Sabtu, 07 Juli 2018

Download dan Install Driver Printer Canon MP287

Untuk menginstal driver, Anda harus tahu seri printer yang yang Anda miliki, contoh menginstall driver Canon mp280 / mp287 series di Lokata, untuk seri lainnya dapat dilihat di bawah ini :

Link unduh : Canon Pixma MP280 MP287 driver

Cara Instalasi silahkan klik di sini

–selamat mencoba–

HARLAH KE 10 EL-FIKR (Rangkaian Acara)

Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Organisasi Jurnalistik "El-Fikr" ke 10. Pondok Pesantren Manba'ul Hikam Putat Tanggulangin.  Mengadakan event nasional yakni Lomba Menulis Cerpen (Online), Lomba Jurnalitik dan Lomba Kaligrafi Kontemporer.

Klik link berikut untuk download : FORMULIR PENDAFTARAN LOMBA

Sedangkan untuk download : JUKNIS PERLOMBAAN.

Lebih lengkap kunjungi website : Aliyaalmahika

Sejarah EL FIKR dan FOKSMA Manbaul Hikam Tanggulangin Sidoarjo

Sejarah FOKSMA

Sebagaimana kita temukan di sekolah lainnya kita mengenal yang namanya organisasi intra sekolah atau biasa kita sebut OSIS. Begitu juga sekolah kita Manbaul - Hikam juga memiliki organisasi intra sekolah yang namanya sudah tidak asing lagi di telinga kita. Namun banyak dari kita yang belum tau asal muasal nama tersebut kapan mulai ada ? dari siapa ? dan untuk apa ada ? nah dibawa ini kami akan mengulas satu persatu asal muasal foksma.

FOKSMA mulai tercetus sekitar tahun 2000-an karena Manbaul - Hikam mendapat undangan dari kabupaten yang bertemakan keorganisasian sekolah. Namun waktu itu Manbaul - Hikam baru berdiri Madrasah Tsanawiyah den belum mempunyai organisasi sekolah.

Berawal dari undangan tersebut. Ustad Fayakun beserta Ustad Khoirul Anam mempunyai ide untuk membuat organisasi intra sekolah dengan label santri yang akhirnya tercetus nama FOKSMA (Forum Komunikasi Santri Manbaul - Hikam) atau sekarang kita lebih mengenalnya dengan Forum Komunikasi Siswa Manbaul Hikam (entah siapa yang mengganti). Sebelumnya sempat ada organisasi yang hampir sama namanya yakni FOKMA (Forum Komunikasi Mahasiswa) milik IAIN Sunan Ampel Surabaya. Setelah terbentuk organisasi tersebut terlaksanalah pemilihan ketua yang berhasil diraih oleh saudara Farichul Jinan (cak farich) sebagai ketua FOKSMA Madrasah Tsanawiyah periode pertama.

Setelah terbentuk organisasi ini secara otomatis terbentuk juga visi misi yang kegunaannya untuk mengatur jalannya organisasi tersebut seperti halnya menjunjung tinggi nama baik organisasi maupun madrasah.

Silahkan unduh : Riwayat Kepemimpinan Foksma

Sejarah EL - FIKR

EL-FIKR mulai tercetus sekitar tanggal 1 Juni 2008. Pada saat dilakukan diklat mading yang mana pesertanya anggota FOKSMA dan perwakilan kelas. Dan pada saat itu pula anak-anak Madrasah Aliyah dituntut untuk membuat sebuah mading bahannya dari koran. Akhirnya terpilihlah mading terbaik yakni dari kelompok lbnu Mahbubah.

Setelah dilaksanakannya diklat mading lalu Madrasah menindak lanjuti kegiatan tersebut. Sehingga Sekolah dirasa perluh membuat organisasi jumalistik yang bemama "EL-FIKR". Nama ini diusulkan oleh Mas Rafi Al-Muaffaq (Alm) dengan dibantu dari WAKA Kesiswaan H. Ahmad Alawy (Alm) dengan disertai logo EL-FIKR, kemudian setelah itu pada tanggal 11 Agustus 2008. Bapak kepala sekolah Bpk Wachid meresmikan organisasi ini.

Meski pada angkatan pertama, setelah terpilihnya saudari Ibnu Mahbubah tidak dapat menerbitkan Majalah. Akhirnya terbitlah sebuah Majalah Sekolah edisi Perdana yakni pada periodesasi EL-FIKR angkatan ke - 3 oleh Rahmat Asmayadi dan aggotanya. Meskipun majalah tampil dalam suguhan hitam putih, hanya cover majalah beserta album foto yang bewarna. Kemudian disusul terbitnya Majalah Sekolah edisi ke-2, masa kepemimpinan M. Mahbub.

Setelah terbentuk organisasi ini, secara otomatis terbentuk juga visi misi yang kegunaannya untuk mengatur jalannya organisasi tersebut. Seperti halnya menjunjung tinggi nama baik organigsi maupun Madrasah.

Adapum Riwayat Kepemimpinan EL - FIKR :

2008             : Ibnu Mahbubah

2009             : M. Irfandi Asy-Syadzali

2009 - 2010 : Rahmat Asmayadi

2011             : Muhammad Mahbub

2012 - 2013 : M. Sirojuddin Kirom

2013 - 2014 : M. Rifky Fathoni

2014 - 2015 : Fikri Taufikurrahman

2015 - 2016 : M. Fauzi

2016 - 2017 : A Fani Afifullah

2017 - 2018 : M. Fathul Anwar Ashfari



Kamis, 05 Juli 2018

Kegemaran Sepak Bola Gus Dur

Ada beberapa hal yang akan terlintas di kepala saat mendengar nama Gus Dur. Pertama tentang humor-humornya yang tak bisa lepas dari kesehariannya, bahkan setelah menjabat sebagai presiden. Kedua tentang ia yang sering mendobrak hal-hal formal dan dengan bebas mengemukakan pikirannya, walau bernada kontroversial. Ketiga adalah kesetiaannya dalam membela pluralisme dan keberpihakannya pada kaum minoritas. Sementara yang keempat, adalah obsesinya akan sepak bola.

Ya, dikatakan obsesi karena ia memang memiliki ketertarikan dan keterikatan kuat dengan sepak bola. Dan Ini lah yang membedakannya dengan presiden-presiden RI lainnya. Berbicara tentang sepak bola dan kaitannya dengan presiden Indonesia sendiri maka umumnya akan berbicara mengenai bagaimana sepak bola digunakan sebagai alat politik. Atau, seminimal-minimalnya, bagaimana sepak bola di jalankan di era mereka.

