Rabu, 17 Mei 2017

PAC Ansor Sidoarjo Kota Audiensi Dengan Dinas Pendidikan Sidoarjo

GP Ansor Sidoarjo Adakan Pondok Aswaja, Antisipasi Gerakan Radikal di Sekolah

Menindaklanjuti hasil temuannya mengenai penyebaran paham radikal di beberapa sekolah yang ada di wilayah Kabupaten Sidoarjo, PAC GP Ansor Sidoarjo bertandang ke Kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Sidoarjo untuk berdiskusi mencari solusi dan pencegahannya.

Pertemuan ini berlangsung di ruang kerja Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Sidoarjo, Senin (15/5) siang. Rombongan, GP Ansor Kecamatan Sidoarjo dipimpin langsung ketuanya, Yusak Arifin dan ditemani pengurus harian bersama Sekretaris Dinas Tirto Adi membicarakan isu-isu radikalisme yang sudah masuk ke sekolah-sekolah.

Dalam sambutannya, Ketua PAC GP Ansor Sidoarjo Yusak Arifin mengatakan, pihaknya akan melakukan roadshow ke sekolah-sekolah guna mengenalkan konsep kebangsaan dan bela negara terutama tentang ke-aswaja-an yang korelasinya dengan agama. “Bulan puasa nanti kita akan adakan pondok aswaja setiap hari di sekolah-sekolah,” katanya.

Kemudian dia pun menganjurkan Dinas Pendidikan untuk berkenan menjembatani dan memberikan fasilitas, mana saja sekolah yang dijadikan objek pengajaran materi ahlussunah waljamaah (aswaja). Kemudian pengajaran ini tidak berhenti pada pembelajaran yang bersifat muatan lokal. Tapi, harapan kedepan nanti materi aswaja dapat dijadikan sebagai kurikulum belajar.

Pria yang biasa disapa Yusak ini membeberkan, pemahaman yang masuk ke anak didik tentang radikalisme salah satunya berasal dari sekolah. Tapi, dari luar sekolah yang dibawa salah seorang siswa yang sudah terkontaminasi paham radikal. “Si anak ini di luar jam sekolah mengikuti aktivitas kegiatan organisasi yang secara akidah menjurus pada radikalisme. Kemudian, dia bawa ke sekolah dan sekolah dijadikan media untuk menyebarluaskan paham itu kepada teman-temannya,” bebernya.

Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Sidoarjo Tirto Adi menyambut baik ajakan PAC GP Ansor Kecamatan Sidoarjo dalam menghalau paham radikal masuk ke sekolah. “Kerja sama ini jangan hanya dilakukan pada bulan ramadhan saja, terlebih pada awal masuk tahun ajaran baru (MOS). Ini sebagai bentuk tindakan preventif kita,” ucapnya.

Selain pondok aswaja, nanti akan digalakkan budaya baca tulis khususnya bidang literasi. “Insya Allah, GP Ansor akan menolong anak-anak kita untuk tidak terjerumus pada jalur-jalur yang tidak benar,” ujar Tirto yang juga menjabat Wakil Ketua Tanfidziyah MWC NU Sidoarjo.

Terkait pengawasan, Tirto mengklaim sudah menginstruksikan para pengawas sekolah agar bekerja secara optimal dan maksimal. Setiap minggu, pengawas itu keliling ke sekolah-sekolah. “Makanya, saya tekankan mereka agar mengawas hanya sebatas akademik, tapi secara menyeluruh,” pungkasnya. 

Sabtu, 13 Mei 2017

Ruwah dan Haul Desa, warga Sarirogo Gelar Istighasah Bersama

Sidoarjo – Warga Desa Sarirogo, Kacamatan Sidoarjo, Sabtu (13/05/17) menggelar kegiatan Haul Sesepuh Desa Sarirogo dengan membaca Istighosah dan Dzikir Bersama. Acara yang dipusatkan di Gedung Serbaguna Kantor Desa Sarirogo sebagai perwujudan menghormati para leluhur yang telah mendahului. Selain itu juga sebagai wujud persatuan, kesatuan antar warga masyarakat Desa Sarirogo.

Ustad Khoirum, selaku Panitia Haul, dalam sambutan mengatakan bahwa kegiatan Haul atau Ruwah Desa biasa diadakan tiap tahun, “Menjelang Bulan Ramadhan, Kami selaku panitia acara mengucapkan, alhamdulillah dengan kekompakan warga, sampai sekarang kegiatan Haul dapat berjalan, kami mewakili panitia merasa bersyukur sampai acara tersebut berjalan dengan baik,” Katanya.

Di dampingi sejumlah Perangkat Desa, Abdul Haris selaku Plh. Kepala Desa Sarirogo menambahkan, agar warganya selalu kompak terjalin rasa persatuan dan kebersamaannya dengan sebaik-baiknya, “Alhamdulillah, adanya Haul Sesepuh Desa ini menambah barokah pada warga Desa. Terutama dalam hal persatuan dan kesatuan. Kita semua berdo’a agar persatuan dan kebersamaan tetap terjalin baik,” Imbuhnya.

Sementara itu, turut hadir Ari Isnawan Ketua Gerakan Pemuda (GP) Ansor Desa Sarirogo, Kecamatan Sidoarjo Kota, menuturkan, haul sesepuh desa layak di uri-uri kelestariannya. Selain kita bisa mendo’akan orang tua yang telah dahulu tiada sekaligus rasa syukur. Bisa juga dijadikan wahana pemersatu dan kerukunan warga desa.

