Kamis, 26 Agustus 2021
Survei Terbaru : Tingkat Literasi Indonesia di Dunia Rendah
Rabu, 02 Mei 2018
Politik, Pasar, dan Ideologi
Jakarta - Ideologi politik kita sering berbenturan dengan berbagai kepentingan, baik dalam ranah privat maupun publik. Pertentangan antara dua kutub kepentingan ini bisa menjadi salah satu penyebab terciptanya situasi chaosdalam tatanan sosial.
Tanpa disadari, kita semua yang bermukim di balik sistem demokrasi sedang terjerembab dalam situasi serupa. Konflik horisontal maupun vertikal rentan terjadi dalam dunia perpolitikan.
Dengan adanya konflik seperti ini, maka unsur normatif negara yang legitim sifatnya sering menjadi petaruh dalam menetralisasi situasi sosio-politis. Segala bentuk relasi sosial kemudian digadai pada pola laku politis yang labil. Tak dipungkiri bahwa animo politik seperti ini lambat-laun menciptakan distorsi dalam ruang gerak publik.
Penyimpangan bisa menjadi penanda awal bagaimana ideologi politik kita mudah mengalami disorientasi. Segala bentuk norma, instruksi, dan rancangan dalam misi politis akan mangkir dalam sebuah sistem negara yang stagnan sifatnya. Bahkan psikologi politik seperti ini akan mereduksi sistem demokrasi bangsa yang sah dan integral.
Perhelatan kontestasi politik yang semakin dekat, membuat dunia politik makin hingar-bingar, ibarat produk komersial yang dijajakan ke tengah publik. Bukan hanya iklan politik yang nampak "terselubung" melalui model-model pencitraan para kontestannya, berbagai lembaga survei juga mulai menawarkan jasa-jasa politik mereka untuk membantu mendongkrak citra politik siapapun yang membutuhkannya. Berapa banyak lembaga survei yang merilis "produk politik"-nya yang disesuaikan dengan pesanan, menyurvei berbagai macam hal yang penting bisa mengubah opini publik.
Survei sepertinya telah menggiring opini publik untuk menjauhkan politik dari nilai-nilai ideologis berpolitik itu sendiri, mengarahkannya sekadar fokus pada bentuk-bentuk artistik politik. Isu politik bahkan direduksi menjadi semacam "produk komersial" yang diperjualbelikan. Kita tahu, bahwa isu-isu tertentu yang berkembang dalam masyarakat, seperti kebangkitan komunisme, politisasi agama, atau kenyataan korupsi lalu dimanipulasi menjadi dapat bernilai ekonomis dan dijual sebagai produk politik untuk kepentingan pragmatisme sesaat. Jarak yang semakin dekat dengan pagelaran kontestasi membuat berbagai lembaga survei maupun kontestan politik laku keras dan banyak diminati publik yang cenderung pragmatis dalam memandang dunia politik.
Jika kita memperhatikan berbagai lembaga survei, tampak jelas mereka memperjualbelikan produk politiknya, dan tentu saja bekerja sama dengan media, bagaima kemudian sebuah hasil survei dapat dengan cepat mempengaruhi opini publik. Masyarakat tentu saja akan lebih mudah memahami lewat atraksi survei yang dipublikasikan media dengan kekuatan artistiknya, bukan pada pesan politiknya itu sendiri. Tak jarang, sebuah rilis survei yang dipublikasikan, mengangkat citra politik pihak tertentu, dan disisi lain menjatuhkan dan memberangus pihak lainnya yang dianggap sebagai lawan politik pemesan survei tersebut. Mirip dengan persaingan yang terjadi dalam dunia bisnis, komersialisasi dunia politik saat ini adalah sebuah keniscayaan.
