Rabu, 15 Februari 2017
Instal AMIDuOS di Windows
Minggu, 16 Oktober 2016
Kisah Doa/Syair Abu Nawas: Al I’tiraaf teks Arab, Latin, dan Terjemah

Abu Nawas adalah pujangga Arab dan merupakan salah satu penyair terbesar sastra Arab klasik. Penyair ulung sekaligus tokoh sufi ini mempunyai nama lengkap Abu Ali Al Hasan bin Hani Al Hakami dan hidup pada zaman Khalifah Harun Al-Rasyid di Baghdad (806-814 M). Oleh masyarakat luas Abu Nawas dikenal terutama karena kecerdasan dan kecerdikan dalam melontarkan kata-kata, sehingga banyak lahir anekdot jenaka yang sarat dengan hikmah.
إِلهِي لََسْتُ لِلْفِرْدَوْسِ أَهْلاَ# وَلاَ أَقوى عَلَى النّارِ الجَحِيم
Ilaahii lastu lil firdausi ahlaan wa laa aqwaa ‘alaa naaril jahiimi
Wahai Tuhanku ! Aku bukanlah ahli surga, tapi aku tidak kuat dalam neraka Jahim
فهَبْ لِي تَوْبَةً وَاغْفِرْ ذنوبِي # فَإنّكَ غَافِرُ الذنْبِ العَظِيْم
Fa hablii taubatan waghfir zunuubii fa innaka ghaafirudzdzambil ‘azhiimi
Maka berilah aku taubat (ampunan) dan ampunilah dosaku, sesungguhnya engkau Maha Pengampun dosa yang besar
ذنوبِي مِثلُ أَعْدَادٍ الرّمَالِ # فَهَبْ لِي تَوْبَةً يَاذَاالجَلاَل
Dzunuubii mitslu a’daadir rimaali fa hablii taubatan yaa dzaaljalaali
Dosaku bagaikan bilangan pasir, maka berilah aku taubat wahai Tuhanku yang memiliki keagungan
وَعُمْرِي نَاقِصٌ فِي كُلِّ يَوْمٍ # وَذنْبِي زَائِدٌ كَيفَ احْتِمَالِي
Wa ‘umrii naaqishun fii kulli yaumi wa dzambii zaa-idun kaifah timaali
Umurku ini setiap hari berkurang, sedang dosaku selalu bertambah, bagaimana aku menanggungnya
َإلهي عَبْدُكَ العَاصِي أَتَاكَ # مُقِرًّا بِالذنوبِ وَقَدْ دَعَاك
Ilaahii ‘abdukal ‘aashii ataaka muqirran bidzdzunuubi wa qad da’aaka
Wahai, Tuhanku ! Hamba Mu yang berbuat dosa telah datang kepada Mu dengan mengakui segala dosa, dan telah memohon kepada Mu
َفَإِنْ تَغْفِرْ فَأنْتَ لِذاك أَهْلٌ # فَإنْ تَطْرُدْ فَمَنْ نَرْجُو سِوَاك
Fa in taghfir fa anta lidzaaka ahlun wa in tathrud faman narjuu siwaaka
Maka jika engkau mengampuni, maka Engkaulah yang berhak mengampuni,
Jika Engkau menolak, kepada siapakah lagi aku mengharap selain kepada Engkau?
Ilahi lastu lil firdausi ahla
Wala aqwa ‘alan naril jahimi
Fahabli taubatan wagfir dzunubi
Fainnaka ghafiru dzambil ‘adhimi
Wahai Tuhanku aku bukanlah ahli surga firdaus
Namun aku takkan kuat menahan panasnya api neraka
Maka terimalah tobatku dan limpahkanlah ampunan atas dosaku
Karena sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dosa-dosa besar
LIRIK syair di atas sangatlah populer, utamanya di kalangan penyanyi dan penikmat lagu-lagu nasyid. I’tiraf atau pengakuan adalah judul yang diberikan kepada syair di atas. Mayoritas tim nasyid melantunkan dan menggubah lirik itu sedemikian rupa dalam album rekamannya, seperti Raihan, Mupla, dan banyak lagi.
Itulah syair yang dikenal sebagai warisan penyair superpopuler Irak, Abu Nawas. Meskipun ada juga pendapat, bahwa syair itu bukanlah gubahan Abu Nawas, tapi karya seorang sahabat Rasulullah Saw, Abdullah bin Rawahah.
Menurut sebuah riwayat, Abdullah bin Rawahah saat ingin menjumpai sahabatnya, Abdurrahman bin Auf. Setiba di rumah Abdurrahman, istri Abdurrahman membuka pintu dan betisnya terlihat karena hembusan angin yang mengingkap busananya.
Kejadian itu membuat Abdullah bin Rawahan jatuh pingsan karena merasa kaget dan berdosa. Setelah sadar, ia mengasingkan diri di sebuah perbukitan. Selama tiga hari, ia baru ditemukan oleh Rasulullah dan para sahabatnya, ketika terdengan syair Al-I’tiraf dari Abdullah bin Rawahah.
Sumber lainnya menyebutkan syair tersebut dari seorang Sahabat yang bertaubat, dikisahkan ketika berangkat berjihad fiisabilillah, istrinya ditinggalkan dalam kondisi hamil, karena lama kepergiannya hingga bertahun-tahun saat Sahabat ini pulang ia menjumpai istrinya bersama dengan seorang pemuda yang tiada ia kenali. Padahal senjata perang masih ia bawa, sehingga lantas pemuda yang tiada ia kenali itu dibunuhnya. Istrinya kemudian menceritakan kejadian sebenarnya bahwa yang ia bunuh adalah puteranya sendiri, sehingga timbullah penyesalan mendalam, lantas Sahabat tersebut mengasingkan diri dalam goa, siang malam ia meratapi kesalahannya hingga terlahirlah syair ini. Sumber lain menyebutkan, syair itu adalah karya Syekh Al-Sya’roni.
Terlepas dari mana yang benar, yang jelas Abu Nawas (sering pula disebut Abu Nuwas) adalah legenda, bernama asli Abu Hani Muhammad bin Hakam. Sastrawan dan penyair humoris ini diyakini hidup masa pemerintahan Khilafah Abbasiyah (786-890 M), era pemerintahan Sultan Harun Al-Rasyid Al-Abassi, dan meninggal di Bagdhad tahun 810 M. Ia dilahirkan di kota Al-Ahwaz, Persia, dan dibesarkan di Kota Basrah, Irak.
Nama Abu Nawas berarti “Bapak Si Rambut Ikat”, merujuk pada dua ikatan rambut panjangnya yang sampai sebahu. Semasa kecil, Abu Nawas “dijual” oleh ibunya kepada seorang penjaga toko dari Yaman, Sa’ad al-Yashira.