Semua warga berkumpul dan duduk bersama di ruang serbaguna sehingga kelihatan guyub rukun satu sama lain. Mulai dari anak-anak, remaja sampai orang tua semua hadir di Kantor Desa Sarirogo, “ Ya kami sangat setuju acara ini terus digelar, apalagi ditambah dengan acara Dzikir dan Istighasah sehingga acara tambah meriah, “ Tuturnya.

Lebih lanjut Haris menghimbau kepada warga dan anak-anak muda untuk menghindari kegiatan yang tidak bermanfaat dan menimbulkan permasalahan. “Semoga dengan adanya kegiatan Haul Sesepuh Desa ini kita semua mendapat syafaat dan barokah Nabi Muhammad SAW,” pungkasnya. 

Turut hadir dalam acara tersebut pemuda Karang Taruna, Banom NU, IPNU-IPPNU, Ansor, Banser serta tokoh masyatakat dan warga Desa Sarirogo.

Minggu, 16 April 2017

Sejarah PMII

PMII Singkatan dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia. Sebuah organisasi mahasiswa yang berfaliasi kepada perjuangan NU. Berdirinya PMII merupakan amanat dari Konperensi Besar IPNU di Kaliurang, Jogjakarta pada 14-17 Maret 1960. Konbes kala itu menetapkan untuk membentuk sebuah organisasi mahasiswa yang lepas dari IPNU, baik secara struktural organisasi maupun administratif. Dibentuknya panitia sponsor pendiri organisasi mahasiswa tersebut dengan tugas melaksanakan musyawarah mahasiswa nahdliyin se-Indonesia, dengan limit waktu satu bulan setelah keputusan itu. Dipilihlah 13 orang untuk menjadi perintis berdirinya organisasi baru tersebut. Diantaranya : Chalid Mawardi, Said Budairy, M. Sobich Ubaid, M. Makmun Syukri, Hilman, Ismail Makky, Moensif Nachrowi, Nuril Huda Suaidy, Laily Mansur, Abd Wahab Jailani, Hizbullah Huda, Chalid Narbuko dan Ahmad Husain. Setelah melaksanakan musyawarah mahasiswa nahdliyin se-Indoneaia di Gedung Madrasah Mualimin NU Wonokromo (sekarang TPPNU Khadijah) Surabaya, serta berbagai persiapan yang dinilai penting selama 14-16 April 1960, maka pada tanggal 17 April 1960, PMII dideklarasikan. Proses deklarasi dilakukan di Balai Pemuda dalam sebuah resepsi yang mendapatkan perhatian besar massa mahasiswa, organisasi ekstra dan intra kampus, serta dihadiri oleh wakil-wakil golongan politik. Musyawarah juga memutuskan pembentukan tiga orang formatur, yaitu Mahbub Djunaidi sebagai Ketua Umum, Chalid Mawardi sebagai Ketua Satu, dan Said Budairy sebagai Sekretaris Umum. Sejak kelahirannya, PMII bernaung dibawah payung Partai NU. Posisinya tidak jauh beda dengan Banom dan Lembaga lain yang sudah ada sebelumnya sebagai organisasi pengkaderan. Namun sejak 14 Juli 1972 sikap itu berubah. Melalui Musyawarah Besar II di Murnajati, Lawang, Malang, PMII secara struktural telah berpisah dengan NU. Sikap independen itu terus berlangsung hingga sekarang. Meski secara struktural PMII telah berpisah dengan NU, namun secara emosional hubungan itu tetap tak terpisahkan. Antara keduanya masih memiliki benang merah pemahaman ideologi, yaitu Ahlussunnah Waljamaah. Lambang PMII diciptakan oleh Said Budairy dan Mars dibuat oleh Mahbub Djunaidi. surveivor.blogspot.com