Dunia politik saat ini tak ubahnya seperti pasar (market) yang di dalamnya marak transaksi jual-beli beragam kepentingan. Produk politik bisa dijual melalui lembaga-lembaga survei yang ada dengan tentu saja berlaku sebuah konsekuensi, semakin bonafid sebuah lembaga survei, maka semakin mahal biaya pembuatan produk politiknya. Proses komersialisasi seperti ini justru semakin menegaskan suburnya praktik politik "dagang sapi" di antara para pelaku-pelaku usaha politik dengan berbagai individu atau kelompok dalam sebuah lembaga politik. Masing-masing pihak berupaya memaksimalkan keuntungan dan kepentingannya sendiri-sendiri.
Kondisi seperti ini semakin menjauhkan politik dari sebuah upaya dialektika yang dinamis, baik pertukaran ide ataupun diskusi yang cenderung mendekatkan ikatan-ikatan ideologis antara masyarakat dan partai politik (parpol). Kontestan individu atau parpol cukup menyewa lembaga survei atu kontestan politik untuk mengemas kepentingannya menjadi sebuah "produk politik" yang bernilai jual di hadapan masyarakat. Padahal, politik dalam tataran idealnya sangat penting dalam proses pembangunan masyarakat, bukan sekadar bagaimana agar politik lebih berorientasi pasar: mengeruk keuntungan dengan cara mengeksploitasi isu-isu politik sehingga bernilai komersial dan mampu "dijual" ke khalayak publik.
Sulit bagi saya mempercayai lembaga survei yang benar-benar "bebas" dari kepentingan apalagi dengan dalih independen hanya ingin mengungkap "kebenaran politik" secara transparan dan mempersilakan publik untuk menilainya. Wajar jika dalam banyak hal muncul kekecewaan dari berbagai kalangan kepada hasil rilis lembaga survei yang sarat bias kepentingan politik dan condong menjadi produsen politik dari pihak-pihak berkepentingan yang membiayainya.
Anda boleh setuju ataupun tidak terhadap lembaga survei, karena tidak begitu berpengaruh terhadap kebaikan dunia politik. Pasalnya, komersialisasi dunia politik tak terbantahkan di tengah menguatnya aspek kapitalisasi yang mengejar berbagai keuntungan ekonomis, tak peduli lagi soal ideologi, nilai-nilai atau fatsoen politik yang masih dipegang teguh oleh sebagian masyarakat. Dalam politik tak lagi ditemukan loyalitas, karena komersialisasi dunia politik berupaya mencari mitra-mitra yang lebih menguntungkan dirinya sendiri. Jika sudah dianggap "mengganggu" dan "membahayakan" produk politik yang sedang mereka jual, seorang loyalis sekalipun bisa didepak karena tidak memberi keuntungan ekonomis apapun.
Lembaga survei dan semacamnya menciptakan persaingan semakin bebas dan terbuka dalam berbagai interaksi di dunia politik. Kenyataan ini bahkan mendorong iklim investasi politik tidak lagi murah, bahkan seringkali menjadi beban utang yang dilunasi dengan korupsi oleh banyak para aktor politik yang memenangkan kontestasi. Mereka menjadi semakin pragmatis, mengeruk keuntungan pribadi dari jalur-jalur kekuasaan yang diperolehnya, bukan lagi semakin menguatkan ideologi politik yang dibawanya yang dipakai sebagai "alat" membangun masyarakat.
Kita tentu merasakan, tak adanya ruh politik yang bersemayam dalam ideologi para kontestan, yang ada pragmatisme sesaat, persaingan yang tak sehat, menggeser ide-ide politik yang berasaskan kesejahteraan rakyat menjadi sekadar transaksi ekonomi yang saling menguntungkan. Masih percaya lembaga survei di tengah era komersialisasi dunia politik?
Oleh : Rahmat Asmayadi
Sumber : Kolom Opini DetikNews
Senin 12 Februari 2018, 13:09 WIB
Jumat, 27 April 2018
Dalam Romantisme Kartini - DUTA MASYARAKAT
Beberapa nama tokoh perempuan perjuangan juga menghiasi sejarah bangsa kita, Tribuwana tungga dewi (memerintah kerajaan Majapahit), Christina Martha Tiahahu dari Maluku , Cut Nyak Dhien dan Cut Nyak Meutia, dua srikandi Aceh , dengan berbagai fakta sejarah di atas ternyata jauh sebelum Kartini banyak tokoh perempuan yang berhasil mengambil peran berjuang untuk memerdekankan bangsa Indonesia.