Contohlah Bung Karno. Di era kepemimpinannya, timnas Indonesia mencapai prestasi terbaiknya dengan rentetan hasil memuaskan di akhir periode 1950-an (menahan imbang Uni Soviet, meraih perunggu di Asian Games 1958, dan lain sebagainya). Tapi, tentu saja ini tak bisa dipisahkan konteks bagaimana ia menggunakan sepak bola sebagai suatu alat politik, atau alat membangkitkan nasionalisme. Atau, misalnya lagi, Presiden SBY. Mengaitkan kata SBY dan sepak bola maka akan terbersit ingatan tentang kekisruhan PSSI yang tak kunjung usai dan tentang belasan kongres yang tidak jelas juntrungannya. Di sinilah Gus Dur tampil berbeda.

Berbicara tentang Gus Dur dan sepak bola bukan mengingat apa yang telah ia lakukan untuk sepak bola (Indonesia), tapi mengenai seorang individu yang benar-benar gemar sepak bola sebagai suatu permainan. Kegemaran ini yang mendorongnya untuk mengoleksi sekoper guntingan-guntingan artikel tentang permainan si kulit bundar. Kegemaran yang membuatnya rajin menulis analisis pertandingan di harian Kompas dan majalah Tempo. Kegemaran yang membuatnya tetap mengikuti jalannya pertandingan, walau hanya lewat suara, setelah kehilangan penglihatan.

Pendeknya, kegemaran dan obsesi yang sama yang membikin jutaan suporter sepak bola Indonesia tetap datang ke stadion meski dengan kondisi kompetisi yang carut marut.

Buku dan Sepakbola

Kegemaran Gus Dus akan sepak bola sendiri sudah ada dari kecil. Bahkan, dengan menyepak dan mengolah bola di halaman belakang rumahnya di Jakarta lah Gus Dur jadi lebih akrab dengan ayahnya, Wahid Hasyim. Menurutnya, sebagaimana diceritakan Greg Barton dalam buku “Biografi Gus Dur”, ayahnya adalah tipikal ayah-ayah lainnya dari suku Jawa yang menjaga jarak dengan anaknya. Tapi saat bermain bola di pekarangan lah Gus Dur merasa bahwa Wahid Hasyim senang ditemani oleh putra sulungnya itu.

Namun kegemaran ini tak lama berubah jadi candu. Beranjak remaja, ada dua hobi Gus Dur yang seakan tak bisa dipisahkan dari dirinya: melahap buku dan menonton pertandingan sepak bola. Bahkan, karena hobinya ini lah Gus Dur pernah tak naik kelas. Saat berada di kelas satu Sekolah Menengah Ekonomi Pertama (SMEP), Gus Dur terpaksa mengulang kelas satu karena gagal ujian. Pasalnya Gus Dur sendiri terlampau sering menonton pertandingan sepak bola sehingga tak punya cukup waktu untuk mengerjakan pekerjaan rumah.

Karena gagal naik kelas ini, ibunya lalu mengirim Gus Dur ke Jombang untuk bersekolah di pesantren. 
Di tempat ini lah hobinya mulai berubah. Jika di masa kecil Gus Dur masih sering bermain dan menikmati perannya sebagai penyerang, beranjak dewasa Gus Dur mulai jadi penonton dan pengamat pertandingan. Hanya sesekali saja ia menjejakkan kaki di lapangan hijau. Itu pun sekedar mengbal ala pesantren.

Pada 1960, Gus Dur kemudian melanjutkan studinya ke Mesir, tepatnya di kampus Al-Alzhar. Di sini sepak bola lagi-lagi seakan jadi “pelariannya” dari proses belajar formalnya. Kala itu, karena satu kesalahan administrasi, pihak kampus tak menerima dokumen/sertifikasi yang menyatakan bahwa Gus Dur memiliki kemampuan dasar berbahasa Arab. Padahal saat itu Gus Dur menguasai ilmu tentang yurisprudensi Islam, teologi, dan berbagai ilmu terkait lainnya, yang pasti membutuhkan kemampuan berbahasa Arab advance untuk mempelajarinya. Karena ketiadaan dokumen ini Gus dur pun lalu dipaksa untuk mengambil satu mata kuliah dasar tentang bahasa Arab, bergabung dengan mahasiswa-mahasiswa negara lainnya.

Gus Dur yang memang nyeleneh dan sedikit berjiwa liar ini lalu menunjukkan reaksinya dengan jarang masuk kelas. Apalagi saat itu kota Kairo menyuguhkan puluhan pertandingan sepak bola setiap bulannya. Jadilah ia lebih sering keluar masuk stadion, perpustakaan (karena tak bisa dipisahkan dari buku), dan bioskop yang menyajikan film-film Perancis.

Sepakbola dan Analisa

Di era 1980-an, keterlibatan Gus Dur dengan sepak bola semakin mendalam. Ia semakin sering mengamati perkembangan taktik, formasi, maupun kondisi persepakbolaan suatu negara. Di era internet, informasi tentang sepak bola dengan mudahnya didapatkan dengan sekali klik. Tapi Gus Dur dahulu harus memperolehnya dengan jalan yang lebih susah. Di sela-sela kesibukannya mempelajari ilmu agama, Gus Dur pun mengoleksi data dan narasi tentang sepak bola dari puluhan majalah dan koran yang ia baca.

Misalnya saja putaran final Piala Eropa 1992. Menurut pengakuannya dalam wawancara dengan Majalah Tiara, ada kurang lebih 800 halaman koran dan majalah yang ia gunting dan kliping selama kompetisi ini berlangsung. Untuk penggemar sepak bola, yang dengan mudahnya membuka halaman elektronik di layar komputer, saja jumlah ini terhitung masif. Apalagi untuk ukuran era 90-an yang notabene masih sulit untuk mencari majalah dan koran khusus sepak bola. Tak heran kemampuan analisa Gus Dur semakin tajam dan tak seperti orang pada umumnya.

Kemampuan analisa ini sempat ia tunjukkan pada Piala Dunia 1994. Di saat orang-orang kebanyakan menjagokan Kolombia untuk melangkah jauh karena hasil impresif di penyisihan, Gus Dur berkata lain. “Masih belum (untuk Kolombia). Kompaknya pun masih kalah jauh dengan Belanda atau Italia. Belum cukup tarafnya,” ujarnya lagi dalam percakapannya dengan Majalah Tiara. Lebih jauh lagi, Gus Dur memprediksi bahwa Brazil, Italia, Argentina, Belanda, dan Jerman akan tetap melangkah ke perempat final 1994. Dan benar saja. Dari kelima negara tersebut, hanya Argentina yang tak mampu lolos dari babak 16 besar.

