Tampilkan postingan dengan label Milenials. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Milenials. Tampilkan semua postingan

Kamis, 04 Juli 2019

7 Alasan Kenapa Kamu Harus Memilih Pasangan yang Lebih Pintar Daripadamu

Punya kriteria yang bagus tentang pasangan idaman bukanlah hal yang buruk. Ada kalanya kita memang harus menetapkan standard tersendiri agar tidak mudah kecewa. pastinya, kita ingin punya pasangan yang berkualitas baik kan?
Apalagi sebagai pria, suatu hari nanti ia akan menjadi pemimpin dan pendamping bagi kita.
Maka dari itu, carilah pasangan yang setidaknya kepintarannya bisa mengimbangi kita, karena beberapa alasan berikut ini: 

  1. Dia akan menjadi motivasi buat kamu. Ini adalah hal yang baik, karena sebuah achievement bisa membuat kita lebih seru dalam pacaran. Asal, jangan kebablasan jadi persaingan sengit ya?
2. Dia bisa menjadi inspirasi bagimu. Bukan hanya menuntun hubungan ini, namun kamu bisa sharing dengannya dan mendapatkan perspektif yang berbeda sebagai masukan saat sedang ada masalah. Setidaknya pikirannya jauh lebih kritis dan objektif.
3. Tentunya dia bisa membuat kamu bangga. Siapa sih yang tidak kesengsem dengan sosok yang pintar? Asal jangan pintar memainkan hati saja, deh. Hal seperti ini juga bisa membuat kamu terhindar dari kesenjangan inteligensi yang kerap membuat pasangan bertengkar.

4. Pria yang smart umumnya bisa menghargai wanita. Smart itu tak hanya dalam kepintaran tapi juga kecerdasan emosional yang baik. Sehingga mereka cenderung jauh dari kekerasan apalagi memaki. Kalau dia sampai memaki kamu, then he's not smart enough.

5. Siapapun ingin masa depan yang baik. Pria yang pintar dan kreatif akan lebih bisa diandalkan di masa mendatang. It's a sign of good leader.

6. Tentunya pria yang baik akan membuat kamu juga menjadi baik. Dirimu bisa mencontoh beberapa hal yang baik darinya. Misalnya lebih rajin, lebih kreatif dan sejenisnya.

7. Pria yang pintar bisa lebih fleksibel dalam memahami dan beradaptasi. Untuk penyelesaian masalah pun tidak akan terlalu berbelit-belit karena karakter mereka yang cenderung mendulukan solusi.

Tidak ada salahnya menentukan kriteria yang baik untuk calon pasangan itu. Yang penting kita berusaha dulu. Masalah jodohnya dengan siapa, itu pasti yang terbaik bagi kita dan sebenarnya tidak jauh dari sosok yang kita dambakan.

Kamis, 01 Februari 2018

URUTAN KETURUNAN DALAM KELUARGA JAWA

Dalam Keluarga Jawa biasanya anak menyebut orang tuanya dengan sebutan Bapak dan Ibu. Orang tua Bapak dan ibu disebut Eyang (Kakek/Nenek dalam bahasa Indonesia). Orang tua Eyang disebut apa? dan seterusnya.

Berikut adalah istilah untuk level keturunan (ke bawah) dan level leluhur (ke atas) sampai urutan ke-18 dalam Bahasa Jawa.

URUTAN KE ATAS :

Moyang ke-18. Eyang Trah Tumerah
Moyang ke-17. Eyang Menyo-menyo
Moyang ke-16. Eyang Menyaman
Moyang ke-15. Eyang Ampleng
Moyang ke-14. Eyang Cumpleng
Moyang ke-13. Eyang Giyeng
Moyang ke-12. Eyang Cendheng
Moyang ke-11. Eyang  Gropak Waton
Moyang ke-10. Eyang Galih Asem
Moyang ke-9. Eyang Debog Bosok
Moyang ke-8. Eyang Gropak Senthe
Moyang ke-7. Eyang Gantung Siwur
Moyang ke-6. Eyang Udeg-udeg
Moyang ke-5. Eyang Wareng
Moyang ke-4. Eyang Canggah
Moyang ke-3. Eyang Buyut
Moyang ke-2. Eyang (kakek/nenek dlm bhs Indonesia)
Moyang ke-1. Bapak/Ibu