Semasa remaja, ia bekerja di sebuah toko di Basrah, Irak. Saat itulah, ketampanan dan kecerdasannya menarik perhatian seorang penyair berambut pirang, Waliban Ibnu Al-Hubab. Abu Nawas muda pun dibeli dan dimerdekakannya. Al-Hubab mengajari Abu Nawas ilmu ketuhanan (teologi), bahasa Arab, dan puisi. Abu Nawas lalu belajar juga kepada Khalaf Al-Ahmar.
Popularitas Abu Nawas menanjak karena kejenakaan syair-syair yang diciptakannya, sebuah gaya puisi yang bertentangan dengan tradisi syair di gurun pasir saat itu, ditambah dengan perilakunya yang suka mabuk (minum khamr) dan sejumlah syairnya yang mengeritik Al-Quran yang mengharamkan khamr.
Demikianlah, sebelum mendapatkan hidayah dan bertobat, Abu Nawas dikenal sebagai penyair kontroversial. Bahkan buku-buku sejarah menyebut Abu Nawas sebagai sastrawan cabul dan kotor.
Dalam keadaan mabuk karena meminum khamr, sambil ‘mengigau’ atau berbucara tak karuan, ia sering menggubah puisi yang membangga-banggakan minuman keras (puisi khumrayat). Ia sering keluar masuk penjara karena puisi-puisinya itu.
Karena karya-karya dan perilakunya yang tidak bermoral, sebagian ulama saat itu berpendapat, Abu Nawas adalah fasik (pelaku maksiat) bahkan kafir. Simak saja sebuah bait syairnya:
“Aku menyukai apa-apa yang Al-Quran larang
Dan aku menjauhkan diri dari apa-apa yang dibolehkannya”
Tidak hanya itu, Abu Nawas juga disebut-sebut sebagai gay, homoseksual, hal yang terasa asing di telinga kita. Tapi sebuah bait syarinya mengatakan demikian, misalnya: “Demi seorang pria muda, aku rela tinggalkan wanita”.
Namun demikian, Abu Nawas pernah kawin dengan salahsatu wanita yang masih familinya, tapi keesokan harinya perempuan itu diceraikannya karena ia tidak mencintainya. Abu Nawas juga diceritakan pernah mencintai seorang perempuan, bernama Jinan. Sayang, cintanya tak sampai.
TIDAK MAU JADI LALAT
Kehidupan Abu Nawas berubah total menjadi Islami, menurut suatu riwayat, setelah suatu malam, pada bulan Ramadhan (diyakini sebagai Malam Qodar), dalam keadaan “teler” ia didatangi seseorang tak dikenal. Orang itu berkata: “Ya Abu Hani! Idza lam takun milhan tuslih, fala takun zubabatan tufsid”. Artinya, “Hai Abu Hani, jika engkau tak mampu menjadi garam yang melezatkan hidangan, janganlah engkau menjadi lalat yang menjijikan merusak hidangan itu”.
Kata-kata itu sangat berkesan pada diri Abu Nawas. Ia menyadari kesalahannya selama ini, merasa dirinya bukan garam, tapi lalat. Ia pun bertobat dan meninggalkan perilaku tidak Islaminya. Ia menjadi seorang ahli ibadah, rendah hati, rajin i’tikaf di masjid, dan jarang berbicara.
Meski demikian, ia tetap menggubah syair. Namun, syair-syairnya berganti warna, menjadi syair-syair dzikir dan senandung doa. Salah satu karyanya yang paling terkenal hingga kini, dijadikan senandung di pesantren-pesantren dan nasyid, adalah syair Al-I’tiraf di atas.
Menurut sebuah riwayat, suatu ketika, beberapa kawan Abu Nawas satu “geng” dulu, mendatanginya saat sedang i’tikaf di sebuah masjid.
“Apa yang keluar dari bibirmu sekarang?” ejek kawan-kawannya.
“Ayat-ayat Al-Quran,” jawab Abu Nawas, kalem.
“Yang kau pikirkan di kepalamu?”
“Kemahaagungan Allah yang sudah mengubah manusia buruk seperti kalian menjadi manusia yang baik seperti aku sekarang.”
“Kau habiskan malam-malammu dengan apa?”
“Dengan mendekatkan diriku yang hina dina ini kepada Dzat Yang Mahamulia, yaitu Allah SWT.”
“Lalu siang-siangmu keluyuran ke mana?”
“Ke gurun dan samudera petunjuk-Nya yang penuh rahmat dan ampunan. Aku tak akan tersesat di situ, karena firman-firman-Nya amat jelas,” kata Abu Nawas.
SASTRAWAN JENAKA
Abu Nawas dikenal luas bukan saja di dunia Islam, tapi juga dunia Barat. Kisah-kisah jenakanya sangat digemari berbagai kalangan. Hebatnya, kisah lucu Abu Nawas seakan tak pernah habis.
Selalu ada cerita lucu yang baru hingga akhirnya ia dikenal dengan seorang humoris yang sangat cerdas. Bahkan disebutkan, Khalifah Harun Al-Rasyid yang dikenal sebagai khalifah Bani Abasiyah paling pintar, tak pernah berhasil mengalahkannya.
Syair I’tiraf sendiri mengandung kejenakaan, tapi bukan senda-gurau. Simak saja liriknya: “Aku bukanlah ahli surga firdaus, tapi bukan pula orang yang kuat menahan panas api neraka”. Kalau diartikan secara harfiah, doa itu memang agak lucu: masuk surga tak pantas, masuk neraka tidak kuat.
Meski jenaka, dalam literatur Islam, Abu Nawas lebih dikenal sebagai tokoh sastra dari pada seorang ‘pelawak’. Lebih dari itu, sebuah sumber juga menyebutkan, ternyata petualangan Abu Nawas bukan dengan Harun Al-Rasyid, melainkan dengan khalifah setelahnya, Muhammad Al-Amin, putra Harun. Bahkan ada yang mengatakan, Abu Nawas tidak pernah bertatap muka dengan Harun Al-Rasyid.
Terlepas dari mana yang benar, yang jelas Abu Nawas dikenal sebagai sastrawan dan penyair terhebat pada masanya. Bahkan sejarahwan Ibnu Arabi mengatakan, “Telah aku bandingkan syair Abu Nawas dengan yang lain, ternyata tidak aku temukan syair seindah miliknya”.
Tidak banyak karya Abu Nawas yang bisa ditemukan. Pasalnya, lembaran-lembaran syairnya dibakar habis setelah ia bertobat.
“Aku takut setalah aku mati nanti, masih tersisa satu dari syairku. Oleh karena itu aku membakarnya” kata Abu Nawas ketika ditanya oleh salah seorang temannya. Apalagi Abu Nawas sendiri tidak pernah mengumpulkan syair-syairnya. Wallahu a’lam.