Dengan kecermatannya menganalisa ini tak heran pula Gus Dur sering didaulat untuk menulis kolom sepak bola atau sekedar jadi komentator di televisi. Terhitung ratusan artikel pernah ia tulis tentang sepak bola. Baik saat mengulas Piala Eropa 1988, 1992 hingga 1996. Atau saat membahas World Cup 1982, 1986, 1990, 1994, hingga 1998.

Untuk kompetisi sepak bola Indonesia sendiri, Gus Dur termasuk sering memberikan kritik dan pada PSSI. 
“Orang bilang sepakbola itu 75 persen di luar lapangan, dan 25 persen lainnya merupakan puncak dari usaha dari luar lapangan itu. Apakah proporsi semacam itu yang tidak tejadi?” tanyanya di era-era awal peleburan Galatama dan kompetisi Perserikatan. 
“Pemain juga penting. Tapi lebih dulu pengurusnya dan ujungnya pada pelatih. Pada manajer,” tambahnya lagi.

Pelatih Kabinet Persatuan Nasional

Setelah puas melakukan analisa pada puluhan pertandingan, tahapan “bersepakbola” selanjutnya dalam diri Gus Dur tentu hadir saat ia menjadi presiden. Bagaimana ia menggunakan berbagai filosofi sepak bola dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang kepala negara.
Memang, tugas seorang presiden sendiri ada kemiripannya dengan seorang pelatih. Misalnya saja dalam memilih “pemain” yang tepat untuk kabinetnya.

Di awal-awal tahun 2000-an, Gus Dur menunjukkan hal ini dengan kebijakan re-shuffle kabinetnya yang terkenal. Di awal masa kepemimpinannya, Gus Dur sendiri memang lebih memilih untuk menomorsatukan “kompromi” dan “balas budi” dalam memasang susunan awal kabinetnya. Bahkan, saking kuatnya tarik-ulur antara berbagai pihak, draft starting line-up Kabinet Persatuan Nasional pernah berganti hingga 11 kali.

Namun, seiring dengan berjalannya waktu, Gus Dur sendiri menunjukkan keinginan untuk menempatkan orang-orang kepercayaannya di lingkungan istana. Misalnya saja di lingkungan sekretariat negara. Ke dalam lembaga ini ia membawa lima nama yang memang dikenal dekat dengannya. Sementara itu, beberapa menteri seperti Laksamana Sukardi, Yusuf Kalla, Hamzah Has, Ali Rahman, atau Wiranto ia ganti dengan orang lain.

Dalam dunia sepak bola sendiri hal ini lumrah terjadi. Pelatih baru tentu akan mewarisi pemain lama dari klub. Namun, dengan visi dan filosofinya sang pelatih akan mencari pemain-pemain yang sesuai dengan diinginkannya. Pelatih yang menggunakan 4-2-3-1 tentu akan mencari dua orang gelandang untuk dobel pivot-nya, sementara si penganut 3-5-2 akan merekrut dua orang wingback.
Pun dengan meletakkan orang-orang kepercayaan dalam tim. Lihatlah bagaimana Jose Mourinho menggunakan Xabi Alonso sebagai penyambung lidahnya di lapangan. Pendeknya, apa-apa yang dilakukan Gus Dur ini sedikit banyak mirip dengan apa yang dilakukan pelatih pada timnya.

Berbalas Surat Dengan Romo Sindhunata

Seorang presiden yang menjawab kritikan melalui konfrensi pers akan terdengar biasa-biasa saja. Tapi seorang presiden yang membalas pertanyaan melalui tulisan di koran dengan nuansa sepakbola, tentu hanya Gus Dur seorang.

Ini lah yang terjadi saat dua orang pecinta sepakbola dengan pisau analisis yang tajamnya berbalas kata tentang taktik dan strategi politik seorang presiden. Khususnya tentang keputusan Gus Dur dalam menyusun kesebelasan kabinetnya.

Sindhunata sendiri sebenarnya dua kali mengirimkan surat terbuka untuk Gus Dur. Dalam kolomnya yang pertama (“Sepak Bola Ala Gus Dur”), Sindhunata menitipkan pesannya pada Gus Dur akan kabinetnya.

Bahwa Gus Dur bolehlah mengambil rumus dari Sepp Herberger, yaitu mencari “pemain” yang betul-betul bisa, sesuai dengan bidangnya. Jangan lagi mengulang kesalahan lama, yang memasang menteri bukan karena kebisaannya, tapi karena relasi, status, dan penjatahan kursi. Dan bahwa keberhasilan suatu tim ditentukan oleh tiga hal: kebisaan, kedekatan, dan keberuntungan.

Namun, di kolom keduanya “Catenaccio Politik Gus Dur” (16/12/2000), Sindhunata dengan lugas memberikan masukan pada Gus Dur. 
Melihat tidak adanya “umpan terobosan” yang dilakukan Gus Dur dalam menyelesaikan permasalahan penegakkan demokrasi di Indonesia, Sindhunata berpendapat bahwa sistem bertahan (catenaccio) saja sulit untuk dikembangkan di Indonesia dalam perkembangan terakhir ini. Sindhunata juga berujar bahwa pemerintah dengan sadar haruslah menegakkan demokrasi secara menyeluruh, dan untuk itu sistem bertahan saja tidaklah cukup. Haruslah digunakan sistem menyerang.

Bisa jadi karena kritik yang disampaikan dengan bahasa sepak bola ini lah Gus Dur tergoda untuk memberikan jawaban secara langsung. Tanpa tedeng aling-aling, dan tetap menggunakan istilah-istilah sepak bola yang fasih ia gunakan. Mirip dengan seorang pelatih yang menjawab pertanyaan-pertanyaan wartawan dalam konfrensi pers seusai pertandingan.

Dalam kolomnya, Gus Dur mengatakan bahwa catenaccio hanya digunakan untuk menghadapi kasus Pansus (bulog) saja. Dan untuk keseluruhan perkembangan di Indonesia dibutuhkan tidak hanya satu strategi saja.

“Jadi, dengan demikian, menjadi jelas bagi kita bahwa strategi total football harus diterapkan secara kreatif dalam kehidupan kita sebagai bangsa. Dalam satu hal, kita menggunakan strategi catenaccio, sedang dalam hal lain strategi hit and run (ala Inggris). Bahkan, kadang kita menggunakan strategi total football dan siapa tahu kita juga memeragakan bola Samba kesebelasan Brasil,” tulisnya pada 18 Desember 2000 dalam kolom yang berjudul “Catenaccio Hanya Alat Belaka”.