DILIHAT DARI POSISI KITA :

Urutan ke bawah :
Keturunan ke-1. Anak
Keturunan ke-2. Putu
Keturunan ke-3. Buyut
Keturunan ke-4. Canggah
Keturunan ke-5. Wareng
Keturunan ke-6. Udeg-udeg
Keturunan ke-7. Gantung siwur
Keturunan ke-8. Gropak Senthe
Keturunan ke-9. Debog Bosok
Keturunan ke-10. Galih Asem
Keturunan ke-11. Gropak waton
Keturunan ke-12. Cendheng
Keturunan ke-13. Giyeng
Keturunan ke-14. Cumpleng
Keturunan ke-15. Ampleng
Keturunan ke-16. Menyaman
Keturunan ke-17. Menyo2
Keturunan ke-18. Tumerah

Ini adalah peninggalan leluhur yang nyaris terlupakan. Mari kita lestarikan budaya serta menghormati leluhur. Semoga bermanfaat.

Kamis, 07 Desember 2017

Bermimpi Itu Tanpa Batas, Harus Tahu Batasan Diri! Kejar Mimpi yang Realistis!

Menjadi generasi millennial ada untungnya dan ada ruginya. Untungnya, tentu kita punya kesempatan untuk mengejar mimpi lebih luas daripada generasi zaman dulu. Mudahnya akses informasi dan banyaknya bidang-bidang baru memberi kita ruang gerak yang luas. Sementara kemajuan zaman juga membuat pikiran juga semakin terbuka. Ruginya, kaum millennialterkenal dengan generasi yang pembosan, sulit konsisten pada satu hal dalam jangka waktu yang lama.

Kita barangkali adalah generasi yang tertarik pada risiko. Bila generasi terdahulu bisa bertahan di suatu tempat hingga puluhan tahun, kita bisa tiba-tiba saja memutuskan ingin pergi karena merasa apa yang kita jalani selama ini bukanlah yang kita inginkan. Lantas dengan semangat mengejar mimpi yang sesungguhnya, kita mengorbankan banyak hal, mulai dari meninggalkan pekerjaan hingga mengeluarkan modal yang besar.

Kita memang harus punya mimpi agar hidup terarah. Dan mimpi haruslah dikejar. Namun ada kalanya apa yang kita sebut mimpi hanyalah keinginan sesaat saja. Karenanya, sebelum benar-benar melangkah, tinjau dulu mimpimu. Apakah itu benar-benar sudah yang kamu mau? Apakah kamu sudah benar-benar tahu ke mana arahmu?

1. Sekilas bermimpi itu pekerjaan gampang. Namun menentukan mimpi mana yang harus dikejar dalam keterbatasan waktumu, itu sulit

Realitas Mimpi

Menjadi generasi millennial ada untungnya dan ada ruginya. Untungnya, tentu kita punya kesempatan untuk mengejar mimpi lebih luas daripada generasi zaman dulu. Mudahnya akses informasi dan banyaknya bidang-bidang baru memberi kita ruang gerak yang luas. Sementara kemajuan zaman juga membuat pikiran juga semakin terbuka. Ruginya, kaum millennialterkenal dengan generasi yang pembosan, sulit konsisten pada satu hal dalam jangka waktu yang lama.

Kita barangkali adalah generasi yang tertarik pada risiko. Bila generasi terdahulu bisa bertahan di suatu tempat hingga puluhan tahun, kita bisa tiba-tiba saja memutuskan ingin pergi karena merasa apa yang kita jalani selama ini bukanlah yang kita inginkan. Lantas dengan semangat mengejar mimpi yang sesungguhnya, kita mengorbankan banyak hal, mulai dari meninggalkan pekerjaan hingga mengeluarkan modal yang besar.