Rabu, 07 September 2016
PERJALANAN UMUR
*Ketika umur kita dibawah 10 tahun,* kita merasa bahwa bermain merupakan suatu yang sangat penting.
Sebab itu,
Kita suka bermain. Pagi, sore, siang, malam, bermain terus.
*Ketika umur kita belasan tahun,* kita merasakan kebebasan itu lebih penting.
Sebab itu,
kita ingin menyuarakan pendapat sendiri.
Ingin suara didengari.
Kita banyak memberontak dan sedikit keras kepala.
Kita mulai bandel dan tidak suka dengar nasihat.
*Beranjak ke umur 20-an,* kita merasakan pendidikan dan kerja begitu penting.
Sebab itu,
kita belajar sungguh-sungguh untuk memperoleh kerja yang sesuai.
Kadang-kadang kita menyesal, kenapa dulu tidak belajar sungguh-sungguh, biar dapat pekerjaan yang baik seperti kawan-kawan yang lain.
Alangkah ruginya kita telah berleha-leha sebelum ini.
*Meningkat ke umur 30-an,* kita semakin sadar bahwa keuangan itu sangat penting.
Sebab itu,
masa inilah kita membina hidup.
Membina keluarga.
Ingin membeli kenderaan, rumah, tanah, aset, melancong dan sebagainya.
*Namun akhirnya, kita pun memasuki fase 40-an.* Perkara yang paling penting dalam hidup ialah *kesehatan.*
Kekayaan dan lain-lain tidak berarti dengan kesehatan yang tidak memuaskan. Pada masa ini darah tinggi, diabetes, asam urat, kolesterol, jantung koroner dan lain-lain sedang melamar kita.
Masa inilah kita bisa menyesal karena sudah terlalu sering makan yang enak2 dan sibuk kerja sehingga lupa untuk bersenam dan menjaga kesehatan.
*Memasuki era 50-an,* tatkala kita sudah memiliki semua impian, akhirnya kita sadar bahwa perkara yang lebih penting dalam hidup ialah *kasih sayang.*
Kita sedikit kesunyian tatkala anak-anak sudah berumah tangga dan tinggal di tempat lain.
Anak-anak yang sibuk dengan kerjanya masing-masing menjadikan kita rindu saat-saat indah bersama mereka dahulu.
Rumah besar, mobil besar seakan-akan tidak lagi berarti.
*Kehidupan terus berjalan.*
*Tatkala memasuki usia 60-an,* kitapun semakin sadar bahwa hanya amal ibadahlah bekal yang akan dibawa ke alam sana.
Segala kemewahan dan kebendaan tidak lagi bermakna.
Kubur bakal menjemput kapan saja.
Mujurlah kita sempat sadar dan Allah masih membuka pintu taubat yang kita mohonkan.
Masih tersisa waktu untuk menambah bekal.
*Rosulullah SAW bersabda:*
*"Cari kesempatan yang lima, sebelum datang lima lainnya".*
1. Masa mudamu sebelum datang masa tua,
2. Masa sehatmu sebelum datang masa sakit,
3. Masa kayamu sebelum datang masa miskin,
4. Masa luangmu sebelum datang masa sibuk,
5. Masa hidupmu sebelum datang kematian.”
(HR. Al Hakim)
*Mari siapkan bekal, hidup ini hanya sementara.*
Kamis, 01 September 2016
Ini Keutamaan Puasa Sembilan Hari di Bulan Dzulhijjah
Dzulhijjah disebut sebagai salah satu bulan yang dimuliakan Allah SWT. Di dalamnya terdapat kewajiban haji bagi yang mampu menunaikannya. Sementara orang yang tidak mampu dianjurkan memperbanyak amalan sunah lainnya seperti sedekah, shalat, dan puasa.
Karenanya, kesempatan beribadah tidak hanya diberikan kepada jama’ah haji. Siapapun mendapat kesempatan beramal meskipun dalam bentuk yang berbeda-beda.
Anjuran memperbanyak amal saleh itu termaktub dalam beberapa hadits. Misalnya hadits riwayat Ibnu ‘Abbas yang ada di dalam Sunan At-Tirmidzi:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ما من أيام العمل الصالح فيهن أحب إلى الله من هذه الأيام العشر
Artinya, “Rasulullah SAW berkata: Tiada ada hari lain yang disukai Allah SWT untuk beribadah seperti sepuluh hari ini,” (HR At-Tirmidzi).
Hadits di atas menunjukkan beramal apapun di sepuluh hari pertama Dzulhijjah sangat dianjurkan. Namun kebanyakan ulama menggunakan hadits di atas sebagai dalil anjuran puasa sembilan hari pada awal Dzulhijjah. Hal ini terlihat dalam pembuatan judul bab hadits tersebut. Ibnu Majah memberi judul bab hadis di atas dengan “shiyamul ‘asyr (puasa sepuluh hari)”.
Dalam kajian hadits, pemberian judul bab sekaligus menunjukan pemahaman seorang rawi terhadap hadis yang diriwayatkan. Artinya, secara tidak langsung Ibnu Majah selaku perawi menjadikan hadits itu sebagai dalil kesunahan puasa. Karenanya, Ibnu Hajar dalamFathul Bari mengatakan:
واستدل به على فضل صيام عشر ذي الحجة لاندراج الصوم في العمل
Artinya, “Hadits ini menjadi dalil keutamaan puasa sepuluh hari di bulan Dzulhijjah, karena puasa termasuk amal saleh.”
Kendati disebutkan puasa sepuluh hari dalam hadits di atas, ini bukan berati pada tanggal 10 Dzulhijjah juga dianjurkan puasa. Malah puasa pada tanggal itu dilarang karena bertepatan dengan ‘Idul Adha. Terkait maksud “ayyamul ‘asyr” ini, An-Nawawi sebagaimana dikutip Al-Mubarakfuri dalam Tuhfatul Ahwadzimenjelaskan:
والمراد بالعشر ها هنا الأيام التسعة من أول ذي الحجة
Artinya, “Yang dimaksud sepuluh hari di sini ialah sembilan hari, terhitung dari tanggal satu Dzulhijjah.”
Berdasarkan pendapat An-Nawawi ini, siapapun disunahkan untuk beramal sebanyak-banyaknya di bulan Dzulhijjah khususnya puasa sembilan hari di awal bulan. Dalam hadits lain, saking penasarannya sahabat tentang keutamaan beramal sepuluh hari di bulan Dzulhijjah, mereka bertanya kepada Rasul SAW, “Apakah jihad juga tidak sebanding dengan beramal pada sepuluh hari tersebut?” Rasul menjawab, “Tidak, kecuali ia mengorbankan harta dan jiwanya di jalan Allah (mati syahid),” (HR Ibnu Majah).
