “Hai Abu Hani, jika engkau tak mampu menjadi garam yang melezatkan hidangan, janganlah engkau menjadi lalat yang menjijikan merusak hidangan itu”.
Kata-kata itu sangat berkesan pada diri Abu Nawas. Ia menyadari kesalahannya selama ini, merasa dirinya bukan garam, tapi lalat. Ia pun bertobat dan meninggalkan perilaku tidak Islaminya. Ia menjadi seorang ahli ibadah, rendah hati, rajin i’tikaf di masjid, dan jarang berbicara.
Meski demikian, ia tetap menggubah syair. Namun, syair-syairnya berganti warna, menjadi syair-syair dzikir dan senandung doa. Salah satu karyanya yang paling terkenal hingga kini, dijadikan senandung di pesantren-pesantren dan nasyid, adalah syair Al-I’tiraf di atas.
Menurut sebuah riwayat, suatu ketika, beberapa kawan Abu Nawas satu “geng” dulu, mendatanginya saat sedang i’tikaf di sebuah masjid.
“Apa yang keluar dari bibirmu sekarang?” ejek kawan-kawannya.
“Ayat-ayat Al-Quran,” jawab Abu Nawas, kalem.
“Yang kau pikirkan di kepalamu?”
“Kemahaagungan Allah yang sudah mengubah manusia buruk seperti kalian menjadi manusia yang baik seperti aku sekarang.”
“Kau habiskan malam-malammu dengan apa?”
“Dengan mendekatkan diriku yang hina dina ini kepada Dzat Yang Mahamulia, yaitu Allah SWT.”
“Lalu siang-siangmu keluyuran ke mana?”
“Ke gurun dan samudera petunjuk-Nya yang penuh rahmat dan ampunan. Aku tak akan tersesat di situ, karena firman-firman-Nya amat jelas,” kata Abu Nawas.
SASTRAWAN JENAKA
Abu Nawas dikenal luas bukan saja di dunia Islam, tapi juga dunia Barat. Kisah-kisah jenakanya sangat digemari berbagai kalangan. Hebatnya, kisah lucu Abu Nawas seakan tak pernah habis.
Selalu ada cerita lucu yang baru hingga akhirnya ia dikenal dengan seorang humoris yang sangat cerdas. Bahkan disebutkan, Khalifah Harun Al-Rasyid yang dikenal sebagai khalifah Bani Abasiyah paling pintar, tak pernah berhasil mengalahkannya.
Syair I’tiraf sendiri mengandung kejenakaan, tapi bukan senda-gurau. Simak saja liriknya: “Aku bukanlah ahli surga firdaus, tapi bukan pula orang yang kuat menahan panas api neraka”. Kalau diartikan secara harfiah, doa itu memang agak lucu: masuk surga tak pantas, masuk neraka tidak kuat.
Meski jenaka, dalam literatur Islam, Abu Nawas lebih dikenal sebagai tokoh sastra dari pada seorang ‘pelawak’. Lebih dari itu, sebuah sumber juga menyebutkan, ternyata petualangan Abu Nawas bukan dengan Harun Al-Rasyid, melainkan dengan khalifah setelahnya, Muhammad Al-Amin, putra Harun. Bahkan ada yang mengatakan, Abu Nawas tidak pernah bertatap muka dengan Harun Al-Rasyid.
Terlepas dari mana yang benar, yang jelas Abu Nawas dikenal sebagai sastrawan dan penyair terhebat pada masanya. Bahkan sejarahwan Ibnu Arabi mengatakan, “Telah aku bandingkan syair Abu Nawas dengan yang lain, ternyata tidak aku temukan syair seindah miliknya”.
Tidak banyak karya Abu Nawas yang bisa ditemukan. Pasalnya, lembaran-lembaran syairnya dibakar habis setelah ia bertobat.
“Aku takut setalah aku mati nanti, masih tersisa satu dari syairku. Oleh karena itu aku membakarnya” kata Abu Nawas ketika ditanya oleh salah seorang temannya. Apalagi Abu Nawas sendiri tidak pernah mengumpulkan syair-syairnya. Wallahu a’lam.
Survei Terbaru : Tingkat Literasi Indonesia di Dunia Rendah
Indonesia menempati ranking ke 62 dari 70 negara berkaitan dengan tingkat literasi, atau berada 10 negara terbawah yang memiliki tingkat li...
-
Indonesia menempati ranking ke 62 dari 70 negara berkaitan dengan tingkat literasi, atau berada 10 negara terbawah yang memiliki tingkat li...
-
Sebelumnya kabinet trisakti ini pernah digunakan oleh soekarno, namun gagal. Apakah pemerintahan baru jokowi-jk bisa menerapkannya! Padahal ...