Senin, 10 April 2017

Kiai Mas Alwi, Pendiri Nahdlatul Ulama yang Terlupa

Saat merebak isu “Pembaharuan Islam”(Renaissance), Kiai Mas Mansur, adik sepupu Kiai Mas Alwi, mempelajarinya langsung pada Muhammad Abduh, rektor Universitas al-Azhar, Mesir. Maklum, Kiai Mas Mansur berasal dari keluarga yang mampu secara material, sehingga dapat mencari ilmu hingga ke Aleksandria (Mesir) sana. Kiai Mas Alwi yang bukan dari keluarga kaya pun, bertanya-tanya tentang apa yang sejatinya dicari Kiai Mas Mansur hingga ke negeri Mesir. Padahal Renaissance (pembaharuan) itu berasal dari Eropa. Maka ia pun berusaha mengetahui apa sebenarnya Renaissance itu ke Eropa, melalui Belanda dan Prancis-dengan menggabungkan diri dalam pelayaran. Pada masa itu, orang yang bekerja di pelayaran mendapat stigma buruk di masyarakat dan memalukan bagi keluarga. Sebab pada umumnya pekerja pelayaran selalu melakukan perjudian, zina, mabuk, dan tindak asusila lainnya. Sejak saat itulah keluarga Kiai Mas Alwi mengeluarkannya dari silsilah keluarga dan ‘diusir’ dari rumah. Setelah Kiai Mas Alwi berhasil mendapat jawaban dari kegelisahannya, ia pun kembali ke Hindia Belanda. Setiba di tanah air, ia langsung dikucilkan oleh para sahabat, rekan sejawat, dan para tetangga. Tak patah arang, Kiai Mas Alwi membuka warung kecil di Jalan Sasak, dekat wilayah Ampel, demi memenuhi hajat hidupnya. Mengetahui ia telah pulang dari perantauan, Kiai Ridlwan pun datang menyambang. “Kenapa sampean datang ke sini, Kang? Nanti sampean dicuci pakai debu sama para kiai lain, sebab warung saya ini sudah dianggap najis mughalladzah?” Kiai Ridlwan malah balik bertanya. “Dik Mas Alwi, sebenarnya apa yang sampean lakukan sampai pergi berlayar ke Eropa?” “Begini, Kang Ridlwan. Saya ingin memahami apa sih sebenarnya Renaissance itu? Lah, Dik Mansur mendatangi Mesir untuk mempelajari Renaissance itu salah, sebab tempatnya ada di Eropa. Coba sampean lihat nanti kalau Dik Mansur datang, dia pasti akan berkata begini, begini dan begini...” (maksudnya adalah kembali ke al-Quran-Hadits, tidak bermadzhab, tuduhan bid’ah dan sebagainya) “Renaisans di Mesir itu sudah tidak murni lagi, Kang Ridlwan, sudah dibawa makelar. Lha orang-orang itu mau melakukan pembaharuan apa dalam tubuh Islam? Agama Islam sudah sempurna. Tidak ada lagi yang harus diperbaharui. Al-Quran dengan jelas menyatakan": الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِيناً “… Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni`mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu…” (QS. al-Maidah [5]: 3) Inti dari perjalanan Kiai Mas Alwi ke Eropa adalah, Renaisans yang ada dalam dunia Islam adalah upaya pecah belah yang dihembuskan dunia Barat, khususnya Belanda dan Prancis. Kiai Ridlwan kembali bertanya. "Dari mana sampean tahu?" “Karena saya berhasil masuk ke banyak perpustakaan di Belanda." “Bagaimana caranya sampean bisa masuk?” “Dengan menikahi perempuan Belanda yang sudah saya Islam-kan. Dialah yang mengantar saya ke banyak perpustakaan. Untungnya saya tidak punya anak dengannya." Setelah Kiai Mas Alwi membabarkan perjalanannya ke Eropa secara panjang lebar, maka Kiai Ridlwan berkata: “Begini, Dik Alwi, saya ingin menjadi pembeli terakhir di warung ini." “Ya jelas terakhir, Kang Ridlwan, karena ini sudah malam." “Bukan begitu. Sampean harus kembali lagi ke Nahdlatul Wathon. Sebab sudah tidak ada yang membantu saya sekarang. Kiai Wahab lebih aktif di Taswirul Afkar. Sampean harus membantu saya." Keesokan pagi, sebelum Kiai Ridlwan sampai di Nahdlatul Wathon, ternyata Kiai Mas Alwi sudah tiba lebih dulu. Kiai Ridlwan yang masih kaget pun berkata: “Kok sudah ada di sini?” “Ya, Kang Ridlwan, tadi malam ternyata warung saya laku dibeli orang. Uangnya bisa kita gunakan untuk sekolah ini." Kedua kiai muda tersebut kemudian kembali membesarkan nama sekolah Nahdlatul Wathon. Makam Kiai Mas Alwi Sampai saat ini, belum ditemukan pula data tentang kapan Kiai Mas Alwi wafat, yang jelas, makam beliau terletak di pemakaman umum Rangkah, yang sudah lama tak terawat--bahkan pernah berada dalam dapur pemukiman liar yang ada di tanah pekuburan umum. KH Asep Saefuddin, Ketua PCNU Surabaya, pernah mengerahkan Banser guna menertibkan rumahrumah yang merambah ke makam Kiai Mas Alwi. Maka sejak saat itu, makam beliau mulai dibangun dan diberi pagar. Kini, setiap perhelatan Harlah NU, Pengurus Cabang NU Surabaya kerap mengajak MWC dan Ranting se-Surabaya untuk ziarah ke makam para Muassis, khususnya wilayah Surabaya. Pertanyaan kita, mengapa beliau dikebumikan di pemakaman umum? Tak ada jawaban pasti. Kemungkinan terbesar, karena beliau telah dikeluarkan dari silsilah keluarganya. Sebagian kecil Nahdliyin yang mengetahui fakta ini sempat mengusulkan agar makam beliau dipindah ke kawasan Ampel. Berita ini telah diterima oleh PCNU Surabaya dan akan ditindaklanjuti. Tetapi bila prosesnya menemukan jalan buntu, maka PCNU akan berencana memindah makam beliau ke kawasan makam Jl. Tembok, diletakkan di sebelah makam sahabatnya, Kiai Ridlwan Abdullah. Di area makam tersebut telah dikebumikan pula beberapa tokoh NU, di antaranya adalah; KH Abdullah Ubaid dan KH Thohir Bakri (dua tokoh pendiri Ansor), Kiai Abdurrahim (salah seorang pendiri Jamqur atau Jam'iyah Qurra’ wa l-Huffadz), Kiai Hasan Ali (Kepala logistik Hizbullah), Kiai Amin, Kiai Wahab Turham, Kiai Anas Thohir, Kiai Hamid Rusdi, Kiai Hasanan Nur, dan beberapa kiai lain. Sosok besar yang nyaris terpendam dalam kuburan sejarah ini, telah menanggung risiko serius dengan dikeluarkan dari daftar keluarga sekaligus hak warisnya. Namun ia tetap melanjutkan tekadnya meneliti akar persoalan umat Islam saat itu hingga sampai ke Benua Biru. Sudah sepantasnya Muslim Indonesia harus menyertakan nama Kiai Mas Alwi saat nama para Muassis NU lain disebut. Semoga Allah mengganjar perjuangan Kiai Mas Alwi dan para Muassis NU sebagai amal jariyah mereka. Semoga Allah mengangkat derajat mereka dan memberi keberkahan kepada para pejuang NU saat ini, sebagaimana Allah telah melimpahkan keberkahan kepada mereka semua. Semoga juga Pemerintah saat ini tergerak menahbis Kiai Mas Alwi sebagai pahlawan bangsa Indonesia--setelah Kiai As'ad Syamsul Arifin--dari kalangan Nahdlatul Ulama. Amin ya Rabb l-'Alamin. Al-Fatihah... http://www.nu.or.id/post/read/75944/kiai-mas-alwi-pendiri-nahdlatul-ulama-yang-terlupa