Dengan demikian, Rasul menyetarakan pahala beramal di sepuluh hari Dzulhijjah dan mati syahid. Karena konteks negara kita bukan perperangan, dalam kondisi aman dan damai, tentu memperbanyak amal di bulan Dzulhijjah, terutama puasa, lebih diprioritaskan.Wallahu a’lam.
Minggu, 10 Juli 2016
Android Marshmallow, Versi Android Terbaru Setelah Lollipop
Kabar gembira bagi anda pecinta android bahwa saat ini google kembali meluncurkan versi teranyar untuk sistem operasi android. Versi terbaru ini diberi nama Android 6.0 Marshmallow dan tentunya versi terbaru ini diyakini memiliki banyak kelebihan dan keunggulan dari versi-versi android sebelumnya. Peluncuran Android terbaru ini ditandai dengan peletakan patung android marshmallow di depan kantor Google serta di umumkan secara resmi melalui salah satu blog resmi google.
Android Marshmallow merupakan penerus dari versi android sebelumnya yaitu Android 5.0 Lollipop yang di luncurkan pada tahun 2014. Pergerakan google dalam meluncurkan versi terbaru android terbilang cepat, dimana sebelumnya google meluncurkan android kitkat, android Lollipop dan yang terbaru adalah Android MarshMallow.
Seperti biasa setiap nama dari versi android identik dengan makanan yang memiliki ciri khas manis. Lihat saja ada deretan nama Donut, jelly Bean, Kitkat dan Lollipop yang menjadi nama versi android dimana semua jenis nama ini berasal dari makanan yang memiliki ciri khas manis. Begitupun pada tahun 2015, google kembali mengeluarkan versi baru android yang tentunya masih mengusung nama dari makanan manis yaitu Marshmallow. Mungkin tidak semua orang mengetahui apa itu Marshmallow dan mengapa nama ini dijadikan nama versi android.
Marshmallow merupakan makanan sejenis manisan yang memiliki struktur yang lembut dan kenyal layaknya sebuah busa. Marshmallow semakin menarik karena di buat dengan aneka warna dan aroma yang tentunya dapat menggugah selera setiap orang yang melihatnya.
Adapun beberapa fitur terbaru yang disematkan pada Android 6.0 Marshmallow adalah adanya dukungan terhadap Android Pay, Marshmallow memberikan dukungan untuk pengenalan sidik jari pengguna untuk membuka perangkat, adanya sebuah fitur yang dinamakan dengan "Tertidur" dimana dengan fitur ini sistem operasi mampu mengurangi aktivitas latar belakang ketika terdeteksi bahwa perangkat tidak digunakan. Selain itu Android Marshmallow mendukung USB Type C dimana perangkat smartphone mampu di gunakan untuk mengisi daya perangkat smartphone lain via USB. Namun untuk saat ini anda harus sedikit bersabar dan menunggu beberapa minggu atau bulan kedepan untuk mencoba android versi terbaru ini, hal ini di karenakan saat ini marshmallow belum sepenuhnya di lepas kepasaran.
Selasa, 28 Juni 2016
Manfaatkan Kartanu, masuk UNSURI diskon 20 Persen
Pembuatan Kartanu (Kartu Tanda Anggota Nahdlatul Ulama) di Kabupaten Jombang, Jawa Timur telah berlangsung sejak awal Maret ini di beberapa lokasi yang berbeda, disesuaikan dengan koordinasi antarpihak panitia pembuat Kartanu dan sejumlah warga Nahdlyin setempat.
Wakil Sekretaris Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jombang Ahmad Samsul Rijal menjelaskan bahwa Kartanu menjadi identitas jam’iyyah yang telah diatur dalam Anggatan Dasar (AD) dan Anggaran Rumah Tangga (ART). Anggota dimaksud adalah setiap warga negara Indonesia yang beragama Islam, baligh, dan menyatakan diri setia terhadap Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Organisasi.
“Kartanu sebagai hak anggota secara detail diatur dalam ART Bab III, Pasal 7 ART. Kartanu adalah identitas bersama dalam satu Jam’iyyah NU,” katanya di Jombang, Rabu (9/3) kemarin.
Sedangkan untuk warga Nahdliyin yang memiliki Kartanu, kata Rijal, terdapat beberapa manfaat dari aspek pelayanan-pelayanan. Di antaranya pelayanan terkait pemahaman keagamaan, pendidikan, sosial, ekonomi, kesehatan, informasi, perlindungan, keamanan dan tradisi Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja).
“Melekat pada pemilik Kartanu adalah hak untuk dilayani sebagaimana ART NU pasal 7, dan itu bisa diusahakan bersama, yakni pelayanan agama, pendidikan, sosial, ekonomi, kesehatan, informasi, perlindungan, keamanan dan tradisi Aswaja,” ujarnya.
Dalam pelayanan jam’iyah keagamaan, ia menuturkan bisa dilihat dari kegiatan-kegiatan keagamaan yang diselenggarakan warga masyarakat. Hal ini hendaknya bisa dilakukan langsung oleh warga NU yang masuk struktur pengurus di masing-masing tingkatan dari anak ranting dan seterusnya.
“Nahdliyin adalah warga taat beragama, mengikuti tradisi keagamaan yang baik dan menyukai majelis-majelis pengajian. Karenanya, struktural NU hingga anak ranting perlu program pengajian yang langsung diselenggarakan oleh struktural. Inilah pelayanan Jam’iyah,” ungkapnya.
Sedangkan dalam aspek pendidikan, lanjut Rijal, beberapa kampus di Jawa Timur khusussnya sudah memberikan dispensasi biaya melalui Kartanu. Nahdliyyin memandang pendidikan sebagai jalan utama mencapai kebijaksanan dan kemampuan hidup. Dalam konteks ini, problem pembiayaan pendidikan dapat diatasi dengan saling membantu dg cara meringankan dan mendekatkan pelayanan pendidikan.
“Salah satu yang telah diusahan di kampus Unsuri (Universitas Sunan Giri) Surabaya dengan diskon 20 persen dengan kepemilikan Kartanu dan di kampus Unisma (Universitas Islam Malang). Dan yang lain bisa kembangkan pola sama,” ujarnya.