Kita memang harus punya mimpi agar hidup terarah. Dan mimpi haruslah dikejar. Namun ada kalanya apa yang kita sebut mimpi hanyalah keinginan sesaat saja. Karenanya, sebelum benar-benar melangkah, tinjau dulu mimpimu. Apakah itu benar-benar sudah yang kamu mau? Apakah kamu sudah benar-benar tahu ke mana arahmu?

1. Sekilas bermimpi itu pekerjaan gampang. Namun menentukan mimpi mana yang harus dikejar dalam keterbatasan waktumu, itu sulit

Menentukan mimpi sama dengan menentukan masa depan via unsplash.com

Apa sulitnya bermimpi? Secara sederhana, kita hanya perlu tidur dan memimpikan sesuatu. Secara lebih dalam, kita tinggal memikirkan apa yang ingin kita raih di masa depan. Namun di kehidupan nyata, menyusun mimpi tidak segampang itu. Ingin punya usaha sendiri, ingin jadi dosen, ingin jadi artis, ingin jadi travel blogger, adalah mimpi-mimpi yang bisa kita sebutkan dengan mudah. Tapi yang mana yang ingin kamu tekuni seumur hidupmu dan yang mana yang hanya kamu inginkan untuk memuasi rasa penasaranmu?

2. Kamu bertekad untuk mengejar mimpimu, dengan merelakan apa yang kamu punya saat ini. Pastikan dulu, apakah itu mimpi atau sekadar pelarian sesaat?


Sia-sia saja jika hanya mengejar pelarian sesaat via unsplash.com

Mudahnya seperti saat kita membicarakan soal pekerjaan. Banyak yang mengatakan bahwa yang terbaik adalah bekerja sesuai passion. Dengan begitu kamu tidak akan terasa seperti bekerja. Dengan alasan inilah kita bisa meninggalkan pekerjaan yang kita anggap bukanlah mimpi yang ingin kita hidupi. Kamu ingin bebas, keluar, dan mengejar mimpimu yang sesungguhnya. Namun sebelum kamu benar-benar meninggalkan pekerjaanmu, apakah kamu sudah benar-benar tahu apa yang ingin kamu kejar di luar sana? Apakah kamu sudah yakin bahwa apa yang kamu jalani saat ini bukan mimpimu? Atau barangkali kamu hanya sedang bosan saja?

3. Sebagai generasi millennial, angin yang menggoyah kita lebih besar. Apakah keinginanmu sudah muncul dari hati, atau hanya sekadar ikut-ikutan tren masa kini?

Benarkah itu wujud idealisme ataukah sekadar ikut trend zaman?

Benarkah itu wujud idealisme ataukah sekadar ikut tren zaman? via unsplash.com

Generasi millennial hidup di era berjayanya teknologi. Mudahnya informasi menyebar, di satu sisi bisa menyebarkan motivasi dan inspirasi. Namun di sisi lain, bisa juga menjadi angin kencang yang menggoyah kaki. Banyaknya pilihan yang kita punya akibat dari kebebasan yang lebih luas, mengharuskan kita untuk berpikir matang-matang sebelum menentukan. Apa yang kamu kejar itu apakah benar-benar mimpimu atau sekadar mengikuti perkembangan zaman alias ikut-ikutan?

4. Mungkin mimpi usang yang ingin kamu tinggalkan, sebenarnya masih valid. Hanya sekadar kelelahan yang buat kamu jenuh dan ingin menyerah

Ibarat perjalanan, mungkinkah kamu hanya sedang lelah saja?