Kamis, 06 April 2017

H-2 Istighosah Kubro, GOR steril dari PKL

Persiapan jelang Istighosah Kubro dalam rangka Harlah NU ke 94 yang akan digelar di GOR Sidoarjo pada 9 April 2017 nanti. Pihak Disporapar (Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata) Sidoarjo telah mempersiapkan berbagai perlengkapan, sarana dan prasarana diperlukan, diantaranya mensterilkan seluruh PKL mulai tanggal 8 April 2017. Plt Disporapar, Drs Joko Supriyadi menjelaskan, persiapan pertama adalah semua GOR dan sekitarnya telah dipersiapkan untuk Istighosah Kubro itu. Stadion utama sebagai tempat Istighosah, gedung serba guna juga dipersiapkan untuk istirahat bagi jamaah yang datang lebih awal. Karena mereka juga sangat jauh dari luar kota, tentu saja sebelum ikut istighosah tentu saja butuh isrirahat sejanak. ”Barangkali ada jamaah yang datangnya malam, atau pagi sebelum subuh, bisa istirahat sejak di gedung serba guna itu,” katanya. Kemudian lapangan tennis juga akan dibuka seluruhnya, termasuk seluruh PKL juga dilarang jualan, karena lahanya seluruhnya akan digunakan penuh untuk parkir. Pokoknya semuanya akan dimaksimalkan, termasuk pintu-pintu GOR yang jumlahnya ada 16 pintu akan kita buka semuanya. Agar para jamaah bisa leluasa keluar/masuk saat sebelum atau sesudah istighosah, hal ini dilakukan jangan sampai terjadi desak-desakan di pintu GOR nantinya. ”Nantinya juga dipersiapakan toilet portable sebanyak 30 unit, yang ditempatkan di beberapa titik. Selain itu mushola-mushola yang ada di GOR dan sekitarnya juga akan dimaksimalkan untuk kepentingan para jamaah,” jelas Joko Supriyadi, Selasa (4/4) sesuai yang dilansir pada Bhirawa Online. Perlu diketahui Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jatim akan menggelar istighosah kubro di Stadion Gelora Delta, Sidoarjo, Ahad, 9 April 2017. Istighosah yang bertemakan ‘Mengetuk Pintu Langit, Menggapai Nurulloh’ ini bertujuan mengawal dan mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ketua Panitia, Moh Kirom menjelaskan, selain untuk keselamatan bangsa, tujuan utama acara istighotsah kubro ini mengawal dan mempertahankan NKRI. Acara itu, nantinya akan dihadiri puluhan kiai dan ratusan ribu warga nahdliyin di seluruh Jatim. ”Estimasi kami sekitar 300-500 ribu orang akan hadir. Selain itu, akan hadir pula Kepala Kepolisian RI Jenderal Tito Karnavian dan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo, dan kabar terakhir, Kapolri dan Panglima TNI juga akan hadir,” jelas Kirom yang juga sebagai Wakil Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Sidoarjo. Prosesi acaranya akan dimulai dengan bacaan salawat pada pukul 05.30 WIB yang dipimpin Habib Umar Assegaf dari Pasuruan. Setengah jam kemudian, acara dilanjutkan dengan sambutan Ketua Pengurus Wilayah NU Jatim, KH Hasan Mutawakkil Alallah dan Rais Aam Pengurus Besar NU KH Ma’ruf Amin. Untuk memperlancar jalannya acara mengingat peserta yang hadir mencapai ratusan ribu, panitia terus berkoordinasi dengan Kepolisian Resor Kota Sidoarjo, Dinas Perhubungan Sidoarjo, Satuan Polisi Pamong Praja Sidoarjo, Pemerintah Kabupaten Sidoarjo, yakni Disporapar serta sejumlah pihak terkait lain. Panitia juga mempersiapkan fasilitas di luar stadion untuk mengantisipasi membeludaknya jemaah yang hadir. Selain itu, panitia akan menutup dan mensterilkan jalan menuju stadion. Semuanya sudah kami koordinasikan untuk kesuksesan acara ini. 