Demikian pula dengan kesehatan dan informasi yang memadai. Membangun pasar dan mengembangkan konsumen adalah manajemen modern dalam bidang ekonomi. “Di Jombang, sementara yang telah diusahakan PCNU Jombang adalah layanan kesehatan di RSNU, RS UNIPDU dan BKIA Muslimat dengan diskon-diskon tertentu,” pungkasnya. (Syamsul Arifin/Mahbib)
Sumber : NU Online, 10 Maret 2016
Ribuan guru gelar aksi soliadritas di PN Sidoarjo
Sidoarjo - Ratusan guru yang tergabung dalam Persatuan Guru Replublik Indonesia (PGRI) se Sidoarjo menggelar aksi solidaritas rekan seprofesinya yang menjalani sidang kasus dugaan penganiayaan terhadap siswa didiknya. Mereka mendatangi Kantor Pengadilan Negeri Sidoarjo, yang sebelumnya melakukan longmarch mulai Masjid Agung. Mereka meneriakkan yel-yel dukungan terhadap rekan seprofesinya. "Bebaskan Pak Samhudi". Selain itu para guru juga membawa beberapa spanduk dukungan terhadap M.Samhudi, guru matematika SMP Raden Rahmad Kecamatan Balongbendo Sidoarjo. "Aksi solidaritas ini secara spontanitas, tidak dikoordinir. Teman-teman guru mendatangi kantor PN Sidoarjo hanya memberikan dukungan terhadap guru SMP Raden Rahmad Balongbendo yang diduga melakukan penganiayaan terhadaap siswanya," kata Ikwan Sumadi Ketua PGRI Jawa Timur kepada wartawan di PN Sidoarjo, Selasa (28/6/2016). Dia mengaku, kasus ini sebenarnya sepele. "Setelah saya amati kasus ini sebenarnya kasus sepele. Karena kasus yang dinyatakan penyidik itu bahwa guru M. Samhudi telah menganiaya siswanya. Kalau penganiayaan itu hanya sebatas mencubit atau nyewer telinga itu bukan penganiayaan, melainkan rasa kasih sayang," tambahnya. Untuk itu, jelas Ikwan, para guru membela sampai kasus ini selesai dan tidak ada yang dirugikan, dengan arti guru tersebut tidak ditahan. Karena kasusnya sangat ringan, hukuman seperti itu wajar," jelasnya. Kasus ini bermula 3 Februari 2016. Seorang siswa kelas 9 SMP Raden Rahmad Balongbendo Sidoarjo, bernama Syafira Sanjani tidak mengikuti salat dhuha berjamaah yang dilakukan pihak sekolah. Siswa tersebut didatangi M.Samhudi, guru matematika. Pada 6 Februari, orang tua siswa melapor ke Polsek Balongbendo dan selanjutnya 8 Februari, M Samhudi dijadikan tersangka diduga menganiaya siswanya sendiri. Setelah itu 30 Februari oleh Polsek Balongbendo perkaranya dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri Sidoarjo. "Saya sangat kaget karena hari Selasa 8 Februari 2016 saya didatangi petugas Polsek Balongbendo. Saya dinyatakan bersalah dan menjadi tersangka atas kasus penganiayaan terhadap siswa saya sendiri. Padahal saya tidak merasa menganiaya siswa tersebut. Saya hanya memegang tangannya bagian lengan, namun saya dijadikan tersangka," ujarnya di PN Sidoarjo. mungkin karena orang tua siswa itu anggota TNI, hingga kasus ini berlanjut ke Pengadilan, sampai hari ini sidang ke tujuh agenda bacaan tuntutan, jelasnya. Hari ini sidang beragendakan bacaan tuntutan yang dipimpin Hakim Rini Sesulis. Sidang ditunda 14 Juli 2016 karena Jaksa Andrianis dan Kasyanti belum siap membacakan tuntutan. (fat/fat)
Sumbet : detiknews.com
Senin, 20 Juni 2016
Pengangkatan Dalam Jabatan Fungsional Guru
I. DASAR HUKUM
1. Undang-undang Nomor 8 Tahun 1974 Jo Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999
2. Keputusan Presiden Nomor 3 Tahun 2003
3. Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 1994
4. Peraturan MENPAN Nomor PER/60/M.PAN/6/2005
5. Keputusan MENPAN Nomor 84 Tahun 1993
6. Keputusan Bersama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dan Kepala BAKN Nomor 0433/P/1993 dan Nomor 25 Tahun 1993
7. Peraturan Menteri Perindustrian tentang Pemberian Kuasa dan Pendelegasian Kewenangan Bidang Kepegawaian
II. LINGKUP BAHASAN
1. Tugas Pokok Fungsional Guru
2. Pengangkatan Dalam Jabatan Fungsional Guru
3. Kenaikan Pangkat Jabatan Fungsional Guru
4. Penetapan Angka Kredit Jabatan Fungsional Guru
5. Pembebasan Sementara dan Pemberhentian Dalam Jabatan Fungsional Guru
III. PENJELASAN
1. TUGAS POKOK FUNGSIONAL GURU
a) Menyusun Program Pengajaran dan Program Bimbingan Pengajaran
b) Menyajikan Program Pengajaran dan Melaksanakan Bimbingan
c) Evaluasi Belajar dan Evalusi Pelaksana Bimbingan
d) Analisis Hasil Evaluasi Belajar dan Analisis Pelaksanaan Bimbingan
e) Menyusun Program Perbaikan dan Program Bimbingan Pengayaan terhadap Peserta didik yang menjadi tanggung jawabnya.
2. PERSYARATAN PENGANGKATAN JABATAN FUNGSIONAL GURU
A. Syarat � syarat Pengangkatan Jabatan Fungsional Guru Pertama Kali :
a. Pendidikan Minimum DIII/ Sarjana Muda, dalam bidang yang sesuai dengan kualifikasi pendidikan yang ditentukan
b. Pangkat Minimal Penata, golongan ruang III/c
c. DP3 tahun terakhir setiap unsur bernilai baik
d. Umur Maksimum 51 tahun
e. Pengangkatan dalam Jabatan Guru didasarkan pada besarnya Angka Kredit yang ditetapkan oleh TIM Penilai
f. Untuk menghitung Angka Kredit perlu dilampirkan bukti-bukti sebagai berikut :
a. Ijazah Pendidikan terakhir
b. Ijazah Diklat Kedinasan
c. Surat Pernyataan melakukan kegiatan proses belajar mengajar/bimbingan
d. Surat Pernyataan melakukan kegiatan pengembangan profesi
e. Surat Pernyataan melakukan kegiatan penunjang proses belajar mengajar atau bimbingan
g. Penetapan Angka Kredit oleh pejabat yang berwenang
a. Bagi Guru setaraf golongan ruang IV/a keatas oleh Menteri P & K
b. Bagi Guru setaraf golongan ruang III/d kebawah oleh Kepala Pusdiklat
c . Surat Keputusan Pangkat terakhir.