Ibarat perjalanan, mungkinkah kamu hanya sedang lelah saja? via unsplash.com

Lantas apa yang ingin kamu tinggalkan saat ini sudah benar-benar sesuatu yang tidak kamu jadikan list keinginanmu? Bila kamu ingin meninggalkan pekerjaanmu yang terasa sangat berat dan menekan, apakah benar karena itu bukan bidangmu, ataukah kamu hanya sedang bosan saja? Hal ini penting, sebab ketika meninggalkan sesuatu, tentu kita harus sudah punya rencana untuk hal lain. Namun bila sebuah keputusan hanya didasarkan pada rasa bosan, rencana apapun yang kita susun akan bersifat penghiburan semata.

5. Berarti yang kamu butuhkan bukan perubahan jalur menuju mimpi baru yang masih abstrak, tapi hanya sekadar istirahat untuk kembali kumpulkan energi dan motivasi

Istirahat itu kunci sukses

Istirahat itu kunci sukses via unsplash.com

Rasa bosan dan jenuh adalah hal yang biasa dalam kehidupan sehari-hari. Tidak melulu karena kamu belum berada di jalur yang tepat, melainkan juga meskipun kamu sudah berada di tempat yang tepat. Apa yang kita sebut passion, tidak menutup kemungkinan kita mengalami kejenuhan di sana. Apapun itu bila sudah dijalani terlalu lama, tentu akan menumbuhkan rasa bosan dan keinginan untuk mengerjakan hal yang lainnya. Bila ini yang terjadi, belum tentu kamu membutuhkan perubahan haluan. Bisa jadi, kamu hanya butuh refreshing dan liburan.

6. Setiap mimpi harus dipikirkan dan direncanakan dengan matang. Bukan sekadar menuruti sifat impulsif semata lalu berhenti di tengah jalan

Harus direncanakan dengan matang, agar tak bosan di tengah jalan

Harus direncanakan dengan matang, agar tak bosan di tengah jalan via unsplash.com

Setiap mimpi memang harus dikejar. Namun sebelumnya, mimpi juga harus direncanakan dengan matang. Sifat impulsif yang dekat dengan rasa ingin ikut-ikutan bukan salah satu sifat mimpi yang harus dikejar. Sebab mengejar mimpi yang seperti itu, bukan tidak mungkin membuat kita ‘hilang rasa’ di tengah jalan karena bosan saja. Hanya karena sekarang sedang tren ini, bukan berarti kamu harus ikut juga. Menentukan mimpi tidak bisa sembarangan. Sebab itulah arah hidup yang kamu inginkan.

7. Sebab menemukan sesuatu yang ingin dilakukan selamanya memang tak mudah, tak mengapa bila kini kamu belum tahu arah. Yang penting, jangan gegabah

Menentukan arah memang tak mudah

Menentukan arah memang tak mudah via unsplash.com

Di usia 20-an kita akan dihadapkan pada hari-hari galau untuk menentukan kehidupan. Bila sekarang usiamu 20-an dan mulai gelisah karena tak kunjung tahu apa yang kamu mau, tak perlu tertekan. Kamu bukan satu-satunya yang merasakan. Menentukan arah hidup memang tidak mudah. Sebab dalam pikiran kita mungkin ada segudang hal yang ingin kita wujudkan. Karena itu, kita harus melakukan wawancara mendalam dengan diri sendiri, dan barangkali, mencoba berbagai kemungkinan. Apa yang ingin kamu lakukan dan apakah kamu sudah berada di jalur yang tepat adalah pertanyaan yang susah dijawab, namun pelan-pelan kamu pasti bisa menentukannya.

Merancang mimpi sama dengan merancang masa depan. Bila kita sudah tahu apa tujuan kita, kita bisa segera menyalakan kompas, dan menentukan ke arah mana kita harus melangkah. Jelas, setiap mimpi memang harus dikejar. Sedikit atau banyak pengorbanan mungkin dibutuhkan, tak mengapa demi kebahagiaan yang lebih besar. 



Survei Terbaru : Tingkat Literasi Indonesia di Dunia Rendah

Indonesia menempati ranking ke 62 dari 70 negara berkaitan dengan tingkat literasi, atau berada 10 negara terbawah yang memiliki tingkat li...