Menanggapi surat Gus Dur ini, Sindhunata menuliskan ("Total Football Bersama Gus Dur", terbit 20 Desember 2000) bahwa dari tulisannya jelas terlihat Gus Dur memiliki konsep untuk pemerintahannya, walau belum kurang mewujud menjadi nyata. Dan ini lah yang jadi pertanyaan lanjutan Sindhunata.

“Adakah Gus Dur mengalami seperti Cruyff? Ia ingin memainkan total football yang bertempo tinggi dan terbuka bagi pemerintahannya, tetapi "kesebelasannya" tak mampu memainkannya, karena pemainnya hanya dari kelas rata-rata,” tulis Sindhunata. Pertanyaan yang senada dengan apa yang telah ia sampaikan dalam surat pertamanya.

Sayangnya balasan kedua dari Gus Dur tak pernah datang. Enam bulan kemudian, para pemain Gus Dur perlahan memberontak dan tak mau lagi mengikuti strategi politiknya.

Dalam dunia sepak bola itu hanya berarti satu hal: pelatih yang kehilangan kendali di ruang ganti sudah tak mungkin memimpin tim lagi. Pada 23 Juli 2001, Gus Dur pun mengakhiri kariernya sebagai pelatih “Kabinet Persatuan Nasional”.

Kunjungi link : panditfootball

by Andreas W. Marbun 04/08/2017 18:00 

Minggu, 24 Juni 2018

Cara Download Foto dan Video di Instagram Mudah

Instagram merupakan salah satu media sosial paling populer dan banyak digunakan oleh berbagai kalangan. Tak hanya untuk membagikan foto dan video kegiatan sehari-hari, platform ini juga banyak digunakan sebagai salah satu media untuk berpromosi.

Nah, saat sedang melihat-lihat feed Instagram, tentu kita sering menemukan foto maupun video menarik dan ingin kita simpan di ponsel kita. Namun sayangnya, hingga saat ini Instagram hingga kini masih belum menyediakan tombol download di platformnya. Oleh karena itu, ada beberapa developer membuat aplikasi yang bisa digunakan untuk Menyimpan Foto Dan Video Instagram.

Nah, bagi Anda yang ingin mengunduh konten menarik yang Anda temukan di IG dan menyimpannya di perangkat Anda, berikut ini adalah aplikasi download foto dan video Instagram terbaik yang bisa Anda gunakan :

DOWNLOAD

Nah, itulah tadi aplikasi download foto dan video Instagram terbaik saat ini. Aplikasi-aplikasi tersebut dapat diunduh secara gratis dan kompatibel untuk semua perangkat Android. Selamat mencoba, semoga bermanfaat 🙂

Kamis, 31 Mei 2018

Wajah Aneh Prilaku Politik Kita

Ada yang mengatakan bahwa “rasa malu” terhadap sebuah perilaku merupakan wilayah moralitas. Sedang moralitas merupakan sekumpulan nilai yang bersentuhan langsung dengan norma spiritual dan sikap kebudayaan seseorang atau sekelompok orang.

Dengan begitu, dalam konstruksi kausalitas berpikir demikian, bisa dikatakan bahwa terdapat “hukum berbanding lurus” antara norma spiritual, sikap kebudayaan dan implementasi perilaku keseharian seseorang atau kelompok orang. Semakin kuat nilai spiritual akan semakin mengentalkan sikap kebudayaan yang kemudian akan melahirkan prilaku dengan integritas kepribadian yang juga mumpuni.

Namun agaknya, filsafat seperti ini akan menjadi “mati kutu” ketika diperhadapkan pada realitas kekinian dalam sebuah wilayah yang berlabel; “republik seribu satu paradoks”. Entahlah, pada rangkaian mana dari keterkaitan norma, nilai serta prilaku ini mengalami semacam “missing link”.
Yang pasti,  terkadang kita demikian tergeragap oleh sebuah realitas yang demikian “melecehkan akal sehat” kita sebagai manusia. Inilah kondisi di mana manusia benar-benar telah mengalami semacam “keretakan psikologis”. Apa yang dalam nilai moralitas, sikap kebudayaan dan integritas prilaku, tiba-tiba berjumpalitan dan tidak saling kait-mengkait.

Bagaimana tidak, dalam realitas kekinian dalam “republik seribu satu paradoks” ini, berbagai ragam keanehan serta anomali tumpah ruah dan berkelindan. Bagaimana kita bisa membayangkan dalam sebuah realitas, kita bisa menemui sebuah konstruksi “mental” yang demikian tak memiliki kesinambungan antara norma spiritual, nilai budaya dengan perilaku keseharian kita.

Bagaimana kita bisa menjelaskan seseorang yang terlihat terpelajar, nampak alim dalam sikap keagamaan, mampu melakukan perbuatan yang sangat dibenci oleh norma-norma spiritualnya sendiri. Bagaimana kita menjelaskan gambaran "rusaknya" nurani yang selama ini dipercaya sebagai “penegak” dari nilai-nilai moralitas yang menyambungkannya dengan norma spiritualitas yang diyakininya.
Dengan demikian, dalam realitas “republik seribu satu paradoks” ini, yang terjadi bukanlah runtuhnya nilai moralitas dan tumpulnya norma spiritualitas. Di republik semacam ini, nuansa spiritual dan “teriakan” tentang perlu tegaknya moralitas demikian membahana. Suasana spiritualitas itu demikian “menyatu” dalam keseharian.

Di Media, di ruang-ruang publik dan di rumah-rumah ibadah, kita demikian terlihat “suci”. Namun aneh dan sifat paradoksnya kemudian bermula di sana. Karena norma dan nilai moralitas yang terkandung dalam suasana tersebut, sama sekali tidak mampu teringrasi dengan kebanyakan prilaku kita. “Missing link” ini demikian menganga sehingga tidak lagi menyadarinya, bahkan dalam situasi khusus, memang kita tidak mempersoalkannya, apalagi menaruh kepedulian di sana.

Konstruksi mentalitas kita telah berhasil membuat “missing link” tersebut dengan begitu halus dan sempurna. Sehingga kita tak lagi merasakan ada “nurani” yang kadang menjadi alarm bagi tegaknya keyakinan kita terhadap nilai-nilai moralitas itu. Inilah barangkali yang menjelaskan bagaimana kebanyakan para koruptor, alih-alih merasa malu, justru  terlihat tak merasa bersalah sama sekali. Bahkan pada umumnya, mereka mempertontonkan tingkat “kesucian”nya dengan berbagai simbol-simbol kedekatan mereka terhadap agama.