Diera zaman perjuangan ada nama pejuang sosial, R.A. Kartini beliau lahir tanggal 21 April 1879 dan meninggal pada 17 September 1904 berati sudah hampir 112 tahun lamanya wafatnya pejuang perempuan tersebut. Akan tetapi namanya masih dikenal, dan hari lahirnya pun selalu diperingati setiap tahunnya sebagai pejuang Perempuan.
Walaupun Kartini Pejuang Perempuan tersebut wafat di usia yang cukup muda di usia 25 tahun, akan tetapi beliau sudah menorehkan sejarah dan dikenang dan kita selalu memperingati hari lahir ibu kita kartini tersebut. Perjuangan Kartini bisa kita jadikan sebagai pijakan tentang bagaimana seharusnya perempuan berperan dalam kehidupannya.
Setiap memasuki bulan April, masyarakat Indonesia terutama kaum perempuannya dipastikan akan hanyut dalam euphoria `Kartini'. Yah, karena bertepatan dengan tanggal 21 April, bangsa kita selalu memperingati Hari Kartini. Kartini merupakan pahlawan perempuan Indonesia yang dikenal melalui spirit emansipasi perempuannya, dan karena spiritnya tersebut Kartini menjadi berjasa bagi perempuan-perempuan Indonesia.
Konstruksi kepatutan dalam masyarakat yang meletakkan peran perempuan hanya pada ranah domestik, telah memasung kaki perempuan dari kesempatan untuk berekspresi. Sepatutnya perempuan yang berusia dua puluh sekian tahun sudah menikah, kemudian mereka kelimpungan mencari calon suami. Sepatutnya perempuan yang sudah menikah segera bereproduksi, kemudian ada tuntutan pada fungsi rahimnya. Sepatutnya perempuan diam di rumah dan mengurus keluarga, kemudian dibatasi ruang geraknya.
Dan segudang kepatutan-kepatutan lain yang menekan dan mengikat kaki mereka erat-erat. Belum Iagi perbincangan mengenai rumah tangga dan perkawinan yang sering kali meletakkan fokus pada peran perempuan semata, menjadikan ikatan itu semakin erat.
Padahal, sebagai bagian dari masyarakat, perempuan memiliki peluang untuk berperan secara aktif pada ranah publik. Entah itu sebagai tenaga pekerja, tenaga pendidik atau apapun. Yang jelas, perempuan juga merupakan sumber daya manusia yang potensial dalam pembangunan sesuai dengan keterampilan dan pendidikan yang dimilikinya.
Tidakjarang perempuan dengan pendidikan tinggi, berusia tiga puluh sekian tahun, berkarir dan belum menikah "dihakimi" secara sadis oleh konstruksi kepatutan itu. Anggapan bahwa terlalu memilih dalam mencari pasangan, terlalu fokus pada pendidikan dan karir sehingga tidak memikirkan jodoh, tidak membuka diri dalam pergaulan sampai hinaan tidak berpenampilan menarik atau bahkan sebutan jelek kerap melayang kepada mereka.
Belum Iagi fungsi rahimnya yang dipertanyakan. Padahal tidak seorang pun di luar sana yang benarbenar tahu apa yang dilalui dan sedang diperjuangkan oleh para perempuan. Belum Iagi sesama perempuan nantinya akan berjuang demi kebenaran status mereka sebagai ibu yang tinggal di rumah atau ibu bekerja yang sebetulnya tidak perlu.
Perempuan memiliki Iahan perjuangannya masing-masing yang tidak perlu dibandingbandingkan apalagi dihakimi. Sehingga, konstruksi kepatutan-kepatutan yang ada sebaiknya dipikirkan ulang oleh masing-masing dari kita untuk mengurangi, kalau perlu menghilangkan, sikap menghakimi dan menjegal ekspresi seorang perempuan.