Minggu, 02 April 2017

RESMI DILANTIK, MWC NU SIDOARJO USUNG TEROBOSAN PRIORITAS

Pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC. NU) Sidoarjo masa khidmat 2017-2022 melaksanakan acara pelantikan dan Musyawarah Kerja (Musker) I di Masjid Raya Nurul Huda, Luwung – Sarirogo, Sidoarjo. Pada Minggu, 02 April 2017. 

Hadir pada acara itu, ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sidoarjo, Camat Sidoarjo, Kapolsek, Para Kyai, dan segenap pengurus NU beserta Banom se-Kecamatan Sidoarjo kota. 

Pelantikan tersebut dipimpin oleh PCNU Sidoarjo, H. Suwarno, Sekretaris PCNU Sidoarjo membacakan SK pengurus, sedangkan naskah baiat dibacakan langsung oleh Rais Syuriah PC. NU Sidoarjo, KH. Ahmad Rofiq Sirodj. Resmi dilantik M. Suryono, SH, Ketua Tanfidziyah MWC. NU dan KH. M. Zuamudin Nasikhin, S.Ag, sebagai Rais Syuriyah MWC NU Sidoarjo membangun empat terobosan prioritas. 

“Empat terobosan prioritas tersebut menjadi target lima tahun kedepan, diantaranya pendidikan kader, penguatan aswaja, kemandirian jam’iyah dan penyelamatan aset NU baik aset amaliyah maupun bangunan. 

“Terobosan prioritas tersebut merupakan pondasi dalam membangun dan memperkuat aqidah ala ahlus sunnah wal jama’ah an nahdliyyah,” tutur ketua MWC. NU Sidoarjo saat ditemui Tim Cyber Sidoarjo Kota. 

Hadir pada acara itu Camat Sidoarjo, Imam Pambudi mendukung sepenuhnya program MWC. NU Sidoarjo untuk lima tahun kedepan, pihaknya juga menghimbau agar NU bisa bermitra, bekerjasama dalam membangun Sidoarjo. 

Sementara itu ketua PC. NU Sidoarjo, KH. Maskhun menyampaikan, pengurus yang baru dilantik agar konsisten dalam berkhidmah melaksanakan tugas penting yakni mas’uliyah diniyah (persoalan keagamaan), dan mas’uliyah wathoniyah (persoalan kenegaraan). 

“Termasuk memperjuangkan dan jihad NU dalam mengawal kegiatan jam’iyah kemasyarakatan adalah berkhidmah dengan kesadaran”, jelas dosen Universitas Sunan Giri (Unsuri) tersebut.

PC. NU juga menghimbau agar nahdlatul ulama mewaspadai gerakan-gerakan fundamentalis, radikalis dan teroris yang secara terang-terangan memprovokasi umat islam Indonesia untuk memusuhi NU dan NKRI. 

Ketua panitia pelantikan Mulyo Agung sangat gembira dengan terlaksananya event penting tersebut. Menurut dia agenda pelantikan berjalan sesuai dengan aturan. “saya sangat berterima kasih kepada semua yang mendukung terselenggaranya acara ini. Semua berjalan lancar” katanya.

Selasa, 28 Maret 2017

Perkuat Kader PAC GP Ansor Sidoarjo Gelar DKD

SURVEIVOR.COM, Sidoarjo - Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda Ansor kecamatan Sidoarjo menggelar Diklat Kepemimpinan Dasar (DKD) untuk Ansor dan Banser sekaligus Pelantikan Ranting se-kecamatan Sidoarjo di Gedung Majelis Wilayah Cabang (MWC) NU Pacet-Mojokerto.

Dengan mengusung tema “kerja cerdas untuk umat”, Di luar materi ke-Ansoran, DKD yang berlangsung dari Minggu 26 Maret s/d 27 Maret tersebut menghadirkan narasumber mumpuni, di antaranya Rais Syuriah NU Sidoarjo yang mengajak kader untuk memahami sejarah aswaja sebagai wujud jawaban atas tantangan zaman.

Disamping itu menurut Ketua Panitia DKD Nasrun Affandi, kegiatan tersebut merupakan awal kebangkitan GP Ansor Kecamatan Sidoarjo, dan Kabupaten Sidoarjo umunya.

Dalam isi sambutan Yusak Arifin Ketua PAC GP Ansor Sidoarjo Kota “Kegiatan ini adalah bukti keseriusan kita untuk menggerakan pemuda Nahdatul Ulama serta mewujudkan cita cita perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia,”

"Dengan diadakannya DKD, peserta jangan berhenti sampai disini. Perjuangan dalam mejaga tradisi dan amaliyah NU harus diawali dari tingkat yang terkecil yakni Ranting/setingkat Desa," imbuh Yusak.

Peserta DKD diharapkan mampu mengaplikasikan tradisi Aswaja NU diwilayahnya masing-masing berupa kegiatan Majelis, Dzikir, Shalawat (MDS) Rijalul Ansor. “Termasuk pengambilan sertifikat DKD, peserta harus mampu menghidupkan Majelis, Dzikir, Shalawat (MDS) Rijalul Ansor di rantingnya masing-masing,” ujar Faishol Latif, wakil ketua PC GP. Ansor Sidoarjo bidang pengkaderan, sebagaimana siaran pers nusidoarjo.org pada Senin (27/03).