B. Pegawai Negeri Sipil yang pindah dari Jabatan lain diluar Jabatan Guru dan belum pernah menjadi guru
menjadi guru ke Jabatan Fungsional guru harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :
1. Berijazah serendah-rendahnya Sarjana sesuai dengan kualifikasi pendidikan yang telah ditentukan
2. DP3 setiap unsur bernilai baik dalam Tahun terakhir
3. Mempunyai Pengalaman mengajar sekurang-kurangnya 1 ( satu ) tahun
4. Usia minimum 51 Tahun
5. Pengangkatan ke dalam Jabatan guru disesuaikan dengan angka kredit yang dimilki dan telah ditetapkan oleh pejabat yang berwenang.
3. KENAIKAN PANGKAT JABATAN FUNGSIONAL GURU
A. Kenaikan Pangkat
1. Sesuai dengan Prosedur kenaikan pangkat dengan melampirkan Penetapan Angka Kredit
2. Telah 2 ( dua ) tahun dan 3 ( tiga ) tahun dalam pangkat yang dimilikinya
3. DP3 setiap unsur bernilai baik dalam 2 ( dua ) tahun terakhir
4. Telah memenuhi Jumlah Angka Kredit minimal yang disyaratkan untuk kenaikan pangkat setingkat lebih tinggi
5. Tidak dapat diberikan kenaikan pangkat reguler
6. Dapat naik pangkat setiap 2 ( dua ) tahun sekali sepanjang angka kredit terpenuhi dan tidak melampaui 2 ( dua ) tingkat kenaikan pangkat.
7. Surat Keputusan Jabatan terakhir dan Surat Keputusan Pangkat terakhir
8. P ang kat tertinggi Pembina Utama, golongan ruang IV/e dan dapat melebihi Pangkat atasannya
B. Kenaikan Jabatan Fungsional Guru
1. Adanya Penetapan Angka Kredit oleh Pejabat yang berwenang
2. Surat Keputusan Pangkat Terakhir
3. Surat Keputusan Jabatan Terakhir
4. Diberikan setelah adanya Kenaikan Pangkat
5. Dapat diberikan kenaikan Jabatan setiap tahun sepanjang memenuhi Angka kredit yang dipenuhi
6. Tela h Melaksanakan Proses Belajar Mengajar sekurang-kurangnya 3 ( tiga ) Catur Wulan
C. Jenjang Jabatan dan Pangkat Jabatan Fungsional Guru dari yang terendah sampai dengan yang tertinggi sebagai berikut :
1. Guru Pratama Pangkat Pengatur Muda golongan ruang II/a
2. Guru Pratama Tingkat I Pangkat Pengatur Tingkat I golongan ruang II/b
3. Guru Muda Pangkat Pengatur golongan ruang II/c
4. Guru Muda Tingkat I Pangkat Pengatur Tingkat I golongan ruang II/d
5. Guru Madya Pangkat Penata Muda golongan ruang III/a
6. Guru Madya Tingkat I Pangkat Penata Muda Tingkat I golongan ruang III/b
7. Guru Dewasa Pangkat Penata golongan ruang III/c
8. Guru Dewasa Tingkat I Pangkat Penata Tingkat I golongan ruang III/d
9. Guru Pembina Pangkat Pembina golongan ruang IV/a
10. Guru Pembina Tingkat I Pangkat Pembina Tingkat I golongan ruang IV/b
11. Guru Utama Muda Pangkat Pembina Utama Muda golongan ruang IV/c
12. Guru Utama Muda Tingkat I Pangkat Pembina Utama Madya golongan ruang IV/d
13. Guru Utama Pangkat Pembina Utama golongan ruang IV/e
4. PENETAPAN ANGKA KREDIT JABATAN FUNGSIONAL GURU
1. Penetapan Angka Kredit dilakukan apabila Jumlah Angka Kredit telah memenuhi untuk naik Jabatan /Pangkat satu tingkat lebih tinggi
2. Setiap Guru melakukan Penilaian Prestasi Kerjanya sendiri sesuai dengan butir kegiatan yang dilakukan
3. Hasil Penilaian diisikan ke dalam formulir daftar unsur Penetapan Angka Kredit
4. Daftar usul Penetapan Angka Kredit berikut bukti-bukti dan lampirannya disampaikan kepala Pusdiklat Pegawai
5. Daftar Usul Penetapan Angka Kredit ma0...sing-masing disampaikan kepada Sekretaris TIM Penilai Unit Kerja untuk diteliti kelengkapan dan kebenaran, lampirkan bukti-bukti penilaiannya
6. Dilakukan Penelitian dan Penilaian pendahuluan oleh anggota Tim Penilai Unit Kerja
7. Sidang TIM Penilai yang telah disetujui dalam sidang TIM Penilai dituangkan ke dalam Formulir Penetapan Angka Kredit.
8. Hasil Penelitian dan Penilaian yang telah disetujui dalam sidang TIM Penilai dituangkan ke dalam Formulir Penetapan Angka Kredit
9. Hasil Penelitian dan Penilaian angka Kredit yang telah dituangkan dalam Formulir Penetapan Angka Kredit untuk :
1) Guru yang setaraf dengan Golongan ruang III/d kebawah melalui Sekretariat TIM Penilai unit disampaikan kepada Pusdiklat untuk ditetapkan Angka Kreditnya.
2) Guru yang setaraf dengan golongan IV/a keatas dengan Surat Kepala Pusdiklat diusulkan Ke TIM Penilai Pusat dalam hal ini Menteri Pendidikan dan Kebudayaan untuk ditetapkan Angka Kreditnya.
5. PEMBEBASAN SEMENTARA DAN PEMBERHENTIAN DALAM JABATAN FUNGSIONAL GURU
A. Pembebasan Sementara Jabatan Fungsional Guru dibebaskan Sementara Apabila :
a). Dalam 6 (enam) tahun sejak diangkat dalam Jabatan terakhir tidak dapat mengumpulkan angka kredit minimal yang disyaratkan untuk kenaikan Pangkat/Jabatan bagi guru Utama Madya Ke bawah
b). Setiap 2 (dua) tahun sejak menduduki Jabatan Guru Utama tidak dapat mengumpulkan Jumlah Angka Kredit sekurang-kurangnya 40 (empat puluh) dari kegiatan proses belajar mengajar atau Bimbingan dan Pengembangan Profesi
c). Dijatuhi Hukuman Disiplin Tingkat Sedang atau berat
d). Diberhentikan sementara sebagai Pegawai Negeri Sipil
e). Ditugaskan diluar Jabatan Guru , sehingga tidak dapat lagi melaksanakan proses mengajar secara penuh.
f). Tugas belajar selama 6 ( enam ) bulan
g). Cuti diluar tanggungan Negara , kecuali untuk persalinan anak keempat dan seterusnya.
h). Guru selama dibebaskan sementara berupa penurunan pangkat /pemberhentian sementara dari jabatan dapat tetap melaksanakan tugas pokoknya akan tetapi tidak diberikan angka kredit.