Momen peringatan hari kelahiran R.A. Kartini bisa dimanfaatkan untuk kembali menggali makna perjuangan beliau secara utuh. Bukan hanya sebatas perayaan simbolik dengan mengenakan kebaya dan berkonde atau lomba memasak semata. Perjuangan Kartini Iebih cerdas dari sekedar ornamen dan solekan yang melekat pada tubuh perempuan.
"Seperti pemikiran beliau yang menempatkan pendidikan sebagai harga mati agar masyarakat berpikiran maju, perempuan butuh pengetahuan dan pendidikan yang luas untuk menjadi manusia pembangunan; baik itu di ranah domestik maupun publik".
Biarkan mereka memilih ranah perjuangan mereka dan keputusan itu bukan untuk dihakimi. Jangan biarkan kepatutan-kepatutan yang terkonstruksi di masyarakat mendikte masa depan perempuan. Selamat Hari Kartini, bagi perempuan Indonesia.
Oleh : Rahmat Asmayadi
Guru SDN Suko 2 Kecamatan Sidoarjo dan Sekretaris III PAC Ansor tinggal di Sidoarjo
Sumber : Koran DUTA MASYARAKAT
Edisi : Jumat, 20 April 2018
Regional : Beredar di Surabaya dan Jakarta
Minggu, 15 April 2018
Keluar Kelas Saja agar Tidak Bosan
Jumat, 16 Maret 2018
TOLAK RUU MD3, SOMASI DUDUKI RUANG PARIPURNA DPRD SIDOARJO
Solidaritas Mahasiswa Sidoarjo (SOMASI) menduduki ruang paripurna Kabupaten Sidoarjo, Kamis (15/03/2018). Aliansi yang tergabung dari Golongan Ormek PMII, HMI, IMM,Partispa PMKRI, beserta BEM Se Sidoarjo yaitu BEM UNUSIDA, BEM SIUS, BEM UMSIDA, serta para partisipan dan lain lainnya dengan tegas menolak dan menyesalkan revisi UU MD3 tersebut Dalam orasinya , mereka meminta agar undang-undang tentang MPR, DPR, DPD, dan DPRD (UU MD3) dibatalkan.
Orasi berlangsung dari Gor Sidoarjo Menuju ke Alun-alun Sidoarjo dan terakir di halaman depan kantor DPRD Kabupaten Sidoarjo, kemudian Massa memaksa masuk ke dalam kantor dan langsung ke ruang rapat paripurna DPRD Kabupaten Sidoarjo..
Dalam orasinya mereka Menuntut Legislatif Kabupaten Sidoarjo bersama Aliansi Mahasiswa yang tergabung dalam Solidaritas Mahasiswa Sidoarjo (SOMASI) untuk bersama-sama menandatangani petisi yang berisikan pernyataan sikap menolak Perubahan Ke dua (II) Undang-Undang N0. 17 Tahun 2014 Tentang Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, Dewan Perwakilan Daerah (MD3).
Selanjutnya, mereka meminta DPRD Kabupaten Sidoarjo untuk mensosialisasikan UU MD3 kepada masyarakat. Kemudian untuk memgembalikan tugas pokok Polisi.
“Selain itu mereka juga meminta MK untuk mengembalikan Demokrasi yang seungguhnya. Terakhir, revisi UU MD 3 terkiat inumitas anggota dewan,” ucap Dimas Korlap Aksi saat lakukan orasi.
nampak, aparat kepolisian yang mengamankan tidak berdaya menahan desakan massa yang menerobos masuk dan menduduki kursi-kursi di Ruang Paripurna DPRD Kabupeten Sidoarjo yang nampak kosong.
Massa aksi sedikit mereda emosi ketika 4 perwakilan dewan menemui dan dilanjut dengan berdiskusi terkait tuntutan, DPR Sidoarjo juga menyatakan Sikap untuk menolak RUU MD3 dan menandatangani Petisi Pernyataan Sikap Menolak U\RUU MD3.