Yang lebih aneh dan paradoks lagi adalah kebanyakan masyarakat kita memperlakukan mereka secara ambigu dan mendua. Bila yang terkena kasus adalah orang lain maka hujatan dan kutukan sebagai perampok uang rakyat begitu berkobar.

Namun ketika yang terkena kasus adalah kerabat, kenalan atau semacam patron mereka dalam politik, maka pembelaan serta pemaafan demikian mengalir. Dengan sikap tak berdosa dan tak ada rasa malu dari koruptor dan reaksi yang ambigu dari masyarakat seperti itu, maka penegakan hukum terlihat seperti “menegakkan benang basah”. Kerena bagaimana pun, tujuan akhir dari penegakan hukum adalah membuat pelaku jera serta membuat orang lain jerih untuk melakukan perbuatan yang sama. Sementara semua hal tersebut tidak lagi berlaku pada "republik seribu satu paradoks" ini.

Opini : Rahmat Asmaydi

Download link : https://drive.google.com/file/d/0B7QJxr1HRkk_WWJKMk5ESzhjRlpBa1pjTTBtN0FpQk9vYWVZ/view?usp=drivesdk

Sumber :
KORAN DUTA MASYARAKAT, edisi Kamis, 24 Mei 2018
09 Ramadhan 1439 H

Rabu, 23 Mei 2018

Siswa sekarang

Disela-sela mengajar, saya teringat perkataan teman-teman  guru, terutama teman-teman guru yang sudah sepuh, ya . . mungkin usia 50 tahun keatas, ketika berbincang-bincang santai setelah mengajar sambil menunggu pelajaran berikutnya. diantaranya beliau-beliau membandingkan perilaku murid-muridnya dulu dan sekarang.

Pengertian siswa dulu saya perjelas lagi mungkin di era 90 ke bawah dan siswa sekarang mulai akhir 90 an sampai sekarang. siswa yang dibahas adalah mulai siswa SD sampai SMA.

SISWA DULU, Lebih patuh dan hormat kepada guru, bahkan ketika berjalan dan berbicara senantiasa menjaga kesopanannya.
Ketika diberitahu atau dinasehati mendengarkannya dengan seksama.
Lebih perhatian kepada guru, jika ada guru yang sakit, langsung berduyun-duyun ke rumah, walau jaraknya jauh, terkadang sampai urunan atau iuran untuk membeli oleh-oleh. Ketika diperintah guru langsung mendengarkan dan bahkan malu kalau ke sekolah sebelum mengerjakan tugas tersebut. Siswa dulu menganggap guru adalah orang tua sehingga sangat menghormatinya, meskipun guru itu kadang keras dan mengganggap hukuman adalah pelajaran dan konsekuensi dari sebuah kesalahan.

SISWA SEKARANG, kurang menghormati guru bahkan cenderung berani ketika diberitahu atau dinasehati tidak langsung mendengar bahkan kadang membantah. Kurang perhatian kepada guru, bahkan lebih senang kalau gurunya tidak hadir.

Ketika diperintahkan guru untuk mengerjakan tugas, menggerutu, kalau pun siswa SD ia meminta tolong kepada orang tua atau guru kelasnya. Tidak malu kalau belum mengerjakan tugas. Kalau dihukum atau diberitahu malah menantang, bahkan tidak jarang jika dihukum malah senang. Menganggap guru sebagai teman, bukan orang tua bahkan tak jarang ada yang panggil bukan sebagai pak guru misalnya dibeberapa sekolah SMA memanggil dengan gurauan.

Karena arus informasi dan teknologi, sehingga mempengaruhi pemikiran para siswa Karena keikhlasan gurupun mulai luntur, guru sekarang seperti jualan ada uang ada barang, coba kita perhatikan guru dulu diberi berapapun ia tetap ikhlas. hal ini mempengaruhi martabat dan kehormatan seorang guru.Guru lebih takut pada orang tua, terutama pada sekolah-sekolah yang berbiaya mahal, karena disana murid adalah nasabah, sebagaimana nasabah dalam Bank, yang harus dihormati dan dilayani. Kurangnya sifat keteladanan pada guru, murid dilarang merokok, guru merokok, murid dilarang mencontek, guru malah memberitahu dll. Guru takut pada hukum dan peraturan secara berlebihan, sehingga cenderung membiarkan saja ketika siswanya kurang benar. bahkan kadang guru merasa bingung untuk berbuat ketika salah satu siswanya berulangkali melanggar.

Minggu, 20 Mei 2018

Daftar Hari-hari Besar Nasional Indonesia

Berikut ini adalah daftar Hari-hari Besar Nasional di Indonesia serta beberapa hari-hari penting Internasional yang juga diperingati sebagai hari besar di Indonesia.

Bulan Januari

01 Januari : Hari Tahun Baru Masehi (Internasional)
03 Januari : Hari Departemen Agama05 Januari : Hari Korps Wanita Angkatan Laut (KOWAL)
10 Januari : Hari Gerakan Satu Juta Pohon (Internasional)
10 Januari : Hari Tritura15 Januari : Hari Darma Samudra
25 Januari : Hari Gizi Dan Makanan
25 Januari : Hari Kusta (Internasional)

Bulan Februari

02 Februari : Hari Lahan Basah Sedunia (Internasional)
04 Februari : Hari Kanker Dunia (Internasional)
05 Februari : Hari Peristiwa Kapal Tujuh Provinsi (Zeven Provinciën)
09 Februari : Hari Pers Nasional (HPN)
09 Februari : Hari Kavaleri
14 Februari : Hari Peringatan Pemberontakan Pembela Tanah Air (PETA)
22 Februari : Hari Istiqlal
28 Februari : Hari Gizi Nasional Indonesia

Bulan Maret

01 Maret : Hari Peringatan Peristiwa Serangan Umum di Yogyakarta
01 Maret : Hari Kehakiman Nasional
06 Maret : Hari KOSTRAD (Komando Strategis Angkatan Darat)
08 Maret : Hari Perempuan (Internasional)09 Maret : Hari Musik Nasional
10 Maret : Hari Persatuan Artis Film Indonesia (PARFI)
11 Maret : Hari Surat Perintah 11 Maret (Supersemar)
15 Maret : Hari Hak Konsumen Sedunia (Internasional)
17 Maret : Hari Perawat Nasional
18 Maret : Hari Arsitektur Indonesia
20 Maret : Hari Dongeng Sedunia (Internasional)
21 Maret : Hari Puisi Sedunia (Internasional)
21 Maret : Hari Down Syndrome (Internasional)
21 Maret : Hari Hutan Sedunia (Internasional)
22 Maret : Hari Air Sedunia (Internasional)
23 Maret : Hari Meteorologi Sedunia (Internasional)
24 Maret : Hari Peringatan Bandung Lautan Api
24 Maret : Hari Tuberkulosis Sedunia (Internasional)
30 Maret : Hari Film Indonesia