B. Pemberhentian Dari Jabatan Fungsional Guru.
a). Guru Utama Madya ke bawah diberhentikan dari Jabatannya, apabila Jangka waktu 3 ( tiga ) tahun sejak dibebaskan sementara menurut ketentuan yang berlaku tanpa alasan yang sah tidak dapat mengumpulkan angka kredit untuk kenaikan Jabatan/Pangkat.
b). Guru Utama diberhentikan dari Jabatannya
c). Apabila dalam jangka waktu (satu) tahun sejak dibebaskan sementara menurut ketentuan yang berlaku tanpa alasan yang sah tidak dapat mengumpulkan angka kredit sekurang-kurangnya 40 ( empat puluh ) dari proses belajar mengajar atau bimbingan
d). Guru diberhentikan dari Jabatannya apabila dijatuhi hukuman disiplin Pegawai Negeri Sipil dengan Tingkat Hukuman disiplin berat dan telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap, kecuali penurunan pangkat.
Sumber :
http://ropeg.kemenperin.go.id/informasi.php?id=10
Selasa, 07 Juni 2016
Karena Sesungguhnya Apa yang Kita Takutkan adalah Hal-Hal yang Kita Harapkan
Dalam beberapa hal, ketakutan dan pengharapan itu beda-beda tipis. Bagaimana bisa? Entahlah. Jika diingat-ingat kembali, ada beberapa hal dalam hidup kita, sebuah pengharapan, tapi saat hari dimana pengharapan itu tiba, ada rasa cemas, takut, terlebih khawatir yang juga ikutan hadir.
Dimulai dari hal sederhana, pengumuman hasil Ujian Nasional pertama dalam hidup kita, saat sekolah dasar. Begitu dinanti, tapi tak jarang, bisa dibilang selalu ada rasa takut dan cemas di setiap detik menjelang. Saya akan menuliskan pengharapan-pengharapan yang secara tidak langsung juga membawa ketakutan yang besar untuk saya sendiri (mungkin sebagian besar orang juga merasakan hal yang sama).
A. Ketika salah satu mimpi terbesar dalam hidup saya terwujud.
Jika dipikirkan secara cepat, mungkin yang terlintas hanya kebahagian. Bagaimana tidak, mimpi terbesar sudah pasti membutuhkan pengorbanan yang besar juga, entah dari segi materi, tenaga, atau pikiran sekalipun. Sungguh sangat wajar kata “bahagia” muncul pertama kali. Namun, jika dipikirkan secara mendalam, segala sesuatu di dunia ini selalu berbanding lurus, mungkin ini disebut sebagai hukum alam.
Di saat memiliki mimpi yang besar, maka perjuangan yang besar juga dibutuhkan. Disaat mimpi itu terwujud, perlu disadari bahwa ini merupakan pintu baru dimana kita memulai kehidupan baru dengan perjuangan yang lebih besar lagi dari sebelumnya. Itu benar dan saya yakin.
B. Hari dimana saya bertemu jodoh.
Senyum-senyum gemes gimana gitu ya? Jodoh, salah satu pengharapan, tidak ada satupun orang di dunia ini yang tidak berharap bertemu dengan jodoh. Tapi sekali lagi pengharapan satu ini juga menyelipkan ketakutan tersendiri bagi saya (bukan berarti saya berharap tidak bertemu dengan jodoh saya kelak).
Ketakutan yang muncul bukan dalam hal-hal klasik seperti, “jodoh saya tidak rupawan”, “jodoh saya tidak kaya raya”, atau “jodoh saya bukan bintang instagr*m”. Ketakutan saya lebih terhadap “Kecocokan”. “Kecocokan” yang saya maksud adalah ke-pantas-an. Pantaskah saya untuk dia?
Saya tidak takut jika pada saat bertemu nanti dia dalam kondisi yang belum pantas untuk saya, karena saya yakin, jodoh saya adalah orang yang akan terus berjuang memantaskan dirinya untuk saya. Lha saya? Saya takut kalau saya bukan orang yang akan berjuang lebih memantaskan diri untuknya, terlebih jika dia menerima saya apa adanya.
C. Saat kerinduan satu persatu dipertemukan.
Kerinduan disini lebih bersifat general, tidak melulu soal kekasih, bisa jadi terhadap teman, keluarga, bahkan sebuah kesempatan. Saya selalu berharap berbagai kerinduan ini saling bertemu disaat yang tepat. Satu hal yang selalu dilupakan, terkesan lebih diabaikan, bahwa setiap kerinduan yang bertemu akan memunculkan kerinduan-kerinduan lain yang lebih besar.
Berpikir untuk mundur terhadap ketakutan itu? Tentu tidak, karena dibalik ketakutan itu ada pengharapan yang sudah lama saya inginkan. Tunggu dulu, ataukah ketakutan yang menyembunyikan berbagai pengharapan baru yang harus diperjuangkan?
Senin, 06 Juni 2016
Mulutmu harimau-mu atau jaga ceplas-ceplosmu
Niatnya sih jujur, tapi jadinya malah frontal dan menyakiti orang lain dengan tidak sengaja. Kata-kata yang kamu anggap biasa diartikan sebaliknya oleh orang lain karena cara setiap orang menangkap memang beda. Kamu mungkin nggak tahu, kadang teman-temanmu sampai menghela nafas panjang dan berkata “Ya ampun begitu amat, udah dong!”. Temen yang geregetan sekaligus sebel sama kamu bisa jadi dampak terbesar dalam pertemanan kalau kamu terlalu ceplas-ceplos.
Bagaimanapun kamu harus sadar bahwa ini tak baik bila diteruskan. Kamu sudah dewasa dan harus mulai bisa memilah mana yang harus kamu ungkapkan dengan gamblang dan mana yang sebaiknya tetap kamu simpan dalam diam. Karena tak semua hal harus diungkapkan dengan sejujur-jujurnya.
Kita bangsa Timur menjunjung tinggi harmonisasi dengan lingkungan sekitar. Membesarkan hati orang lain demi terciptanya kerukunan juga akan menguntungkan untukmu kok. Awalnya mungkin sulit, tapi kamu bisa kok mencoba mengurangi kefrontalanmu, sedikit berbagi saja guys. Lakukan dua hal sederhana dibawah ini :
1. Luapkan ceplas-ceplosmu dalam tulisan, agar hati orang lain tetap terjaga dan terkesan
Pada dasarnya kamu memang punya banyak pemikiran spontan yang harus diluapkan. Mengontrol ceplas-ceplosmu itu mungkin akan terasa jadi beban bagimu karena kamu harus memendamnya. Siasati hal ini dengan menumpahkannya lewat tulisan. Ketika menulis, uneg-unegmu tetap akan tersampaikan.