Minggu, 07 Januari 2018
Gelar pelantikan PAC Ansor Sidoarjo, usung program kemandirian organisasi
Kepengurusan Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Sidoarjo Kota Kabupaten Sidoarjo periode 2015-2020 resmi dilantik, pada Ahad (07/1) pagi di Pendopo Kecamatan Sidoarjo. Mereka dilantik oleh Ketua Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Sidoarjo H. Riza Ali Faizin.
Pelantikan berlangsung dengan suasana hidmat di hadapan puluhan Nahdliyin Kecamatan Sidoarjo. Acara pelantikan dihadiri perwakilan Pimpinan Pusat GP Ansor dan PW GP Ansor Jawa Timur, PC GP Ansor Kabupaten Sidoarjo, Pengurus MWC NU Kecamatan Sidoarjo dan segenap badan otonom NU di Kecamatan Sidoarjo.
Dalam sambutannya M. H. Fendra selaku ketua panitia menuturkan agar kedepan kepengurusan yang baru ini bisa bekerja sama secara tim dan stakholder bersama banom NU khususnya Kecamatan Sidoarjo.
"Rasa syukur dan terima kasih kepada panitia yang telah membantu terselenggarahnya acara pelantikan, semoga diberi kelancaran dan sukses, tutur Fendra.
Sementara itu, M. Mulyo Agung Nugroho selaku ketua PAC GP Ansor Kecamatan Sidoarjo periode 2017-2019 dengan segenap dukungan segenap kader GP Ansor yang potensial siap mengemban amanah untuk mewujudkan visi GP Ansor.
"Kami akan meneruskan program-program pengurus periode yang lalu dengan fokus pada kemandirian organisasi. Untuk dapat mewujudkan kemandirian organisasi, sebagaimana arahan Pimpinan Pusat, mutlak dibutuhkan soliditas organisasi. Untuk itu konsolidasi akan terus kami gencarkan untuk menyatukan persepsi dan gerakan Ansor," tandasnya.
Selaras dengan hal tersebut Ketua PC Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Sidoarjo H. Riza Ali F berharap agar para pengurus GP Ansor Kecamatan Sidoarjo bisa terus berbuat yang manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat. “Pemuda Ansor harus terus berkreasi dan berbuat bagi masyarakat dan menjadi contoh bagi warga NU,” jelasnya.
Rabu, 20 Desember 2017
Terungkap Masa Muda Jokowi saat Jadi Mahasiswa, Sering Habiskan Malam Minggu di Merapi
Presiden Jokowi baru saja mengunjungi almamaternya di Fakultas Kehutanan UGM.
Kesempatan itu datang serangkaian acara mengisi kuliah umum di Rapat Terbuka UGM Dies Natalis ke-68, Selasa (19/12/2017).
Teman, sahabat, termasuk dosen pun buka bukaan soal Jokowi muda, ya ketika Joko Widodo masih jadi mahasiswa.
Bambang Supriambodo, teman seangkatan Jokowi di Fakultas Kehutanan UGM mengatakan bahwa pada masa kuliah, Jokowi tidak pernah mempunyai pacar alias jomblo.
"Dia (Jokowi) jomblo, jadi sering naik Gunung Merapi setiap malam minggu," kata Bambang, Selasa (19/12/2017).
Bambang juga menuturkan tidak hanya Jokowi saja yang menjomblo, tetapi mayoritas mahasiswa seangkatan Jokowi di Fakultas Kehutanan UGM juga jomblo.
"Sering naik gunung, Merapi hiburan malam minggu, karena dia (Jokowi) Jomblo, Kehutanan UGM dulu kan ceweknya delapan, cowoknya 80. Jadi tidak ada yang naksir sama teman seangkatan," tuturnya.
Bambang menerangkan bahwa Fakultas Kehutanan UGM dulu terkenal jago olahraga, sedangkan urusan percintaan dikesampingkan oleh mereka.
Menurut Bambang, selama berteman saat kuliah dulu, Jokowi merupakan sosok yang sederhana dan energik.