Bulan April

01 April : Hari Bank Dunia (Internasional)
02 April : Hari Peduli Autisme Sedunia (Internasional)
02 April : Hari Buku Anak Sedunia (Internasional)
06 April : Hari Nelayan Indonesia
07 April : Hari Kesehatan (Internasional)
09 April : Hari TNI Angkatan Udara (TNI AU)
16 April : Hari KOPASSUS (Komando Pasukan Khusus)
17 April : Hari Hemophilia Sedunia (Internasional)
18 April : Hari Peringatan Konferensi Asia-Afrika (KAA)
19 April : Hari Pertahanan Sipil (HANSIP)
20 April : Hari Konsumen Nasional
21 April : Hari Kartini
22 April : Hari Bumi (Internasional)
23 April : Hari Buku Sedunia (Internasional)
24 April : Hari Angkutan Nasional
24 April : Hari Solidaritas Asia-Afrika
25 April : Hari Malaria Sedunia (Internasional)
26 April : Hari Kekayaan Intelektual Sedunia (Internasional)
27 April : Hari Pemasyarakatan Indonesia
28 April : Hari Puisi Nasional
28 April : Hari Kesehatan dan Keselamatan Kerja (Internasional)
29 April : Hari Tari (Internasional)

Bulan Mei

01 Mei : Hari Buruh Sedunia (Internasional)
01 Mei : Hari Peringatan Pembebasan Irian Barat
02 Mei : Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas)
05 Mei : Hari Lembaga Sosial Desa (LSD)
05 Mei : Hari Bidan (Internasional)
17 Mei : Hari Buku Nasional
20 Mei : Hari Kebangkitan Nasional
21 Mei : Hari Peringatan Reformasi
29 Mei : Hari Keluarga
31 Mei : Hari Tanpa Tembakau Sedunia (Internasional)

Bulan Juni

01 Juni : Hari Lahir Pancasila
01 Juni : Hari Anak-anak Sedunia (Internasional)
03 Juni : Hari Pasar Modal Indonesia
05 Juni : Hari Lingkungan Hidup Sedunia (Internasional)
08 Juni : Hari Laut Sedunia
21 Juni : Hari Krida Pertanian
24 Juni : Hari Bidan Nasional
26 Juni : Hari Anti Narkoba Sedunia (Internasional)
29 Juni : Hari Keluarga Berencana (KB)

Bulan Juli

01 Juli : Hari Bhayangkara
05 Juli : Hari Bank Indonesia
09 Juli : Hari Satelit Palapa
12 Juli : Hari Koperasi Indonesia
17 Juli : Hari Keadilan (Internasional)
22 Juli : Hari Kejaksaan
23 Juli : Hari Anak Nasional
29 Juli : Hari Bhakti TNI Angkatan Udara

Bulan Agustus

01 Agustus : Hari ASI Sedunia (Internasional)
05 Agustus : Hari Dharma Wanita Nasional
08 Agustus : Hari Ulang Tahun ASEAN
09 Agustus : Hari Masyarakat Adat (Internasional)
10 Agustus : Hari Veteran Nasional
10 Agustus : Hari Kebangkitan Teknologi Nasional
12 Agustus : Hari Remaja (Internasional)
14 Agustus : Hari Pramuka (Praja Muda Karana)
17 Agustus : Hari Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia
18 Agustus : Hari Konstitusi Republik Indonesia
19 Agustus : Hari Departemen Luar Negeri Indonesia
21 Agustus : Hari Maritim Nasional

Bulan September

01 September : Hari Jantung Dunia (Internasional)
01 September : Hari Polisi Wanita (POLWAN)
03 September : Hari Palang Merah Indonesia (PMI)
04 September : Hari Pelanggan Nasional
08 September : Hari Aksara (Internasional)
08 September : Hari Pamong Praja
09 September : Hari Olah Raga Nasional
11 September : Hari Radio Republik Indonesia (RRI)
14 September : Hari Kunjung Perpustakaan
15 September : Hari Demokrasi (Internasional)
16 September : Hari Ozon (Internasional)
17 September : Hari Perhubungan Nasional
17 September : Hari Palang Merah Nasional
21 September : Hari Perdamaian Dunia (Internasional)
24 September : Hari Tani Nasional
26 September : Hari Statistik
27 September : Hari Pos Telekomunikasi Telegraf (PTT)
28 September : Hari Kereta Api
28 September : Hari Jantung Sedunia (Internasional)
29 September : Hari Sarjana Nasional
30 September : Hari Peringatan Pemberontakan G30S/PKI

Bulan Oktober

01 Oktober : Hari Kesaktian Pancasila
01 Oktober : Hari Vegetarian Sedunia  (Internasional)
01 Oktober : Hari Lanjut Usia (Internasional)
02 Oktober : Hari Batik Nasional dan Hari Batik Dunia
05 Oktober : Hari Tentara Nasional Indonesia (TNI)
05 Oktober : Hari Guru Sedunia (Internasional)
10 Oktober : Hari Kesehatan Jiwa Sedunia (Internasional)
14 Oktober : Hari Penglihatan Dunia (Internasional)
15 Oktober : Hari Hak Asasi Binatang (Internasional)
16 Oktober : Hari Pangan Sedunia (Internasional)
16 Oktober : Hari Parlemen Indonesia
20 Oktober : Hari Osteoporosis Sedunia (Internasional)
24 Oktober : Hari Dokter Indonesia
24 Oktober : Hari Perserikatan Bangsa-bangsa (Internasional)
27 Oktober : Hari Penerbangan Nasional
27 Oktober : Hari Listrik Nasional
28 Oktober : Hari Sumpah Pemuda
30 Oktober : Hari Keuangan

Bulan November

05 November : Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional
10 November : Hari Ganefo
10 November : Hari Pahlawan
11 November : Hari Bangunan Indonesia
12 November : Hari Kesehatan Nasional
12 November : Hari Ayah Nasional
14 November : Hari Brigade Mobil (BRIMOB)
14 November : Hari Diabetes Sedunia (Internasional)
20 November : Hari Anak (Internasional)
21 November : Hari Pohon (Internasional)
21 November : Hari Televisi Sedunia (Internasional)
22 November : Hari Perhubungan Darat Nasional
25 November : Hari Guru (PGRI)
28 November : Hari Menanam Pohon Indonesia
29 November : Hari KORPRI (Korps Pegawai RI)