Kata-kata tertulis juga bisa diedit. Jadi jika kamu sudah selesai dan merasa ada yang salah, kamu masih bisa memperbaikinya. Berbeda dengan kata-kata yang diucapkan lisan, begitu kamu mengucapkan hal yang salah dan sudah terlanjur didengar orang, menariknya kembali tentu tidak mudah.
2. Cobalah berteman dengan mereka yang introvert atau pendiam, keinginanmu mendominasi pembicaraan lama-lama pasti redam
Introvert bukan penyakit menular, tapi berteman dengan orang introvert akan membuatmu tidak terlalu banyak bicara karena lawan bicaramu memang tidak suka bicara. Kamu hanya bisa bicara hal-hal yang penting saja dengan mereka. Kamu juga tidak mungkin seenaknya ceplas-ceplos karena kamu bahkan tidak akan punya kesempatan untuk memulainya.
Menjadi diri sendiri memang harus, tapi ketika kepribadianmu itu menyakiti orang lain tidak ada salahnya jika kamu berubah. Mengubah diri demi kebaikan bukanlah suatu masalah. Pepatah yang mengatakan bahwa diam itu emas bukan ? Memang ada waktu-waktu tertentu dimana kamu lebih baik diam.
Karena semua orang akan jenuh pada waktunya
Harusnya sih, enggak mengejutkan waktu kamu nantinya bakalan menyadari kalau kamu sama si pacar ternyata lebih cocok buat jadi temen aja. Cuman karena kalian berdua punya selera yang sama dan bisa dengan mudah ngobrol panjang, bukan berarti si dia adalah jawaban atas segala doa-doamu waktu masih jomblo, guys.
Nah, gimana caranya tahu kalau si dia ternyata lebih cocok buat jadi temen aja? Sebenarnya, tanda-tandanya bisa jadi sudah kelihatan dari sekarang, tapi kamunya yang enggak sadar aja tuh. Nah, berikut ini Hipwee bantu kamu untuk mengenali beberapa tanda-tandanya biar kamu punya cukup waktu sebelum semuanya terlambat dan kamu terlanjur makan ati berkepanjangan.
A. Saat kamu selalu ngerasa enggak nyaman tiap mau ketemuan sama si pacar atau gebetan dan selalu kepikiran buat ngajak temen.
Duh, ini sih udah pertanda yang jelas banget. Kamu kan pacaran sama si dia, kok malah kayak ogah-ogahan gitu tiap mau janjian buat kencan? Kalau kalian berdua selalu punya kecenderungan untuk menjadikan momen nge-date menjadi kumpul-kumpul sama temen, ini adalah sinyal yang jelas kalau kalian berdua kayanya jadi temen aja, deh. Memang enggak salah sih kalau sesekali kalian kencan sambil ngumpul sama temen, atau malah double date. Tapi ya itu: sesekali. Kalau keseringan sih, pasti ada yang enggak beres.
B. Pas ketemu temen dan ditanya tentang kabar pacaran kalian, jawabanmu super singkat dan kamu merasa ragu sama jawabanmu sendiri.
Lumrah banget buat teman-temanmu untuk tanya kabar si pacar tiap kalian ngumpul. Kalau jawaban kamu kira-kira kayak begini: Oh, dia? Umm baik-baik aja, kok, itu biasanya malah pertanda kalau ada sesuatu yang enggak beres dalam hubungan kalian. Kesannya kayak kamu mau membuat keadaan kalian terdengar baik-baik saja, padahal kamu sengiri ngerasa enggak yakin waktu ngejawab pertanyaan temenmu. Dan hal itu umumnya adalah pertanda kalau yang terjadi malah kebalikannya.
C. Hubungan emang udah berjalan lama, tapi sayangnya rencanamu di masa depan berbeda arah dengan rencana si pacar.
Orang yang kelihatannya paling cocok buat kita bisa jadi orang yang salah. Percaya, deh, hal itu enggak sepenuhnya mitos. Namanya juga manusia, masing-masing sudah punya rencana sendiri buat masa depan. Nyatanya, dalam sebuah hubungan, hal-hal teknis dan enggak terdengar romantis sama sekali macem begini justru bakalan jadi yang paling sering kita temukan.
Enggak ada salahnya buat kalian berdiskusi soal rencana masa depan masing-masing. Ketika jalan yang mau kalian pilih berbeda, coba berkompromi. Menjadi teman nggak berarti putus hubungan. Justru, ada beberapa hal yang justru mungkin ketika kalian malah temenan, tapi jadi berlebihan kalau kalian bersikeras untuk tetap pacaran. Misalnya, si pacar berencana ngambil kesempatan kerja di luar negeri. Sebagai temen, kamu bisa banget mendukung keputusan itu. Tapi, sebagai pacar, tentunya bakalan lebih susah nggak sih?
D. Kamu mulai membayangkan skenario kayak apa yang cocok untuk putus sama si pacar? Waduh. Ini sih, pertanda yang jelas banget!
Ini adalah salah satu tanda yang paling jelas kalau kalian enggak cocok pacaran. Seringnya kamu ngerasa kalau ada perasaan nggak nyaman yang timbul waktu kamu sendirian atau sedang sama si pacar. Lantas, kamu sering membayangkan apa yang harus kamu bilang ke pacar kalau kamu pengen putus.
Hal kayak begitu sebenernya adalah salah satu tanda kalau kamu sedang mempertimbangkan untuk bener-bener mengakhiri hubungan kalian. Dan enggak pernah ada yang namanya putus dengan gampang. Semua selalu ada prosesnya.
Seperti biasanya, kunci dalam sebuah hubungan adalah komunikasi. Ketika kalian berdua udah sama-sama dewasa, coba diskusikan soal ini dengan baik-baik dan kepala dingin. Sebab, memang bener kalau dalam beberapa kasus, akan lebih baik jika kalian jadi temen aja. Justru, dengan memutuskan untuk jadi temen aja dibandingkan jadi pacar, kamu menunjukkan kalau kamu punya rasa respek terhadap si dia dan kamu menghargai kehadirannya enggak cuman sebatas dalam hubungan asmara.
Survei Terbaru : Tingkat Literasi Indonesia di Dunia Rendah
Indonesia menempati ranking ke 62 dari 70 negara berkaitan dengan tingkat literasi, atau berada 10 negara terbawah yang memiliki tingkat li...
-
Indonesia menempati ranking ke 62 dari 70 negara berkaitan dengan tingkat literasi, atau berada 10 negara terbawah yang memiliki tingkat li...
-
Sebelumnya kabinet trisakti ini pernah digunakan oleh soekarno, namun gagal. Apakah pemerintahan baru jokowi-jk bisa menerapkannya! Padahal ...