"Sederhana banget tapi gaul. Karena dia hobi musik keras dan suka main gitar. Itu mencerminkan dia energik sekali, waktu naik Gunung Kerinci, dia paling duluan sampai ke atas," ungkapnya.
Bambang juga memiliki kesan tersendiri perihal kawannya itu yang saat ini sudah menjadi Presiden Republik Indonesia.
"Saya terkesan sekali, dia benar-benar peduli terhadap lingkungan. Waktu mendaki itu bawa supermi (makanan favorit), teman-teman dimarahi buang bungkus supermi, akhirnya dikantongi sama dia," ceritanya.
Selain itu Jokowi juga enggan membawa turun Bunga Edelweis, yang saat itu menjadi tren kalau bukti naik gunung yaitu membawa pulang bunga edelweis.
agi Jokowi tidak setuju kalau bunga edelweis dipetik, kita nikmati saja, kalau kita sudah bawa turun, kita hanya menjadikan dia sampah padahal dia indah," kata Bambang menceritakan apa yang Jokowi ucapkan.
Sejak dulu, Jokowi terkenal ngemong (mengasuh) kepada sesama teman seangkatannya.
"Jokowi ngemong orangnya, sesama teman itu ngemong. Kepada sesama teman, dia tidak pernah merasa yang paling hebat, selalu dia menjadi pendengar yang baik," ujar Bambang.
"Tapi kalau sudah ngomong, teman-teman bilang, jok, kamu itu kayak orangtua saja. Setelah kita tahu ternyata dia anak pertama, adiknya perempuan semua. Jadi secara tidak langsung, dia harus menjadi contoh di dalam keluarga itu," pungkas Bambang.
Sumber : http://wow.tribunnews.com/2017/12/20/terungkap-masa-muda-jokowi-saat-jadi-mahasiswa-sering-habiskan-malam-minggu-di-merapi?
Senin, 18 Desember 2017
Kompetisi Diba' Pelajar NU Sidoarjo
Lomba yang dikuti oleh ranting dan komisariat di Kecamatan Sidoarjo dinilai oleh 2 juri yang bersal dari Pengurus Harian IPPNU Kecamatan Sidoarjo Miftakhul Ulla sebagai juri Irama dan Vocal, sedangkan untuk juri Adab Rahmat Asmayadi Ketua IPNU Sidoarjo periode 2012-2014. Hasil juri pun langsung dikumpulkan ke panitia dan ditentukan juaranya, sesuai ketentuan panitia penyelenggara, dari semua peserta lomba akan diambil 3 pemenang.
Adapun para juara lomba diba’ yang diikuti oleh masing-masing perwakilan PAC, PK (Pengurus Komisariat), PR (Pengurus Ranting), PKPT (Pengurus Komisariat Perguruan Tinggi), TPQ (Taman Pendidikan Al – Quran) se-Kecamatan Sidoarjo ini sebagai berikut.
• Juara I : PK IPPNU SMK Plus Sabilur Rosyad Sidoarjo
• Juara II : PR IPNU Suko - Sidoarjo
• Juara III : PK IPPNU SMK Plus NU Sidoarjo
Dalam sambutannya Diana Hayati, Ketua panitia lomba mengungkapkan kegiatan tersebut selain untuk melestarikan kesenian musik shalawat di kalangan pemuda, juga guna meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.
“Dengan adanya lomba ini, kami ingin membudayakan kembali rasa gemar membaca sholawat Nabi Muhammad SAW di kalangan pelajar,” jelasnya, Ahad (17/12)
Upaya untuk menanamkan budaya keislaman itu, imbuh dia, memang perlu ditanamkan sejak dini dengan beragam pola, agar keimanan dan ketakwaan seseorang tak gampang dipengaruhi oleh perkembangan paham yang dianggap tidak sesuai dengan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) an-Nahdliyah.
“Prestasi sebenarnya bukan segalanya, tetapi lebih pada pembelajaran dan pembentukan karakter anak sejak dini yang bernafaskan Islam. Dimana generasi muda yang gemar membaca sholawat Nabi Muhammad SAW,” imbuh Diana.