Hal ini dituturkan Ketua PC GP. Ansor Kabupaten Sidoarjo H. Rizza Ali Faizin, ini merupakan cikal bakal penjaga dan pengawal NKRI, sebagaimana aksi radikalisme yang terjadi di Gedangan – Sidoarjo. Oleh karena itu para kader diharuskan lebih jeli dalam membaca dan menyaring informasi sosial media.

“GP Ansor merupakan gerakan yang menjunjung tinggi akhlakul karimah dalam mengejawantahkan setiap pergerakannya, “pungkas Mantan Sekretaris Ansor Sidoarjo.

Kegiatan yang berlangsung selama dua hari ini berisikan materi tentang ke-aswaja-an, ke-ansoran, serta caraka malam yang memberikan gemblengan terhadap peserta yang diharapkan dapat memberikan mental dalam mengawal NKRI dan menjaga tradisi nahdliyin.

Pembukaan kegiatan tersebut dihadiri Khoirul Anam selaku ketua Satkorcab Ansor Sidoarjo, dan Sanusi Koramil TNI sebagai narasumber kebangsaan. Sementara penutupan diakhiri dengan Pelantikan dan Pembaiatan yang diikuti sebanyak 56 peserta dengan harapan akan muncul generasi baru penerus perjuangan Nahdlatul Ulama.

Cak Imin Seruhkan Bershalawat

Kata Cak Imin PKB itu, Partai Kumpulan Bershalawat. http://www.dlmusicas.com/search/wakhid-agus.html

Selasa, 21 Maret 2017

Guru honorer wajib mendapat SK Daerah

*Permendikbud Nomor 8 tahun 2017, Guru Honorer Sekolah Negeri Wajib Dapat SK Pemda, ini Penjelasannya* *JAKARTA,* Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 8 Tahun 2017 Tanggal 1 Maret guru honorer besar kemungkinan akan mendapat SK dari Pemerintah Daerah. Dengan adanya SK Pemerintah Daerah, maka bagi guru yang belum memiliki NUPTK akan berkesempatan untuk mengajukan NUPTK. Dan bagi guru yang sudah memiliki NUPTK dan belum bersertifikat pendidik akan mendapat kesempatan mengikuti sertifikasi. Penjelasan terkait guru honorer sekolah negeri wajib mendapat SK dari pemerintah daerah terdapat dalam uraian pada komponen pembayaran guru sebagai berikut : Pembayaran Honor: 1. Guru honorer (hanya untuk memenuhi SPM). 2. Tenaga administrasi (tenaga yang melaksanakan administrasi sekolah termasuk melakukan tugassebagai petugas pendataan Dapodik), termasuk tenaga administrasi BOS untuk SD. 3. Pegawai perpustakaan. 4. Penjaga sekolah. 5. Petugas satpam. 6. Petugas kebersihan. Keterangan: 1. Batas maksimum penggunaan dana BOS untuk membayar honor bulanan guru/tenaga kependidikan dan non kependidikan honorer di sekolah yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah sebesar 15% (lima belas persen) dari total BOS yang diterima, sementara di sekolah yang diselenggarakan oleh masyarakat maksimal 50% (lima puluh persen) dari total BOS yang diterima; 2. Guru memiliki kualifikasi akademik S-1/D-IV; 3. Bukan merupakan guru yang baru direkrut setelah proses pengalihan kewenangan; dan 4. Guru honor pada sekolah yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah sebagaimana yang dimaksud dalam huruf a wajib mendapatkan penugasan dari pemerintah daerah dan disetujui oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (kemendikbud) melalui Sekretaris Jenderal berdasarkan usulan dari dinas pendidikan provinsi dengan menyertakan daftar data guru hasil pengalihan kewenangan yang meliputi jumlah guru, nama guru, dan mata pelajaran yang diampu, dan sekolah yang menjadi satuan administrasi pangkalnya. SELAMAT BAGI GURU HONORER DI SEKOLAH NEGERI.

Kamis, 09 Maret 2017

Jadwal pencairan TPP dan Triwulan I,II,III dan IV tahun 2017

Penyaluran atau pencairan Tunjangan Sertifikasi Guru atau Tunjangan Profesi Pendidik (TPP) tahun 2017 melalui Transfer Daerah harus sesuai *Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 187/PMK.07/2016 yang diterbikan pada tanggal 2 Desember 2016*. Sesuai peraturan tersebut penyaluran dana TPP dilaksanakan secara triwulanan, yaitu:  *a. triwulan I paling cepat pada bulan Maret 2017*.  *b. triwulan II paling cepat pada bulan Juni 2017*.  *c. triwulan III paling cepat pada bulan September 2017*. *d. triwulan IV paling cepat pada bulan November 2017.*  Bagi guru yang telah memenuhi syarat menerima TPP akan diterbitkan Mekanisme Surat Keputusan Tunjangan Profesi (SKTP). Mekanisme penerbitan dengan digital, yaitu menggunakan sistem Data Pokok Pendidikan (Dapodik). SKTP diterbitkan oleh Direktorat Jenderal dengan menggunakan sumber data Ditjen Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) dari Dapodik setelah data valid menurut sistem. Ditjen GTK menerbitkan SKTP dua tahap dalam satu tahun. Tahap 1 berlaku untuk semester satu, terhitung mulai bulan Januari sampai dengan Juni 2017 Sedangkan tahap 2 berlaku untuk semester dua terhitung mulai bulan Juli sampai dengan Desember 2017 Tunjangan Profesi disalurkan kepada rekening guru yang tertera dalam SKTP setiap triwulan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. Guru wajib mengecek secara online kelengkapan data sebagai persyaratan untuk penerbitan SKTP pada info PTK dengan laman  *http://info.gtk.kemdikbud.go.id.* Direktorat Jenderal GTK memverifikasi kelayakan calon penerima Tunjangan Profesi, yaitu; beban mengajar 24 jam, rasio siswa guru, masa kerja, golongan, dan gaji pokok sebelum SKTP diterbitkan. Sumber Info : (http://www.sekolahdasar.net).