Bulan Desember

01 Desember : Hari Artileri
01 Desember : Hari AIDS Sedunia (Internasional)
03 Desember : Hari Penyandang Cacat (Internasional)
07 Desember :  Hari Penerbangan Sipil (Internasional)
09 Desember : Hari Armada Republik Indonesia
09 Desember : Hari Anti Korupsi Sedunia
10 Desember : Hari Hak Asasi Manusia
12 Desember : Hari Transmigrasi
13 Desember : Hari Nusantara
15 Desember : Hari Juang Kartika TNI-AD (Hari Infanteri)
19 Desember : Hari Bela Negara
20 Desember : Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional
22 Desember : Hari Ibu Nasional
22 Desember : Hari Sosial
25 Desember : Hari Natal

Hari-hari Besar Keagamaan

Selain Hari-hari besar diatas, terdapat hari-hari Besar Keagamaan yang tidak tercantum pada daftar diatas karena setiap tahun diperingati dengan tanggal yang berubah-ubah.

Rabu, 16 Mei 2018

Rindu Gus Dur

~Eyang Gus Dur~
Sepeninggal Njenengan semua urusan jadi repot,
Kian hari sikap keberagamaan kami kian peot,
Nilai dan pemahaman Islam kami tambah reot.
(Gus… Kami rindu Njenengan, Gus…)

Gus…
Di negeri ini sekarang
Kebangkitan islam dikerdilkan oleh gempita munculnya politik identitas sebagai jalan pintas
Dengan ikon gerakan berjilid-jilid, angka-angka cantik dan klaim besarnya kuantitas
Yang katanya aksi damai tapi sarat ujaran kebencian yang tidak pantas
Sementara aneka persoalan besar bangsa; korupsi, kemiskinan, pengangguran, human trafficking,
anarkisme, disintegrasi, narkoba, tak pernah serius diurus tuntas

Gus…
Alienasi nilai kemanusiaan sudah tahap stadium kritis
Stok kesantunan dan welas asih kian menipis

Nilai-nilai toleransi dan cinta kasih yang susah payah njenengan ukir
Koyak tercabik oleh amuk amarah teriakan sesat, munafik, kafir…!
Ironisnya sambil diiringi yel-yel beringas pekik takbir…

Gus…
Wajah islam yang njnengan bumikan sebagai rahmah yang ramah
Berubah rupa menjadi murka dan amuk amarah
Klimaksnya… Seorang anak negeri dibakar hidup-hidup atas nama nahi munkar yang salah kaprah

Gus…
Kami rindu Njenengan, Gus…
Setelah njenengan tiada… Komitmen kebangsaan kami makin aus tergerus
Kebanggaan atas nilai-nilai orisinalitas negeri ini kian kumuh tak terurus
Diamuk utopia mengganti ideologi negara secara asal
Dengan sistem impor yang konon kabarnya sebuah konsep yang sakral
Yang dipaksakan secara sepihak, doktrinal, dan radikal
Padahal di negeri asalnya sudah lama usang, kumal, dan gagal

Gus…
Di negeri ini fitnah dan hoax diobral sebagai bahan komoditas
Laris di pasaran disebu antrian pelanggan yang nihil rasionalitas
Dunia maya menjelma medan perang kurusetra yang membara
Hingga bangunan kebangsaan di ambang amuk prahara

Gus…
Kami rindu Njenengan, Gus…
Kami juga sangat takut
Kami takut… hancurnya negeri ini tinggal menghitung detik
Karena agama kini telah dirujak campur aduk dengan kepentingan politik
Semoga ketakutan kami tidak menjadi nyata, ya Gus…?
Semoga Gusti Allah tetap menjaga Indonesia kami yang indah ini
Amin…

=========
Gorontalo, 26 Agustus 2017
Dibacakan pada Kelas Pemikiran Gusdur (KPG) Gorontalo Angkatan I
Sudarman Pusi(Pembina GUSDURian Gorontalo)

#GusDur #KHAbdurahmanWahid lamumul faatihah . . . #beragam #repot #peot #reot #rindu #nahdlatululama #NU

Link : http://www.gusdurian.net/id/article/opini/Puisi-Rindu-Gus-Dur/

Sumber gambar : karya Kamal https://twitter.com/Fihrilkamal/status/996519534621151232?s=19

Rabu, 09 Mei 2018

5 Kontributor Terbaik Hipwee Bulan April 2018

Setiap bulan Hipwee memilih 5 kontributor terbaik, dan untuk kali ini yang berkesempatan mendapatkan predikat kontributor terbaik bulan April adalah: .
-@asmayadi_er
-@klisaevasartika
-Kharisma Putri
-@islanisaaa
-Vera Fitriani Nurazizah
.
Kalian akan dihubungi via email oleh gufran@hipwee.com, dan hadiah menarik dari Hipwee akan sampai di rumah kalian.
Mau seperti mereka?

Ayo menulis di Hipwee dan menginspirasi jutaan anak muda di Indonesia.
- -
"Syarat untuk menjadi penulis ada tiga, yaitu: menulis, menulis, menulis”. [Kuntowijoyo]
#Hipwee #HipweeCommunity #KontributorTerbaikApril #Menulis #Literasi #April
#Inspirasi #MenemaniLangkahmu #KontenBaik

Rabu, 02 Mei 2018

Politik, Pasar, dan Ideologi

Jakarta - Ideologi politik kita sering berbenturan dengan berbagai kepentingan, baik dalam ranah privat maupun publik. Pertentangan antara dua kutub kepentingan ini bisa menjadi salah satu penyebab terciptanya situasi chaosdalam tatanan sosial.

Tanpa disadari, kita semua yang bermukim di balik sistem demokrasi sedang terjerembab dalam situasi serupa. Konflik horisontal maupun vertikal rentan terjadi dalam dunia perpolitikan.

Dengan adanya konflik seperti ini, maka unsur normatif negara yang legitim sifatnya sering menjadi petaruh dalam menetralisasi situasi sosio-politis. Segala bentuk relasi sosial kemudian digadai pada pola laku politis yang labil. Tak dipungkiri bahwa animo politik seperti ini lambat-laun menciptakan distorsi dalam ruang gerak publik.

Penyimpangan bisa menjadi penanda awal bagaimana ideologi politik kita mudah mengalami disorientasi. Segala bentuk norma, instruksi, dan rancangan dalam misi politis akan mangkir dalam sebuah sistem negara yang stagnan sifatnya. Bahkan psikologi politik seperti ini akan mereduksi sistem demokrasi bangsa yang sah dan integral.