Lebih jauh Ketua PAC IPNU Sidoarjo M. Chusein Al-Ghozi berharap ajang lomba ini juga hendaknya bisa dijadikan momentum shilaturrahim antar sesama. “Kami berharap dengan terlaksananya lomba diba’ tidak menjadikan ajang permusuhan antara peserta satu dengan yang lainya,” harap dia.
Kegiatan yang digelar di Masjid Agung Sidoarjo, Ahad (17/12/2017) itu mendapat dukungan positif dari warga nahdliyin setempat juga masyarakat di lingkungan sekitar.
Tampak hadir pada kesempatan itu Mewakili Pemerintahan Kecamatan Sidoarjo Kepala Kesra Endah Tri Rahmawati, berbagai jajaran pengurus badan otonom (Banom) NU Sidoarjo, serta para undangan lainnya.
Endah Tri saat memberikan sambutannya mengapresiasi terhadap kreatifitas dan semangat pelajar untuk menjembatani pemuda Sidoarjo dalam mempertahankan budaya-budaya NU. “Kami sangat mengapresiasi baik akan terlaksananya kegiatan lomba diba’ se-Kecamatan Sidoarjo oleh PAC IPNU-IPPNU Sidoarjo Kota ini,” ujarnya.
Senin, 20 November 2017
ISNU Sidoarjo Adakan Seminar Nasional, Pangan Sehat Untuk Kesehatan Optimal
Ahad, (19/11) pagi. Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama' (ISNU) Sidoarjo menggelar seminar nasional yang bertema "Pangan halal dan sehat untuk kesehatan optimal". Acara tersebut diselenggarahkan di gedung PC LP Ma'arif NU Sidoarjo. Peserta seminar terdiri dari 70 peserta guru dan 30 lainnya dari kalangan umum.
Ketua ISNU Sidoarjo, Sholehudin : Membeberkan bawasannya organisasi tidak sekedar badan otonom seperti Ansor dan Fatayat saja, namun dengan adanya organisasi ini juga sebagai wadah. Banyak hal yang dapat dilakukan oleh ISNU yakni penggarapan bidang pendidikan dan pendampingan akreditasi madrasah yang bekerjasama dengan Lembaga Pendidikan (LP) Ma'arif. Termasuk Kegiatan yang bersifat insidentil, salah satunya dengan mengadakan seminar.
Masih banyak makanan yang berbadan hukum serta berkemasan menarik, namun belum dapat di identifikasi halal dan layak konsumsi. Bahkan masih terdapat bahan kimia nantinya dapat merusak otak manusia, umumnya pada usia anak-anak. "Tutur Sholeh.
Oleh sebab itu, lanjut pria yang baru saja mendapatkan predikat wisudawan terbaik program S3 di UINSA ini, yang mempunyai wewenang dalam memberikan bimbingan kepada anak-anak adalah para guru, maka pihkanya menggandeng para guru di bawah naungan Lembaga Pendidikan Ma'arif Sidoarjo.
Selaras hal tersebut Wakil Ketua PCNU Sidoarjo, Zainal Abidin memberi apresiasi dan mendukung langkah yang dilakukan oleh ISNU Sidoarjo. Menurutnya, kegiatan ini sangat luar biasa. Pasalnya, ISNU mampu bekerja sama dengan semua stakeholder.
"Kita akan mendapatkan ilmu yang tidak pernah kita dapatkan di pesantren. Karena di pesantren sangat identik dengan halal. Mudahan-mudahan ilmu seperti ini akan mempunyai efek dan bermanfaat untuk kesehatan kita," pungkas pria yang juga Ketua KPU Sidoarjo itu.
Dalam seminar ini, dua narasumber dihadirkan Fransiska Rungkat Zakaria selaku konsultan WHO Indonesia. Ia berbicara mengenai sajian pangan yang halal dan sehat untuk kesehatan optimal. Selain itu, Puguh Iryanto dari praktisi dan komunitas pecinta pangan halal dan sehat dari H2C2 Community.