Selasa, 28 Februari 2017

BELAJAR DARI LEMBU PETENG [Tokoh Lokal Yang Terlupakan]

Disebutkan, konon Lembu Peteng adalah anak hilang dari pasangan Raja Brawijaya dan nyai Wandan Kuning. Kenapa anak hilang? Gini ceritanya.
Konon, Raja Brawijaya pernah mengalami sakit yang cukup berat, tidak sembuh sembuh dalam waktu yang cukup lama. Berbagai upaya dilakukan, hingga akhirnya mendatangkan para thabib (orang pinter) dari berbagai daerah kekuasannya.  Hasilnya, para thabib merekomendasikan untuk bisa sembuh dari penyakitnya, sang Raja harus kawin dengan Wandan Kuning.
Rekomendasi para thabib, bagi raja Brawijaya cukup berat dilakukan, mengingat nama Wandan Kuning adalah perempuan yang dikenal bukan turunan bangsawan, sekaligus wajahnya tidak berparas cantik. Tapi, keinginan sembuhnya, tetap mendorong Brawijaya untuk menikahi Wandan Kuning. Saatnya dalam waktu yang ditentukan akhirnya Brawijaya betul-betul menikahi Wandan Kuning, meskipun dengan sangat berat.
Setelah dapat tiga hari, sungguh terjadi keajiban luar biasa, ternyata penyakit Brawijaya berangsur angsur pulih. Dalam waktu yang tidak begitu lama, badan Brawijaya sembuh total dari penyakit yang disandangnya sebagaimana sedia kala. Bukan itu saja, dalam waktu yang tidak lama pula akan lahir si jabang bayi dari perut Istri sebab Wandan Kuning, istri Brawijaya, juga dalam kondisi hamil tua.