Perhelatan kontestasi politik yang semakin dekat, membuat dunia politik makin hingar-bingar, ibarat produk komersial yang dijajakan ke tengah publik. Bukan hanya iklan politik yang nampak "terselubung" melalui model-model pencitraan para kontestannya, berbagai lembaga survei juga mulai menawarkan jasa-jasa politik mereka untuk membantu mendongkrak citra politik siapapun yang membutuhkannya. Berapa banyak lembaga survei yang merilis "produk politik"-nya yang disesuaikan dengan pesanan, menyurvei berbagai macam hal yang penting bisa mengubah opini publik.

Survei sepertinya telah menggiring opini publik untuk menjauhkan politik dari nilai-nilai ideologis berpolitik itu sendiri, mengarahkannya sekadar fokus pada bentuk-bentuk artistik politik. Isu politik bahkan direduksi menjadi semacam "produk komersial" yang diperjualbelikan. Kita tahu, bahwa isu-isu tertentu yang berkembang dalam masyarakat, seperti kebangkitan komunisme, politisasi agama, atau kenyataan korupsi lalu dimanipulasi menjadi dapat bernilai ekonomis dan dijual sebagai produk politik untuk kepentingan pragmatisme sesaat. Jarak yang semakin dekat dengan pagelaran kontestasi membuat berbagai lembaga survei maupun kontestan politik laku keras dan banyak diminati publik yang cenderung pragmatis dalam memandang dunia politik. 

Jika kita memperhatikan berbagai lembaga survei, tampak jelas mereka memperjualbelikan produk politiknya, dan tentu saja bekerja sama dengan media, bagaima kemudian sebuah hasil survei dapat dengan cepat mempengaruhi opini publik. Masyarakat tentu saja akan lebih mudah memahami lewat atraksi survei yang dipublikasikan media dengan kekuatan artistiknya, bukan pada pesan politiknya itu sendiri. Tak jarang, sebuah rilis survei yang dipublikasikan, mengangkat citra politik pihak tertentu, dan disisi lain menjatuhkan dan memberangus pihak lainnya yang dianggap sebagai lawan politik pemesan survei tersebut. Mirip dengan persaingan yang terjadi dalam dunia bisnis, komersialisasi dunia politik saat ini adalah sebuah keniscayaan.

Dunia politik saat ini tak ubahnya seperti pasar (market) yang di dalamnya marak transaksi jual-beli beragam kepentingan. Produk politik bisa dijual melalui lembaga-lembaga survei yang ada dengan tentu saja berlaku sebuah konsekuensi, semakin bonafid sebuah lembaga survei, maka semakin mahal biaya pembuatan produk politiknya. Proses komersialisasi seperti ini justru semakin menegaskan suburnya praktik politik "dagang sapi" di antara para pelaku-pelaku usaha politik dengan berbagai individu atau kelompok dalam sebuah lembaga politik. Masing-masing pihak berupaya memaksimalkan keuntungan dan kepentingannya sendiri-sendiri.

Kondisi seperti ini semakin menjauhkan politik dari sebuah upaya dialektika yang dinamis, baik pertukaran ide ataupun diskusi yang cenderung mendekatkan ikatan-ikatan ideologis antara masyarakat dan partai politik (parpol). Kontestan individu atau parpol cukup menyewa lembaga survei atu kontestan politik untuk mengemas kepentingannya menjadi sebuah "produk politik" yang bernilai jual di hadapan masyarakat. Padahal, politik dalam tataran idealnya sangat penting dalam proses pembangunan masyarakat, bukan sekadar bagaimana agar politik lebih berorientasi pasar: mengeruk keuntungan dengan cara mengeksploitasi isu-isu politik sehingga bernilai komersial dan mampu "dijual" ke khalayak publik.

Sulit bagi saya mempercayai lembaga survei yang benar-benar "bebas" dari kepentingan apalagi dengan dalih independen hanya ingin mengungkap "kebenaran politik" secara transparan dan mempersilakan publik untuk menilainya. Wajar jika dalam banyak hal muncul kekecewaan dari berbagai kalangan kepada hasil rilis lembaga survei yang sarat bias kepentingan politik dan condong menjadi produsen politik dari pihak-pihak berkepentingan yang membiayainya.

Anda boleh setuju ataupun tidak terhadap lembaga survei, karena tidak begitu berpengaruh terhadap kebaikan dunia politik. Pasalnya, komersialisasi dunia politik tak terbantahkan di tengah menguatnya aspek kapitalisasi yang mengejar berbagai keuntungan ekonomis, tak peduli lagi soal ideologi, nilai-nilai atau fatsoen politik yang masih dipegang teguh oleh sebagian masyarakat. Dalam politik tak lagi ditemukan loyalitas, karena komersialisasi dunia politik berupaya mencari mitra-mitra yang lebih menguntungkan dirinya sendiri. Jika sudah dianggap "mengganggu" dan "membahayakan" produk politik yang sedang mereka jual, seorang loyalis sekalipun bisa didepak karena tidak memberi keuntungan ekonomis apapun.

Lembaga survei dan semacamnya menciptakan persaingan semakin bebas dan terbuka dalam berbagai interaksi di dunia politik. Kenyataan ini bahkan mendorong iklim investasi politik tidak lagi murah, bahkan seringkali menjadi beban utang yang dilunasi dengan korupsi oleh banyak para aktor politik yang memenangkan kontestasi. Mereka menjadi semakin pragmatis, mengeruk keuntungan pribadi dari jalur-jalur kekuasaan yang diperolehnya, bukan lagi semakin menguatkan ideologi politik yang dibawanya yang dipakai sebagai "alat" membangun masyarakat.

Kita tentu merasakan, tak adanya ruh politik yang bersemayam dalam ideologi para kontestan, yang ada pragmatisme sesaat, persaingan yang tak sehat, menggeser ide-ide politik yang berasaskan kesejahteraan rakyat menjadi sekadar transaksi ekonomi yang saling menguntungkan. Masih percaya lembaga survei di tengah era komersialisasi dunia politik?

Oleh : Rahmat Asmayadi

Sumber : Kolom Opini DetikNews

Senin 12 Februari 2018, 13:09 WIB

Survei Terbaru : Tingkat Literasi Indonesia di Dunia Rendah

Indonesia menempati ranking ke 62 dari 70 negara berkaitan dengan tingkat literasi, atau berada 10 negara terbawah yang memiliki tingkat li...