Selasa, 28 Juni 2016
Ribuan guru gelar aksi soliadritas di PN Sidoarjo
Sidoarjo - Ratusan guru yang tergabung dalam Persatuan Guru Replublik Indonesia (PGRI) se Sidoarjo menggelar aksi solidaritas rekan seprofesinya yang menjalani sidang kasus dugaan penganiayaan terhadap siswa didiknya. Mereka mendatangi Kantor Pengadilan Negeri Sidoarjo, yang sebelumnya melakukan longmarch mulai Masjid Agung. Mereka meneriakkan yel-yel dukungan terhadap rekan seprofesinya. "Bebaskan Pak Samhudi". Selain itu para guru juga membawa beberapa spanduk dukungan terhadap M.Samhudi, guru matematika SMP Raden Rahmad Kecamatan Balongbendo Sidoarjo. "Aksi solidaritas ini secara spontanitas, tidak dikoordinir. Teman-teman guru mendatangi kantor PN Sidoarjo hanya memberikan dukungan terhadap guru SMP Raden Rahmad Balongbendo yang diduga melakukan penganiayaan terhadaap siswanya," kata Ikwan Sumadi Ketua PGRI Jawa Timur kepada wartawan di PN Sidoarjo, Selasa (28/6/2016). Dia mengaku, kasus ini sebenarnya sepele. "Setelah saya amati kasus ini sebenarnya kasus sepele. Karena kasus yang dinyatakan penyidik itu bahwa guru M. Samhudi telah menganiaya siswanya. Kalau penganiayaan itu hanya sebatas mencubit atau nyewer telinga itu bukan penganiayaan, melainkan rasa kasih sayang," tambahnya. Untuk itu, jelas Ikwan, para guru membela sampai kasus ini selesai dan tidak ada yang dirugikan, dengan arti guru tersebut tidak ditahan. Karena kasusnya sangat ringan, hukuman seperti itu wajar," jelasnya. Kasus ini bermula 3 Februari 2016. Seorang siswa kelas 9 SMP Raden Rahmad Balongbendo Sidoarjo, bernama Syafira Sanjani tidak mengikuti salat dhuha berjamaah yang dilakukan pihak sekolah. Siswa tersebut didatangi M.Samhudi, guru matematika. Pada 6 Februari, orang tua siswa melapor ke Polsek Balongbendo dan selanjutnya 8 Februari, M Samhudi dijadikan tersangka diduga menganiaya siswanya sendiri. Setelah itu 30 Februari oleh Polsek Balongbendo perkaranya dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri Sidoarjo. "Saya sangat kaget karena hari Selasa 8 Februari 2016 saya didatangi petugas Polsek Balongbendo. Saya dinyatakan bersalah dan menjadi tersangka atas kasus penganiayaan terhadap siswa saya sendiri. Padahal saya tidak merasa menganiaya siswa tersebut. Saya hanya memegang tangannya bagian lengan, namun saya dijadikan tersangka," ujarnya di PN Sidoarjo. mungkin karena orang tua siswa itu anggota TNI, hingga kasus ini berlanjut ke Pengadilan, sampai hari ini sidang ke tujuh agenda bacaan tuntutan, jelasnya. Hari ini sidang beragendakan bacaan tuntutan yang dipimpin Hakim Rini Sesulis. Sidang ditunda 14 Juli 2016 karena Jaksa Andrianis dan Kasyanti belum siap membacakan tuntutan. (fat/fat)
Sumbet : detiknews.com
Survei Terbaru : Tingkat Literasi Indonesia di Dunia Rendah
Indonesia menempati ranking ke 62 dari 70 negara berkaitan dengan tingkat literasi, atau berada 10 negara terbawah yang memiliki tingkat li...
-
Indonesia menempati ranking ke 62 dari 70 negara berkaitan dengan tingkat literasi, atau berada 10 negara terbawah yang memiliki tingkat li...
-
Sebelumnya kabinet trisakti ini pernah digunakan oleh soekarno, namun gagal. Apakah pemerintahan baru jokowi-jk bisa menerapkannya! Padahal ...