Perjuangan Anak Hilang
Seiring perjalanan waktu, Wandan Kuning akhirnya melahirkan anak laki-laki yang berparas ganteng dari pernikahannya dengan Raja Brawijaya, yang diberi nama Raden Bunden Kejawen.
Kehadiran anak, mestinya menjadi kebahagiaan keluarga. Tapi, bagi Brawijaya kehadiran putranya menjadi bencana sebab ia merasa malu, apalagi di lingkungan kerajaannya sebab Raden Bunden, putranya sendiri lahir dari perkawinan Brawijaya dengan perempuan yang dikenal Hina dan jelek.
Dari pada harus merasa malu diharapan rakyat dan tentaranya. Serta tanpa berpikir panjang lebar, Brawijaya terus membawa istrinya, Wandan Kuning, berikut anaknya Raden Bunden keluar dari area kekuasaannya menuju sebuah desa di wilayah madura, yang dikenal dengan nama Karang Jembu. Di desa ini, keduanya dititipkan kepada salah seorang petani yang miskin. Bersama petani ini, raden Bunden dan ibunya hidup, yang dalam kesehariannya sebagai petani hingga ia muda, tetap kehidupannya memprihatinkan; miskin dan terjebak dalam polah tingkah hidup yang buruk. Dari sini, kelak Raden Bunden dikenal di lingkungannya dengan sebutan "Lembu Peteng"/kerbau hitam, sebuah nama yang menjadimsimbol prilakunya.
Perasaan malu mulai muncul dari Lembu Peteng atas kondisi yang dialami. Bagaimana tida malu, ia putra raja yang dikenal memiliki kekuasaan yang luas, tapi hidupnya dalam kesengsaraan. Sungguh malu, itu yang tertanam dalam lubuk hati terdalam Lembu Peteng hingga akhirnya ia memilih keluar berkelana dari desa Karang Jembu dan menuju area pegunungan, yang mashur dikenal dengan sebutan gunung Kadiyeng.
Di gunung Kadiyeng, Lembu Peteng meratapi nasibnya, sekaligus melakukan olah batin (riyadhah), sambil menyiksa dirinya dengan sedikit makan dan mengurangi tidur; dengan harapan ia memperoleh kekuasaan yang mampu mengendalikan pulau Jawa, sebagaimana kekuasaan ayahnya, Brawijaya.
Sungguh langkah bertapa model Lembu Peteng menarik, hingga dalam waktu yang tidak lama, ia mendengar "suara asing/suara tanpa fisik", yang mengatakan agar Lembu Peteng keluar dari pertapaannya menuju sebuah desa tertentu, untuk mencari seorang guru. Jika bertemu, kata suara tadi, berilah pelayan kepada sang Guru dengan total, ikhlas dan ikutilah segala perintahnya.
Singkat cerita, Lembu Peteng keluar dari pertapaannya. Ia melewati pegunungan, naik dan turun perbukitan. Menelusuri sawah dengan keluar masuk kampung-kampung lain. Pastinya, semua dilakukan dalam kondisi Lembu Peteng mengurangi ke enaan makan, minum dan tidur seadanya. Ia berharap kelak memiliki kedudukan yang mulia  dan dimuliakan oleh masyarakatnya.
Setelah berjalan menelusuri pedesaan cukup lama, Lembu Peteng akhirnya bertemu dengan Ki Tarub. Ia pun mengenalkan dirinya. Tapi, nampaknya Ki Tarub memiliki mata batin yang luar biasa, ia mengetahui sebenarnya Lembu Peteng itu siapa?, setelah melihat paras wajahnya. Tanpa berpikir panjang, Lembu Peteng akhirnya berkata: aku menyerahkan jiwaku untuk menjadi santri dan berkhitmah total kepada panjenengan Ki Tarub, dengan harapan kelak aku memperoleh keberkahan hidup.
Keinginan Lembu Peteng disambut gembira oleh Ki Tarub, apalagi Ki Tarub tahu betul bahwa Lembu Peteng adalah putra Brawijaya yang hilang, dari istri Wandang kuning. Lantas, keduanya terjadi dialog sebagai berikut:
Ki TARUB: wahai anakku, jika anda berkhidmah padaku, maka kerjakanlah dengan benar dan sungguh sungguh. Dan jangan lupa, niat riyadhah batin dan tirakat untuk memperoleh impianmu menjadi raja dan penguasa.
LEMBU PETENG: aku akan mendengarkan dan taat terhadap perintah panjenengan Ki Tarub sebab inilah yang menjadi keinginanku. Dan, sungguh penerimaan panjenengan sebagai murid/santri adalah puncak dari kebahagiaanku agar kelak aku mendapat kehidupan yang berkah atas doa penjenengan setiap saat.
Setelah itu, Lembu Peteng berkhitmah betul kepada Ki Tarub dengan penuh ketulusan, tanpa merasa dirinya adalah anak orang besar. Totalitas berkhitmah ini dalam perjalanannya, Lembu Peteng _selaku murid_ mendapat bimbingan spiritual langsung dari Ki Tarub selaku mursyidnya. Kematangan batinnya dari hari ke hari semakin tumbuh dan matang, bahkan menariknya selalu mendapat pantauan langsung dari Ki Tarub.
Kerja keras, totalitas belajar dan ketulusan khitmah Lembu Peteng kepada Ki Tarub tidak sia sia, hingga akhirnya impiannya terkabulkan sebab dalam perjanan waktu Lembu Peteng dikenal sebagai Panglima yang memegang teritorial Wilayah Madura. Bukan itu saja, dengan ketulusannya khitmah pada Gurunya Ki Tarub, Lembu Peteng menikah dengan Nawang Sih, yang merupakan putri Ki Tarub.
Oleh karenanya, Lembu Peteng adalah pelajaran bagi kita semua. Untuk menjadi hebat, tidak boleh menggunakan jalan pintas agar menuai keberkahan. Lembu Peteng menjadi panglima, tidak mengandalkan trah orang tuanya, Raja Brawijaya. Ia berproses secara tuntas, sambil totalitas mendekat sang Pemilik kekuasaan sejati, yaitu Allah Swt.
Menata batin dan  belajar soal hakekat memberikan pelayanan kepada yang lain adalah salah satu potret pelajaran hidup dari Lembu Peteng. Bahwa itu semua, bila dilakukan dengan tulus, tidak sembrono apalagi merebut kekuasaan dunia dengan mengorbankan rakyat, akan mengantarkan kepemimpinan itu betul betul maslahah.
Sekali lagi, Lembu Peteng menjadi panglima dilalui dengan kerja keras dan tirakat batin, bukan jalan pintas. Karenanya, jangan berpikir jalan pintas, yang banyak mengorbankan pihak lain, dipandang sebagai jalan terbaik sebab keberkahan Lembu Peteng muncul dari totalitas proses, bukan berpikir total pada hasil. Semoga Banyak model Lembu Peteng di Negeri ini, khususnya dalam kepemimpinan bangsa. Dan akhirnya, Lembu Peteng [kerbau hitam] menjadi Lembu Pote [kerbau putih]. Diakhir cerita, Mbah Fadhol mengutip syair:
بقدر الكد تكسب المعالى# فمن طلب العلى سهر الليالى.
Tidak ada kedudukan terhormat diperoleh, tanpa kerja keras.
Jika, menginginkannya, kurangi tidur malam.

.......................
[Diulas dari Kitab Ahlal Musamarah fi Hikayah Al-Auliya' Al-Asyrah/Manisnya Bekadang : Hikayat Wali Sepuluh, karya Mbah Fadhol Bangilan Tuban, santri Hadlratusysyaikh Hasyim Asy'ari Jombang], al_Fatihah, untuk beliau berdua.
https://goo.gl/images/blBJ5X
......................
Desa Karang Jembu dan Gunung Kadiyeng. Kalau memang ada di wilayah Madura, sebenarnya berada di kecamatan mana? Tolong yang tahu beri komentar, trima kasih

Survei Terbaru : Tingkat Literasi Indonesia di Dunia Rendah

Indonesia menempati ranking ke 62 dari 70 negara berkaitan dengan tingkat literasi, atau berada 10 negara terbawah yang memiliki tingkat li...